Gangguan Pemrosesan Sensori

March 3, 2017

Apakah putra-putri ayah – ibu : Kerap risih dengan label baju dan meminta ayah-ibu untuk mengguntingnya? Menolak untuk masuk ke suatu lingkungan karena tidak menyukai baunya? Atau tidak suka, bahkan menolak untuk sikat gigi?

Waktu sekolah dulu, kita dikenalkan dengan istilah panca indera, yang terdiri dari indera penglihatan, indera penciuman, indera pendengaran, dan indera peraba. Namun ternyata, indera yang dimiliki manusia itu ada tujuh. Lima indera diatas mendapat rangsangan dari ekternal, sedangkan dua indera lainnya mendapat rangsangan dari internal. Dua indera yang dimaksud adalah indera vestibular  dan indera proprioseptif.

Dengan kerjasama  antar indera, atau dikenal dengan  istilah sensori integrasi, kita bisa memahami apa yang terjadi dilingkungan dan berinteraksi dengan baik. Misalnya, ketika bermain bulu tangkis, anak memerlukan  indera propioseptifnya untuk bekerja, memberikan informasi bagaimana posisi tubuhnya berdiri dan posisi tangan yang menggengam raket. Anak juga memerlukan indera perabanya untuk dapat memegang dan menggerakan raket secara tepat. Indera penglihatannya dibutuhkan untuk membantu anak melihat dimana posisi kok. Indera vestibularnya bekerja untuk membantu anak berdiri tegak dan menjaga keseimbangan ketika anak perlu meloncat  dan berlari.

Sensori integrasi adalah dasar dari perkembangan berbagai ketrampilan lainnya. Bila sensori integrasi ini tidak berkembang secara matang, maka proses belajar berikutnya pun akan terhambat. Misalnya, sulit bagi anak untuk dapat berkonsentrasi belajar jika ia masih terganggu dengan  gesekan  label baju.

SPD (Sensory Processing Disorder) atau Gangguan Pemrosesan Sensori, sebelumnya dikenal dengan  Disfungsi Integrasi Sensorik adalah suatu kondisi yang disebabkan ketika sinyal sensorik diterima tetapi  tidak ditafsirkan secara normal oleh system saraf. Anak dengan gangguan pemrosesan sensori kesulitan  untuk dapat  mengolah informasi dari ketujuh indera tersebut. Bagi mereka, informasi yang diterima tersebut diproses di dalam otak dengan  cara yang tidak biasa, sehingga menimbulkan kebingungan dan pada akhirnya tertampil menjadi perilaku yang berbeda dibandingkan perilaku anak- anak lain seusianya.

Masalah sensori dapat dialami oleh siapa saja, bahkan orang dewasa pun masih bisa mengalaminya. Masalah ini baru dapat dikatakan sebagai gangguan, ketika dampaknya berlarut-larut dan sampai menganggu fungsi keseharian.

Anak dengan gangguan sensoris umumnya menunjukkan gejala-gejala perilaku berikut : 

  • Terlalu peka atau kurang peka terhadap sentuhan, cahaya, suara, rasa, bau dan dan pergerakan.
  • Perhatiannya mudah teralihkan.
  • Sangat aktif bergerak atau sebaliknya sangat minim aktivitas fisik.
  • Ketrampilan motorik yang kurang baik seperti ceroboh, sering menabrak  atau menendang sesuatu  saat berjalan, tulisan tangan  kurang bagus.
  • Penolakan saat rutinitas perawatan diri seperti menyisir, menggunting kuku.
  • Tidak suka bersentuhan dengan orang lain, sehingga menyulitkan anak saat harus berdekatan dengan orang lain, seperti  antri.
  • Sulit memperkirakan tekanan sehingga terlihat  seperti mudah merusakkan barang. Mainan mudah rusak, terlihat mendorong teman padahal maksudnya menyapa/menyentuh.

Anak-anak dengan SPD bisa jadi hipersensitif (bereaksi berlebihan pada stimulasi sensorik) atau hiposensitif (kurang responsive pada rangsangan), atau keduanya. Setiap anak berbeda-beda, beberapa akan bereaksi campur aduk, beberapa akan bereaksi berlebihan hanya pada suatu hal.

Umumnya masalah sensori bisa diatasi melalui terapi sensori integrasi atau permainan sensori yang berulang. Permainan sensori pun perlu dilakukan untuk stimulasi agar perkembangan anak lebih optimal, tidak harus menunggu adanya masalah. Disinilah peran orang tua menjadi sangat  penting  untuk menyiapkan dan mendampingi anak saat bermain di rumah.

Beberapa contoh permainan sensori yang dapat dilakukan di rumah:

  1. Campur-campur  warna. Ajak anak untuk dapat mengamati proses dari air kemudian menjadi berwarna saat diberi zat pewarna.
  1. Suara apa itu? Ayah ibu bisa mengajak anak untuk menutup mata lalu memperdengarkan bunyi- bunyian dan meminta  ananda untuk menebak bunyi apakah itu.
  1. Bermain rasa. Siapkan beberapa jenis makanan  bubuk kayu manis. Minta anak menutup mata dan mencoba dengan  ujung jarinya.
  1. Uap wangi. Sesekali ayah-ibu bisa mengajak anak untuk memasak dengan  wangi-wangi  tertentu seperti  kayu manis, serai, agar indera penciumannya dapat terstimulasi.
  1. Panas dingin. Mengenal konsep panas dan dingin akan lebih menyenangkan dengan  cara anak mengalami langsung bagaimana rasanya es batu di tangan  mungilnya.
  1. Menyeberangi  jembatan. Anak bisa berjalan  di titian, yang mudah untuk dicicipi seperti  gula, garam, atau balok untuk membantu menyeimbangkan tubuhnya ketika berjalan.
  1. Dadar. Bentangkan  selimut  dan minta anak berbaring  di dalamnya. Anak dapat  diminta berguling- guling di dalam selimut  seperti dadar gulung. Permainan  ini berguna  untuk membiasakan anak merasakan  tekanan  pada tubuhnya.

Bila orang tua masih memiliki kekhawatiran bahwa anak memiliki gangguan sensori, segera konsultasikan ke Instalasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang. ***

Oleh : Swastika Wulan Pahlevi, M. Psi – Psikolog Klinis RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang
Please follow and like us:
RSS
Facebook
Facebook
Instagram
Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment