Ajak Si Kecil Menghargai Orang Lain

August 11, 2017

Membangun kemampuan berinteraksi dan menghormati  orang lain tidak dapat dilakukan secara instan atau lewat nasehat semata.

Ukuran kecerdasan seorang anak, saat ini tidak hanya merujuk pada tingginya IQ (Intelligent Quotient) saja, namun perlu diimbangi dengan EQ (Emotional Quotient) dan SQ (Social Quotient) untuk bekalnya kelak. Bentuk riilnya adalah kemampuan berinteraksi dengan berbagai kalangan. Ini merupakan keterampilan sosial yang berperan penting mendorong anak untuk berempati, bekerja sama, dan saling menghormati. Semua kemampuan tadi akan sangat diperlukan saat si kecil remaja, dewasa, ketika ia bersekolah, masuk dalam dunia kerja dan lingkungan sosial.

Dan tentu saja, membangun kemampuan berinteraksi dan saling menghormati dengan orang lain tidak dapat dilakukan secara instan maupun dipelajari lewat nasihat semata. Setiap anak butuh dibimbing dan diajari cara bagaimana menghargai orang lain sejak kecil.

Pencipta The Total Transformation Program, Janet Lehman, MSW, mengingatkan bahwa si kecil adalah anak, bukan teman. Tugas orangtualah untuk mengajarinya agar berfungsi dalam kehidupan. Ini berarti dia harus bisa menghargai orang lain, bukan hanya ayah dan ibu sebagai orangtuanya.

Sementara Diane Maluso, Associate Professor of Psychology di Elmira College, juga enekankan pentingnya peran orangtua dalam mendidik anak. Anak-anak belajar tentang sikap orangtua terhadap orang lain dari cara orangtuanya berinteraksi dan dengan ungkapan-ungkapan yang dilontarkan mengenai orang lain. Lewat sikap serta bahasa yang digunakan orangtuanya terhadap orang lain, si kecil belajar tentang konsep diri dan relasinya dengan orang lain.

Sebagai orangtua, Anda biasanya menjadi model utama bagi si kecil. Dari orang-orang dewasa di sekitarnya ia belajar tentang arti dan sikap dalam menghadapi perbedaan. Jika orangtua memiliki hubungan baik serta menunjukkan rasa hormat pada orang yang berbeda baik secara fisik, gender, sosial maupun ekonomi, maka si kecil akan belajar bahwa semua perbedaan tersebut bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan. Namun jika orangtua justru kerap meremehkan atau berbicara dengan tidak sopan pada orang- orang tertentu, sangat mungkin si kecil akan melakukan hal yang sama.

Contoh paling sederhana, ingat-ingatlah cara memperlakukan pembantu rumah tangga dan sopir di rumah. Kalau Anda kerap berbicara dengan nada memerintah dan meremehkan, siap-siap saja mendengar hal yang sama keluar dari mulut si kecil.

Pada usia sekolah dasar, pemahaman anak akan status sosialnya serta teman-temannya juga makin meningkat. Itu akan mendorong terbentuknya sikap-sikap tertentu yang berkaitan dengan status sosialnya. Namun begitu, pada usia ini sikap egosentris anak- anak telah berkurang dibanding usia balita. Anak mulai mampu memfokuskan diri pada kualitas internal seperti kebaikan dan keburukan seseorang, dibandingkan perbedaan eksternal seperti perbedaan ras maupun kelas sosial. Cara mendidik anak yang tepat adalah memberikan penjelasan terhadap pertanyaan- pertanyaan mereka, dan melibatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan yang membuka ruang berinteraksi dengan berbagai kalangan.

Berikut beberapa tips mendidik anak agar mereka menghargai dan tidak membeda- bedakan:

  1. Beri kesempatan untuk mempelajari berbagai perbedaan, seperti berinteraksi dengan berbagai kalangan, dimulai dari lingkungan terdekat seperti teman-teman bermainnya, kerabat hingga kegiatan-kegiatan rekreasi.
  2. Pilih mainan, buku dan film yang merefleksikan berbagai jenis individu yang berbeda seperti usia, profesi, latar belakang sosial – ekonomi, suku bangsa dan lain-lain.
  3. Berikan kesempatan pada anak untuk bermain bersama teman-teman seusianya. Bermain adalah cara terbaik bagi anak-anak untuk belajar berinteraksi dan bekerjasama dengan orang lain.
  4. Segera ingatkan si kecil ketika ia berlaku kurang sopan. Lebih cepat ditangani akan lebih mudah meluruskannya. Bila si kecil berkata kasar misalnya, segeralah menegurnya dengan cara yang tidak merendahkannya. Bicarakan baik-baik kesalahannya, bukan dengan cara membentak atau nada marah apalagi membuatnya malu di depan orang lain. Bentakan dan kemarahan tak terkendali hanya akan membuat si kecil meniru sikap kasar kita dan semakin membandel.
  5. Ajari si kecil dasar berinteraksi sosial. Buatlah ia terbiasa mengatakan tiga kata ajaib: ‘tolong’, ‘permisi’ dan ‘terima kasih.’ Ia akan membentuk rasa empati dan memahami bagaimana efek kata-kata tersebut kepada orang lain.
  6. Kemampuan memahami apa yang dirasakan orang lain atau berempati adalah kemampuan yang penting dimiliki anak. Untuk menumbuhkannya, bantu si kecil mengungkapkan perasaaan dan dorong mereka untuk membayangkan perasaan orang lain. Dengan begitu, anak akan memahami bahwa seperti dirinya, orang lain juga senang bila diperlakukan dengan baik dan sedih bila diperlakukan tidak baik.
  7. Saat anak-anak semakin besar dan mengajukan pertanyaan tentang berbagai perbedaan yang ada, dukunglah dengan memberikan informasi yang sesuai dengan usia merek

Tapi perlu diingat, karena si kecil masih berproses, ini butuh ketelatenan Anda sebagai orangtua. Jadi bersabarlah untuk memetik hasil yang pasti akan membanggakan. *** (dari berbagai sumber)

Please follow and like us:
RSS
Facebook
Facebook
Instagram
Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment