Reformasi Birokrasi Butuh Agen Perubahan

August 22, 2017

MAGELANG – Sejumlah 95 orang pegawai yang telah terpilih menjadi agen perubahan (agent of change) dalam rangka pembangunan RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang sebagai zona integritas menuju wilayah bebas dari korupsi (WBK) & wilayah birokrasi bersih dan melayani (WBBM) mengikuti pembekalan tahap kedua pada hari Senin (21/8) dan selasa (22/8) bertempat di Gedung Aula Diklat RSJS Magelang.

Pembekalan yang menghadirkan seorang motivator dari Universitas Gajah Mada dan pejabat terkait dilingkungan RSJS Magelang sebagai narasumber ini diberikan sebagai refresh atas pembekalan tahap pertama serta sebagai panduan dalam merencanakan, memantau dan mengevaluasi kegiatan yang nantinya akan dijalankan oleh 95 orang Agent of Change tersebut

Berbeda dengan pembekalan tahap pertama, Agent of change ini pada pembekalan kedua ini diberikan pengetahuan dasar bagaimana cara mempengaruhi orang lain dengan komunikasi efektif. Dengan kemampuan dasar inilah diharapkan dapat menyebarkan virus kebaikan sehingga komitmen seluruh jajaran pimpinan dan pegawai RSJS Magelang dalam membangun Zona Integritas menuju WBK – WBBM semakin meningkat. Tak hanya itu, di hari kedua para agen perubahan ini juga berkesempatan menyusun program kerja dan rencana tindak lanjut AOC. Dengan program kerja inilah mereka akan melaksanakan tugasnya sebagai agen perubahan sesuai dengan rencana tindak lanjut seperti yang telah mereka buat dan sepakati bersama.

Dalam sambutannya, Direktur utama RSJS Magelang dr. Endang Widyaswati, M.Kes mengatakan bahwa komitmen merupakan faktor utama dalam menjalankan tugas sebagai agen perubahan. “ Komitmen harus menuju pada satu titik dimana pada titik itu kita harus bersama – sama“ ungkapnya. “ Saya tidak bosan – bosannya mengatakan kepada kepala unit kerja ditempat bapak – ibu bertugas untuk membantu melaksanakan tugas ini “ imbuhnya.

Dibentuknya agen perubahan ini disamping sebagai salah satu langkah menuju WBK – WBBM juga merupakan bagian usaha dari reformasi birokrasi. Reformasi birokrasi pada hakikatnya adalah perubahan besar dalam paradigma dan tata kelola pemerintahan untuk menciptakan birokrasi pemerintah yang profesional dengan karakteristik adaptif, berintegritas, bersih dari perilaku korupsi kolusi dan nepotisme, mampu melayani publik secara akuntabel, serta memegang teguh nilai-nilai dasar organisasi dan kode etik perilaku aparatur negara. Dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut maka ada delapan area penting manajemen pemerintahan yang perlu dilakukan perubahan secara sungguh-sungguh dan berkelanjutan. Salah satu area penting perubahan tersebut adalah perubahan mindset (pola pikir) dan culture set (budaya kerja).

Perubahan pola pikir dan budaya kerja birokrasi ditujukan untuk mewujudkan peningkatan integritas dan kinerja birokrasi yang tinggi. Makna integritas adalah individu anggota organisasi yang mengutamakan perilaku terpuji, tidak koruptif, disiplin dan penuh pengabdian sehingga dapat mendorong terwujudnya penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas dari praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme. Sedangkan makna kinerja tinggi adalah individu anggota organisasi yang memiliki etos kerja yang tinggi, bekerja secara profesional dan mampu mencapai target-target kinerja yang ditetapkan sehingga mampu mendorong terwujudnya pencapaian target-target kinerja organisasi yang telah ditetapkan.

Salah satu faktor penting dalam hal perubahan pola pikir dan budaya kerja di lingkungan suatu organisasi adalah adanya keteladanan berperilaku yang nyata dari pimpinan dan individu anggota organisasi. Pimpinan organisasi mempunyai lingkar pengaruh yang luas, sehingga perilaku pimpinan akan menjadi contoh bagi para bawahan untuk berkerja dan berperilaku. Perilaku pimpinan yang sesuai dengan nilai-nilai yang dianut organisasi akan memudahkan usaha untuk mengubah perilaku bawahannya. Selain unsur pimpinan, untuk mempercepat perubahan kepada seluruh individu anggota organisasi, sangat diperlukan beberapa individu untuk menjadi unsur penggerak utama perubahan yang sekaligus dapat menjadi contoh dalam berperilaku bagi seluruh individu anggota organisasi yang ada di lingkungan organisasinya.

Sehubungan dengan hal tersebut, diperlukan individu atau kelompok anggota organisasi dari tingkat pimpinan sampai dengan pegawai untuk dapat menggerakkan perubahan pada lingkungan kerjanya dan sekaligus dapat berperan sebagai teladan (role model) bagi setiap individu organisasi yang lain dalam berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang dianut organisasi. Individu atau kelompok anggota ini disebut dengan Agen Perubahan (Agent of Change/AOC). Individu yang ditunjuk sebagai Agen Perubahan (Agent of Change/AOC) bertanggung jawab untuk selalu mempromosikan dan menjalankan keteladanan mengenai peran tertentu yang berhubungan dengan pelaksanaan peran, tugas dan fungsi yang menjadi tanggung jawabnya. (why)

Subbag Hukum, Organisasi & Humas
RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang
Telp : 0293 363601, 363602 ekstensi 133
Fax : 0293 365183
Email : [email protected]
Website : www.rsjsoerojo.co.id

 

Please follow and like us:
RSS
Facebook
Facebook
Instagram
Posted in Blog, Event by Administrator RSJS

Leave a Comment