Penatalaksanaan Kesulitan Menelan (Disphagia)

October 6, 2017

Keluarga panik melihat anggota keluarganya muntah setelah diberikan makanan atau minuman, itu reaksi  yang sering kita alami  sebagai perawat ketika  merawat klien dengan stroke. Kesulitan menelan atau Disfagia merupakan komplikasi yang sering pada stroke  akut. Pada  stroke  akut, disfagia ditemukan 50,0% dari pasien stroke. Gejala  disfagia kebanyakan muncul  pada minggu pertama sampai 1 bulan  onset  dan menetap sampai 6 bulan  pada sebagian kecil pasien.  Disfagia berhubungan dengan tingginya komplikasi respiratory dan meningkatnya aspirasi pneumonia, dehidrasi, dan gangguan nutrisi.

Dari pathway di samping,  dapat disimpulkan bahwa masalah keperawatan Gangguan atau Kerusakan Menelan (Impaired  Swallowing) merupakan penyebab atau akar masalah. Sehingga intervensi yang tepat akan menghentikan proses timbulnya masalah- masalah yang lain.

Pengkajian

Persepsi dan pemeliharaan kesehatan untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien dan keluarga terhadap penatalaksanaan stroke secara umum, khususnya gangguan menelan. Hal-hal  yang perlu  ditanyakan antara lain :

  • Pola makan dan minum sehari-hari sebelum sakit apakah ada  gangguan sebelumnya? Apakah memakai NGT atau PEG tube.
  • Pola makan dan minum sekarang, esesmen menelan dilakukan sedini mungkin sebelum klien mendapatkan pemasukan oral.
  • Pada gangguan menelan, pengkajian pola eliminasi ini digunakan untuk menggambarkan kecukupan pemenuhan kebutuhan nutrisi dan cairan sebelumnya.
  • Pada aktifitas  makan sehari-hari sebelum sakit apakah dilakukan sendiri (mandiri) atau dibantu oleh orang  lain (disuapi), dengan kriteria Nilai : 0=> mandiri, 1=> alat  bantu, 2=> dibantu orang  lain, 3=> dibantu orang lain dan alat, 4=> tergantung total.
  • Adakah  gangguan pengecapan dan gangguan sensasi rasa dalam makan.

Pada  pemeriksaan fisik selain  yang secara umum dilakukan, yaitu tingkat kesadaran kualitatif atau kuantitatif (GCS), vital sign, dan anthopometri, secara khusus untuk gangguan menelan adalah pada daerah rongga mulut dan leher :

  • Amati kesimetrisan bibir, dalam posisi tertutup, menyeringai (mringis), dan posisi mulut terbuka kemudian amati keadaan gigi.
  • Amati posisi ovula (anak langitan) apakah simetris.
  • Amati gerakan lidah sesuai  intruksi: dijulurkan, digerakkan ke kiri dan kanan,  atas  dan bawah dan suruh klien untuk bicara kata  yang mengandung huruf “r”.
  • Amati adakah lesi pada rongga mulut, sisa-sisa makanan yang tidak menempel pada gigi yang tertinggal, atau dahak.
  • Lakukan asesmen menelan sederhana dengan memberikan air dengan sendok teh, apakah batuk?  Kalau tidak, minta  klien untuk untuk bicara “aaaah”, amati adakah batuk, apakah suara menjadi parau atau beriak  (gurgling). Ulangi 3-4 kali. Jika tidak ditemukan gangguan menelan, minta  klien untuk minum dengan gelas
    50-150 cc, amati adakah batuk (tersedak), suara menjadi parau atau beriak.
  • Inspeksi dan palpasi pada daerah leher: kesimetrisan, pergerakan glotis saat  menelan ludah.

Intervensi Keperawatan

Diagnosa Keperawatan : Gangguan menelan berhubungan dengan kelemahan atau kelumpuhan otot-otot yang terlibat dalam proses menelan pada satu atau kedua sisi yang tekena serta refleks menelan berkurang.

NOC : Perbaikan Status Menelan : Pada  Fase esophagus, fase orongeal, fase pharingial.

Kriteria Hasil :

  • Menunjukkan keadaan menelan yang efektif tanpa tersedak atau batuk.
  • Bebas dari aspirasi (suara paru yang jelas, vital sign normal,  suara nafas  gurgling/ronchi)

Intervensi :

Kewaspadaan aspirasi

  • Tentukan kesiapan klien untuk makan.  Klien dalam keadaan sadar (waspada), mampu mengikuti instruksi, kepala tegak,  dan mampu menggerakkan lidah dalam mulut. Jika salah satu faktor  yang hilang, mungkin disarankan untuk tidak memberikan makan melalui mulut terlebih dahulu dan menggunakan makanan enteral melalui NGT untuk makanan.
  • Amati tanda-tanda yang berhubungan dengan masalah menelan (misalnya, batuk, tersedak, meludah atau mengeluarkan sisa makanan/ air liur, kesulitan menangani sekresi  oral, dua kali menelan atau penundaan besar dalam menelan, mata berair, , suara basah atau gurgly, penurunan kemampuan untuk menggerakkan lidah dan bibir, penurunan pengunyahan makanan, penurunan kemampuan untuk memindahkan makanan ke belakang faring.
  • Periksa  rongga mulut klien untuk pengosongan tepat setelah menelan dan setelah makan selesai. Memberikan perawatan mulut di akhir makan.  Mungkin perlu  secara manual menghapus makanan dari mulut klien. Jika hal ini terjadi, gunakan sarung  tangan dan menjaga gigi klien terpisah dengan pisau lidah empuk. Makanan yang tidak tertelan akan  tertinggal di mulut, biasanya tertinggal pada sisi yang mengalami kelemahan dan dapat menyebabkan stomatitis, kerusakan gigi, dan kemungkinan aspirasi.

Pengelolaan Jalan  Nafas

  • Persiapkan peralatan hisap (section  pump) selama makan.  Jika tersedak terjadi dan suction  diperlukan. Penyedotan mungkin diperlukan jika klien tersedak makanan dan bias aspirasi.

Terapi menelan

  • Menilai kemampuan untuk menelan dengan posisi ibu jari pemeriksa dan jari telunjuk pada tonjolan laring klien. Minta klien untuk menelan, merasa laring mengangkat. Minta klien untuk batuk, uji untuk refleks muntah pada kedua sisi dinding faring posterior (permukaan lingual) dengan pisau lidah. Jangan mengandalkan kehadiran gag refleks untuk menentukan kapan harus memberi makan.  Biasanya waktu  yang dibutuhkan untuk bolus (makanan siap telan)  bergerak dari titik di mana refleks dipicu dan masuk ke esofagus (waktu transit faring) adalah 1 detik. Klien dengan cedera vaskuler cerebral dengan waktu  transit faring berkepanjangan (berkepanjangan menelan) memiliki kesempatan lebih sering terjadi pneumonia karena aspirasi.
  • Menerapkan langkah-langkah untuk meningkatkan kemampuan menelan :
  1. Tempat klien dalam posisi tinggi Fowler untuk makan dan makanan ringan, kepala dan leher  harus miring ke depan sedikit untuk memfasilitasi elevasi laring dan gerakan posterior lidah.
  2. Memberikan perawatan mulut sebelum makan (perawatan mulut merangsang kesadaran sensorik  dan air liur, yang memfasilitasi menelan).
  3. Membantu klien untuk memilih makanan yang memerlukan sedikit atau tidak mengunyah dan mudah ditelan (misalnya  puding, telur, buah  kaleng, kentang tumbuk,  bubur  saring).
  4. Menginstruksikan klien untuk menghindari makanan pencampuran tekstur yang berbeda di dalam mulutnya pada saat  yang sama.
  5. Menghindari melayani makanan yang lengket (selai kacang misalnya,  roti lembut, madu).
  6. Makanan yang cenderung berantakan di mulut (misalnya  kue, muffin) dan yang terdiri dari partikel-partikel kecil makanan (misalnya  beras, kacang polong,  jagung).
  7. Berikan makanan dalam keadaan lebih hangat atau lebih dingin dari suhu kamar (suhu lebih ekstrim  merangsang reseptor sensorik  dan refleks menelan).
  8. Penambahan zat pengental makanan (gelatin,  sereal bayi) untuk makanan yang terlalu cair.
  9. Membasahi makanan kering dengan saus atau soup (misalnya  saus gula merah, salad dressing, krim asam, soup kaldu).
  10. Menggunakan alat  bantu (misalnya sendok bergagang panjang) untuk menempatkan makanan yang tidak perlu  dikunyah (misalnya  gelatin, kentang tumbuk,  custard) di bagian belakang mulut di sisi terpengaruh jika gerakan lidah terganggu. Jangan menggunakan pipet  atau sedotan.
  11. Menginstruksikan klien untuk menghindari penempatan terlalu banyak makanan/ cairan di mulut pada satu waktu.
  12. Mendorong klien untuk berkonsentrasi pada tindakan menelan, memberikan isyarat  verbal  jika diperlukan.
  13. Jika klien mengalami penurunan kontrol bibir, menginstruksikan dia/ dia dengan lembut memegang bibir ditutup dengan jari setelah meletakkan makanan di mulut.
  14. Berkonsultasi dengan ahli patologi wicara  atau terapis tentang metode yang berhubungan dengan gangguan menelan; memperkuat latihan dan teknik yang disarankan. Contoh  alat yang digunakan adalah alat  Vital Stim yang merupakan salah satu alat hasil inovasi teknologi terkini dalam pelayanan Speech  Therapy  (terapi wicara) yang sudah berstandar FDA (Food and Drug Administration) yang menggunakan arus AC yaitu berupa gelombang berbentuk rectangular symetrical biphasic  dengan frekwensi 80 Hz. Alat terapi Vital Stim ini menggunakan stimulasi elektrik yang akan  membantu otot-otot tenggorokan untuk bisa berkontraksi dan relaksasi secara normal lagi. Keberhasilan alat  tersebut benar-benar membantu penderita stroke  yang tidak bisa menelan. Rasanya tidak sakit sama  sekali, hanya  seperti ada  yang menggelitik saja di tenggorokan.

Monitoring Nutrisi :

  • Evaluasi status gizi setiap hari : Monitor keadaan umum klien; Timbang BB jika memungkinkan; Observasi turgor; Cek Laboratorium : Hb, albumin,  elektrolit secara berkala. Jika tidak cukup gizi, kolaborasikan dengan tim gizi atau tenaga medis untuk peningkatan kualitas asupan nutrisi. Pemberian makanan enteral lewat tube dapat mempertahankan nutrisi jika klien tidak mampu menelan jumlah yang cukup dari makanan.

Oleh : Ns. Triyana

Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment