Bayi Sulit Makan MPASI (Makanan Pendamping ASI)

November 3, 2017

Banyak ibu menanti penuh harap ketika  bayi genap berumur 6 bulan  atau 180 hari, karena artinya bayi sudah siap untuk makan dan minum selain  ASI (MPASI = Makanan Pendamping ASI). Apalagi sudah sejak umur 4 bulan bayi suka sekali memasukkan semua benda ke dalam mulut mungilnya. Tiap kali melihat ayah atau ibu makan,  mata bayi terlihat kepengee..eenn banget, mulutnya mendadak ngeces (berliur) dan tak jarang merebut makanan atau sendok orang  yang sedang makan. Semua ini membuat ibu tidak sabar menanti waktu  bayi lulus ASI eksklusif di umur 6 bulan  dan boleh makan!

Alasan kenapa MPASI harus dimulai pada umur 6 bulan :

  • Kebutuhan nutrisi dan nafsu makan sudah tidak bisa dipenuhi sepenuhnya hanya  dari ASI (dan susu formula bagi bayi yang tidak disusui).
  • Cadangan nutrisi penting seperti zat besi sudah habis terpakai dan tidak bisa dipenuhi hanya dari ASI lagi.
  • Perkembangan sistema persarafan dan oro-motorik telah mulai meningkat dari hanya menghisap menjadi menggigit dan bahkan mengunyah.
  • Bayi juga telah mulai tumbuh gigi.
  • Kemampuan bayi mengontrol lidahnya sudah lebih baik. Refleks menjulurkan lidah menolak objek padat yang memasuki mulutnya telah menghilang dan bayi telah mulai bisa duduk sendiri sehingga mulai bisa lebih lama menikmati makanan yang lebih padat.
  • Sistem pencernaan telah berkembang sempurna sehingga telah mampu mencerna makanan seperti karbohidrat dengan lebih baik.
  • Rasa penasaran akan aneka tekstur dan rasa dari lingkungan sehingga fase eksplorasi ini sangat berguna saat  pengenalan makanan baru

Bahaya menunda MPASI

Bayi sudah genap 6 bulan  atau 180 hari, alat  makan sudah siap, bahkan bubur  bayi sudah matang. Eh,.. kok dia malah menolak suapan bubur?  Mulutnya  menutup rapat. Rupanya, si kecil melakukan aksi gerakan tutup mulut (GTM). Bubur disembur-sembur. Sendok didorong keluar dengan lidahnya.  Mimik mukanya seolah tak suka dengan makanan yang ada  di depannya. Kalo bayi sering bertingkah seperti itu, haruskah dipaksa,  atau bolehkah kita memperpanjang masa  ASI eksklusif lebih dari 6 bulan?

WHO merekomendasikan masa  pemberian ASI eksklusif adalah 6 bulan. Jadi saat  umur bayi genap 6 bulan  atau 180 hari sebaiknya sudah mulai diberi makanan pendamping ASI (MPASI).

Jika MPASI diberikan terlambat (anak lebih dari 6 bulan) risikonya adalah anak akan terganggu perkembangan kemampuan makan atau oro- motoriknya sehingga selanjutnya akan  mengalami kesulitan makan yang lebih parah. Selain itu anak akan  menjadi kurang gizi karena ASI sudah tidak bisa mencukupi kebutuhan energi  maupun zat gizi bagi anak  umur 6 bulan.

Kurang gizi berisiko menyebabkan anak  mengalami gangguan kesehatan, gangguan pertumbuhan, stunting,  wasting bahkan meningkatkan risiko penyakit juga angka kematian pada anak. Pemberian makan yang kurang baik turut  menyebabkan angka kematian yang tinggi pada anak. Hal ini tentunya sangat ingin kita cegah.  Anak bergizi baik akan tumbuh berkembang dengan sehat juga bermasa depan cerah.

Jadi, bayi yang menutup mulut, tidak mau membuka mulut sama  sekali, menolak sendok, mendorong sendok, menyembur- nyemburkan bubur  bukan  berarti bayi tidak mau makan.  Tapi si kecil sedang belajar makan. Bayangkan. Selama 6 bulan  penuh bayi hanya  kenal  ASI. Cairan. Mudah ditelan. Tidak perlu  dikunyah. Nah, bubur  MPASI yang baik itu teksturnya lembek (cair, tapi ada ampas sehingga tidak tumpah saat sendok dimiringkan dan bisa dijumput dengan tangan). Jadi bayi butuh  waktu  untuk belajar cara menangani dan menelan tekstur makanan dari cair ke padat.

Pada  umur 0 – 6 bulan  bayi memiliki tongue-extrusion reflex yang akan  mendorong benda padat memasuki mulutnya. Refleks ini menghilang di umur 6 bulan, namun bayi butuh  waktu  untuk beradaptasi mengolah makanan yang lebih padat.

Metode MPASI terbaik

Metode MPASI yang terbaik bagi bayi adalah MPASI yang disarankan oleh WHO dan UNICEF. MPASI WHO ini disusun berdasarkan penelitian yang terbaik bagi kesehatan anak disesuaikan dengan budaya local, juga kebijakan kesehatan masyarakat setempat. Cara pemberian makan menurut MPASI WHO adalah dengan metode aktif- responsif.  Metode ini membantu anak  untuk lebih lahap makan, sebab ibu/pengasuh tanggap terhadap kondisi anak.

MPASI bukan  hanya  sekedar makanan namun juga cara  makan, kapan waktu  makan,  tempat makan,  dan faktor  pemberi makanan sehingga dalam MPASI WHO ini juga diperhatikan faktor psikososial anak. Cara pemberian makan aktif-responsif ini antara lain :

  • Suapi bayi dan perhatikan anak  yang lebih besar serta beri bantuan bila dia membutuhkan. Beri anak makanan dengan sabar dan penuh perhatian. Ajak serta beri semangat anak  untuk mau makan,  namun jangan paksa anak  untuk makan.
  • Jika anak menolak makan, coba  ganti kombinasi makanan, rasa, tekstur dan metode makan.
  • Minimalisasi gangguan saat anak  makan jika anak  tipe yang mudah teralihkan perhatiannya. Perhatian anak kecil sangat mudah teralihkan sehingga nafsu makan menjadi berkurang.
  • Waktu makan adalah saatnya anak untuk belajar dan waktu keluarga mencurahkan cinta dan saling berkomunikasi sehingga ajak anak  untuk berinteraksi dengan penuh kehangatan.

Jangan kaget jika suapan pertama berakhir disembur, dilepeh, dimainkan di tangan dan mengotori tempat makan sekitarnya.Tidak jarang bayi pun ingin berpartisipasi mengaduk bahkan belepotan makan sendiri. Ini hal biasa. Semua bayi di seluruh dunia  memang seperti ini. Dia sedang belajar mengeksplorasi supaya makin pintar. Ibu jangan marah. Ibu tidak boleh menyerah. Solusinya, ibu bisa memberikan porsi makanan ekstra sehingga kebutuhan asupan anak  terpenuhi.

Bayi trauma makan

Banyak ibu dan pengasuh yang kurang sabar menyuapi bayi sehingga bayi menjadi trauma. Bayi yang trauma makan akan semakin sulit makan,  sedangkan bayi harus makan supaya tumbuh berkembang dengan baik. Beri bayi jeda. Coba rubah cara  memberi makan,  telateni dengan sabar dan jangan memaksa bayi untuk makan.  Hentikan sesi makan jika bayi sudah tidak mau makan.

Latih pola makan dan cara makan yang baik sejak dini sehingga ibu bisa membentuk pola makan sehat pada anak. Makan dengan duduk. Berikan makan pakai piring bukan  pakai  dot. Bayi akan  membutuhkan waktu  untuk belajar makan makanan padat sehingga tetap berikan ASI tanpa dibatasi. Makan bagi bayi berumur di bawah 1 tahun hanya  sebagai pendamping karena asupan utama masih ASI. Pemberian makan secara responsif menunjukkan hasil anak  akan  makan lebih lancar sehingga mencegah kondisi malnutrisi. Berikan aneka ragam bahan makanan bergizi seimbang untuk memenuhi kebutuhan makronutrient juga mikronutrient anak.

Patokan peningkatan porsi makan bayi bisa memakai petunjuk MPASI sesuai  rekomendasi WHO. Selalu pantau tumbuh kembang bayi. Segera  periksa konsultasikan dengan dokter jika ibu tetap mengalami kesulitan memberikan makan atau bayi sama  sekali tidak mau makan.  Pantau kurva tumbuh- kembang dan kontrol kesehatan anak  secara rutin sehingga anak sehat bergizi baik.***

Oleh : Galuh Novi

Please follow and like us:
RSS
Facebook
Facebook
Instagram
Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment