Waspadai, Bahaya Kecanduan Pornografi Pada Remaja

December 15, 2017

Jangan menghakimi atau menghukum, tapi bantulah. Hukuman dan amarah tidak menyelamatkan  anak dari adiksinya.

Perkembangan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat cepat memberikan dampak seperti dua bilah mata pisau bagi kehidupan manusia. Di satu sisi diharapkan dapat memberi kesejahteraan hidup pada manusia namun di sisi lain, baik sengaja maupun tidak sengaja, akses internet membuat kita dengan mudah terpapar konten-konten pornografi.

Berita viral terbaru yang membuat resah yaitu beredarnya pesan berantai di aplikasi WhatsApp dan twitter bahwa WhatsApp dapat mengakses konten pornografi berformat GIF dalam aplikasinya. Hal ini tentunya meresahkan para orang  tua dan menjadi kekhawatiran tersendiri jika pengguna adalah anak di bawah umur, khususnya remaja.

Dari penelitian UNICEF bersama dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi, The Berkman Center for Internet and Society, dan Harvard University melalui survey nasional mengenai penggunaan dan tingkah laku internet para remaja Indonesia. Studi yang dipaparkan pada tahun 2014 ini memperlihatkan bahwa ada setidaknya 30 juta orang  remaja di Indonesia yang mengakses internet secara reguler. Jika masyarakat Indonesia sampai saat  ini memiliki 75 juta pengguna internet, berarti dapat disimpulkan setengahnya adalah remaja.

Studi dengan responden usia 10 – 19 tahun pada 400 remaja menunjukkan bahwa setengah dari mereka pertama kali mengenal internet melalui teman sebaya,  dan banyak remaja yang sudah melihat pornografi melalui iklan. Data KPAI menunjukkan pula di tahun 2014 bahwa hampir 90% anak  terpapar pornografi mulai usia 11 tahun.  Hal itu tentu mencengangkan dan patut menjadi kewaspadaan tersendiri bagi kita sebagai orang  tua, pendidik dan lingkungan terdekat anak  untuk tetap membuat lingkungan “aman” bagi tumbuh kembang anak-anak kita yang merupakan generasi penerus di masa  depan.

Masa remaja (usia 11-18 tahun) adalah masa  di mana organ-organ reproduksi sudah mulai bekerja dan nafsu seksual sudah tumbuh. Hal inilah yang menjadikan psikologi  remaja suka ingin tahu  tetek- bengek segala hal yang berbau seksual. Sayangnya,  sejauh ini banyak pihak yang belum  peduli  untuk memberi informasi yang sehat tentang seks kepada remaja. Orangtua sendiri tak sedikit yang masih menganggap seks sebagai sesuatu yang tabu, sehingga mereka tak pernah memberikan informasi yang sehat tentang seks kepada anaknya (remaja). Atau karena mereka sendiri miskin informasi tentang seks dan tidak tahu  bagaimana mengkomunikasikan seks yang baik kepada anak. Karenanya, untuk memenuhi keingintahuannya yang besar tentang seks, seringkali remaja mencari alternatif dengan menikmati pornografi secara sembunyi-sembunyi, baik sendirian maupun dengan teman-teman mereka.

Perlu diketahui bahwa bukan hanya  narkoba saja yang mengandung zat adiksi, pornografi juga membuat penikmatnya ketagihan/kecanduan. Awalnya, mungkin  seorang anak  tidak berniat untuk melihat pornografi dan akan  memanfaatkan internet untuk tujuan yang baik. Tetapi situs porno  ini dapat muncul  secara tiba- tiba saat  seorang anak  mencari bahan informasi untuk tugas sekolahnya atau untuk keperluan lain. Seorang anak  yang masih lugu belum  dapat menilai  baik atau buruknya suatu  hal, maka  seorang anak  usia 8-12 tahun sering menjadi sasaran. Mengapa di usia ini menjadi rentan? Karena pada usia ini otak depan seorang anak belum  berkembang dengan baik.

Bagaimana mekanisme  proses kerja otak pada orang yang kecanduan sehingga mempengaruhi psikis seseorang?

Ada beberapa macam enzim yang dilepaskan otak kita terkait dengan rasa dan kenikmatan. Yang pertama adalah dopamine. Ketika kita merasakan sesuatu yang menyenangkan, dopamine akan  dilepaskan. Misalnya, ketika pagi hari kita bangun tidur lalu mandi  dan mencium aroma sabun mandi  yang enak  sekali, maka sejumlah dopamine dilepaskan. Dopamine itulah  yang membuat kita merasa nikmat  karena aroma tersebut. Lalu kita akan  kembali ke situasi normal.  Kemudian ketika  di sekolah kita bertemu dengan orang-orang yang ramah dan menyenangkan. Sejumlah dopamine akan  dilepaskan kembali.

Dalam  situasi normal, tingkat kenaikan dan penurunan dopamine ini tidak mengganggu kesehatan atau kestabilan normal mental seseorang. Namun akan  berbeda kondisinya jika seseorang kecanduan sesuatu. Sebagai contoh,  ketika  seseorang kecanduan heroin, maka  dopamine yang dilepaskan oleh otak jumlahnya berkali lipat lebih besar dari jumlah normalnya. Dengan demikian, sistem limbik di otak kita akan  membentuk sebuah pola baru dimana ia akan  terbiasa dengan tingkat kesenangan yang sangat tinggi. Jika sudah begitu, maka  tingkat kesenangan normal, seperti kesenangan akibat aroma sabun, keramahan orang  lain, atau makanan yang lezat, tidak akan terasa sama  sekali. Pengguna heroin akan  terus  menagih rasa senang yang sangat ‘tinggi’ itu dan merasa sangat menderita ketika tidak mendapatkannya.

Hal yang sama  juga terjadi dengan kecanduan terhadap pornografi. Sebuah kesenangan yang melonjak tinggi, yang diperoleh dari gambar-gambar porno, video, dan lain-lain, membuat dopamine yang dilepaskan dalam jumlah tinggi merubah sistem limbik di otak kita. Akibat dari adiksi ini (dan juga adiksi apapun), akan  berdampak pada fungsi-fungsi  otak yang lainnya seperti pengambilan keputusan dan beberapa fungsi lainnya. Dengan adiksi ini, pecandu akan  terus  meminta sesuatu yang lebih dan lebih sampai-sampai kehidupan normal yang tadinya sudah cukup menyenangkan menjadi terasa hampa. Kondisi ini bisa mengarah pada depresi.

Menurut DSM-IV, sebuah panduan pengukuran abnormalitas dalam kejiwaan, kecanduan terhadap apapun terjadi melalui beberapa proses. Pertama-tama ketika  mencoba, seseorang akan merasakan gejolak yang sangat tinggi. Ketika ia mencobanya berulangkali, maka  lama-kelamaan rasa gejolak itu semakin melemah dan ia pun menjadi terbiasa. Setelah terbiasa, maka  orang tersebut akan  meminta sesuatu yang lebih tinggi lagi dampaknya dari yang sebelumnya, dan begitu seterusnya.

Sebagai contoh dalam pornografi. Awalnya ketika melihat gambar orang  telanjang, akan  merasa sangat bergejolak. Tapi berulangkali melihatkan akan  membuat orang  yang melihat terbiasa. Akhirnya ia pun menginginkan sesuatu yang lebih. Meningkatlah pada video pornografi. Untuk beberapa waktu  memang sensasi yang dihadirkan video tersebut cukup menyenangkan, tetapi berulangkali melihat maka  akan  terbiasa dan orang  tersebut pun akan  mencari yang lebih dari video. Dalam interaksi lawan  jenis juga begitu. Diawali dengan berpegang tangan sampai akhirnya terbiasa. Lalu karena sudah terbiasa, maka  ingin memegang yang lain dan terus demikian.

Setelah dopamine dilepaskan, enzim lainnya  yang juga dilepaskan setelahnya adalah norephinephrine. Enzim ini berperan dalam hal mengingat sesuatu. Ketika kita mengalami sesuatu yang menyenangkan maka dengan enzim ini kita akan mengingatnya. Pengalaman dan rasa menyenangkan itu ‘diikat’ oleh enzim ini di otak kita. Lalu enzim lainnya  adalah serotonine yang berfungsi menghadirkan rasa damai.  Enzim ini dilepaskan setelah kita mencapai kepuasan tertentu. Dalam  kecanduan, enzim norephinephrine dan serotonine akan  dilepaskan setelah kepuasan puncak tercapai. Rasa damai itulah yang sebenarnya ‘dikejar’. Tuntutan yang berlebih terhadap rasa damai ini, menurut penelitian yang dilakukan oleh Don Hilton, dapat merusak sejumlah bagian depan otak yang berkaitan dengan fungsi pengambilan keputusan, rasio, act of will, dan disiplin diri.

Proses yang terjadi di otak inilah yang seringkali membuat seorang anak  yang kecanduan akan  sulit menghentikan kebiasaannya sehingga dia akan melakukan hal tersebut berulang kali dikarenakan otak anak  cenderung hanya  menyerap dan meniru  begitu  saja apapun yang dilihat. Apalagi kehadiran kecanggihan internet saat  ini  mengandung unsur 4A, yaitu :

  1. Accesible; Mudah diakses dimanapun kapanpun
  2. Affordable; Terjangkau. Bahkan tanpa biaya.
  3. Anonim; Rahasia. Tanpa diketahui org lain.
  4. Aggressive; Bersifat menyerang, mengejar konsumennya. Karena saat ini pornografi disebarkan tidak lagi melalui situs namun bahkan ke medsos pribadi, yang terkadang memunculkan gambar-gambar “berbahaya” di home kita, yang kita sendiri sebetulnya tidak menghendaki.

Hal lain yang membuat anak  atau seseorang mudah kecanduan pornografi adalah kondisi BLAST (boring, lonely, angry, stress dan tired). Kondisi BLAST akan  menuntut otak untuk melakukan sesuatu yang menstimulasi keluarnya dopamin pada otak. Jika berada di dalam kondisi ini kita melihat pornografi, maka  otak kita akan  mengeluarkan dopamin. Sehingga timbullah rasa ketagihan, dan keinginan untuk mengulanginya kembali. Dalam situasi kecanduan, pada awalnya anak  akan  merasa bersalah tetapi tidak berani mengutarakan perasaannya kepada orang-tuanya karena takut  atau kesibukan ayah dan ibunya. Dalam  keadaan cemas,  otak berputar 2,5 kali lebih cepat dari putaran biasa  pada saat normal.  Akibat perputaran yang terlalu cepat ini, otak seorang anak  dapat menciut secara fisik sehingga otak tidak berkembang dengan baik jika terjadi dalam jangka waktu  lama. Hal inilah yang membuat kecanduan pornografi di usia anak, khususnya remaja, perlu diwaspadai.

Tanda-Tanda Kecanduan Pornografi

Secara  umum, bagi remaja kecanduan situs porno  akan membuat ritme belajar menjadi kacau dan akan berdampak negatif terhadap karakter seseorang. Berdasarkan penelitian Bingham dan Piotrowski dalam Psychological Reportberjudul On-line Sexual Addiction menyebutkan, karakter orang  yang kecanduan situs porno adalah :

  • Keterampilan sosial tidak memadai
  • Lebih memilih bergelut dengan fantasi yang bersifat seksual
  • Asyik berkomunikasi dengan figur-figur ciptaan hasil imajinasinya sendiri,
  • Tidak mampu mengendalikan diri untuk tidak mengakses situs porno dan lupa waktu.

Dengan dasar ini kita bisa merumuskan sejumlah tanda-tanda kecanduan pornografi sebagai berikut :

  1. Menarik diri dari pergaulan. Karena rasa bersalah atau malu, anak  yang kecanduan pornografi akan  lebih menarik diri dari pergaulan. Mereka  akan  lebih banyak menghabiskan waktu sendirian dan sangat sensitif tentang privasi mereka. Sikap ini dapat berwujud dalam tindakan tidak mengizinkan siapapun masuk  ke kamar mereka atau berlama-lama di dalamnya.
  2. Cara mereka melihat wanita / lawan  jenis. Ketika memandang wanita mereka akan  lebih terfokus pada anggota tubuhnya. Memang agak  sulit melihat gejala ini, akan  tetapi jika diperhatikan baik-baik maka  perilaku seperti ini dapat dikenali.
  3. Depresi. Adiksi ini menyiksa mereka. Mereka  pun akan lelah karena harus terus menutupi kebiasaan yang mereka nilai buruk ini. Dengan demikian mereka akan  lebih mudah tersinggung dan marah, tidak suka ditanya soal dirinya dan sering tidak mau diganggu. Mereka  pun akan  lebih menyendiri dan memiliki kepercayaan diri yang menurun, serta menjadi pemurung.
  4. Cara berbicara yang menggunakan kata-kata tidak senonoh. Bisa juga dengan memperhatikan cara  mereka berbicara dengan teman-temannya. Apakah menggunakan kata-kata yang sifatnya seksual dan seberapa sering mereka menggunakannya. Ini bisa menjadi indikator. Memeriksa history alamat situs komputer Anda. Cara ini untuk mencari tahu  seberapa jauh akses anak  terhadap pornografi.
  5. Memeriksa SMS. Seringkali anak  yang kecanduan ber- SMS dengan teman-temannya dengan menggunakan kata- kata  yang tidak senonoh atau mengarah pada seksualitas.
  6. Bertanya. Cara yang paling baik menurut Randy Hyde adalah hanya  dengan menanyakan kepada anak. Bukan dalam suasana yang menghakimi tapi dalam sebuah obrolan hangat. Tanyakan seberapa kenalkah anak  dengan pornografi dan jangan lantas marah. Mereka bisa jadi dikenalkan dan bukan  mencari pornografi sendiri. Beritahu dengan baik dan penuh kasih sayang mengenai mengapa mereka tidak boleh mengakses pornografi. Hal ini akan membangun kepercayaan anak pada kita dan memperkuat hubungan orang tua dan anak.

Bagaimana Mencegahnya?

Dengan memahami kondisi tersebut tentunya usaha pencegahan sangat perlu dilakukan. Lalu, bagaimana mencegahnya? Internet yang aman dan sehat jelas sangat diperlukan. Maka, orang  tua sejak awal harus memastikan bahwa internet yang digunakan anak  berada di dalam kontrol orangtua dan memiliki filter untuk mencegah anak-anak mengakses konten porno. Tetapi, seiring dengan bertambah usia, tentu kontrol eksternal ini perlu juga didampingi dengan kontrol internal, yakni dengan memberikan edukasi tentang bahaya pornografi bagi perkembangan mereka. Anak perlu  tahu  apa  bahayanya, dan apa  yang harus dilakukan bila tidak sengaja melihatnya. Sejak awal anak-anak diajarkan dan ditanamkan untuk tidak mengizinkan dirinya melihat hal- hal yang tidak baik dan menjaga pandangannya.

Kita juga perlu  menciptakan hubungan yang hangat dengan anak  agar  mereka tidak berada di dalam kondisi BLAST. Ajarkan juga bagaimana sejak awal mereka bisa mengatasi BLAST itu, dengan berbagai alternatif kegiatan yang positif, kreatif  dan produktif. Kegiatan  olahraga juga diperlukan agar  anak  dapat menyalurkan energinya. Bagi anak  laki-laki, saat  baligh  nanti olah raga  ini diperlukan untuk mengeluarkan sperma, dengan cara  sehat dan alamiah tanpa perlu  melakukan hal-hal negatif (seperti masturbasi, dll). Tanamkan juga keimanan sehingga anak  menghayati adanya pengawasan dari Yang Maha Mengetahui, dan keyakinan bahwa semua yang ia lakukan harus dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Bagaimana dengan remaja yang sudah terlanjur kecanduan? Pemahaman dasar yang harus dipahami terlebih dahulu oleh semua orang  tua adalah bahwa kecanduan terhadap pornografi menyiksa mental anak. Anak yang mengalami kecanduan akan  sangat ingin berhenti namun terus  saja gagal tanpa bantuan. Pemahaman ini memang sangat sulit untuk diinternalisasikan karena begitu banyak nilai-nilai  susila dalam benak kita yang secara otomatis menolak pornografi sehingga sangat wajar ketika  orang  tua mengetahui anaknya bersentuhan dengan pornografi, reaksi  yang pertama muncul  adalah amarah luar biasa. Faktanya, hukuman dan amarah tidak menyelamatkan  anak dari adiksinya.

Penerimaan dan kasih sayang  merupakan kunci yang paling  awal. Orang tua harus membenahi persepsi mereka tentang kecanduan dan jangan serta-merta melihatnya hanya  sebagai sebuah kesalahan, sebuah dosa, sebuah hal yang menjijikkan. Persepsi dan sikap yang harus menjadi landasan awal adalah bahwa anak perlu pertolongan dan mereka hampir putus asa menolong dirinya sendiri. Hyde mengatakan bahwa tidak ada  orang yang membenci kecanduan selain  orang  yang kecanduan itu sendiri. Anak yang kecanduan pornografi benci akan kencanduannya dan sangat ingin keluar darinya. Ia tersiksa diperbudak oleh kecanduannya dan merasakan kehampaan dalam hidup. Mereka  depresi dan tanpa pertolongan, mereka bisa mengambil keputusan yang salah. Remaja yang sudah terlanjur kecanduan, harus dibantu dengan kasih sayang dan kesabaran. Butuh waktu  bagi mereka untuk kembali menormalkan dopamine mereka. Butuh latihan untuk menjadi bisa dan sebagai orang  tua, kita harus selalu siap mendampingi. Izinkan anak  berbicara dengan leluasa tentang penderitaannya dan hargai perasaannya. Jangan menghakimi atau menghukum, tapi bantu.  Jika orang  tuanya tidak membantu, maka ia pun bisa mencari bantuan dari tempat yang salah, yang bukannya menyelamatkan, tetapi semakin membahayakan. ***

Disarikan dari berbagai sumber – Ni Made Ratna Paramitha, M.Psi

Please follow and like us:
RSS
Facebook
Facebook
Instagram
Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment