Penanganan Psikologis Pada Game Addiction

March 13, 2018

Di Indonesia, perkembangan pengguna games online untuk dewasa menjadi meningkat berkisar 24% dari populasi. Sedangkan Bakker menyatakan bahwa pecandu game berusia rata-rata antara 13-30 tahun dan 80%-nya berusia 13-25 tahun.

Addiction biasanya meliputi alkohol ataupun substance. Namun kini addiction terdistorsi dapat meliputi gambling, internet, hingga video dan online games (dalam Siregar, 2013) . Presentasi ini semakin meningkat dari tahun ke tahun. Bermain game yang pada awalnya hanya untuk mengisi waktu luang, menghilangkan rasa stress atau tertekan, atau sebagai wadah untuk berkumpul dan berkenalan dengan orang-orang baru, hingga kini berkembang mewarnai maraknya kompetisi game online yang diperlombakan, menjadi sebuah batasan yang tipis antara kebutuhan akan rekreasi atau kesenangan, dengan merasa terobsesi, hingga disebut kecanduan bermain game.

Kenali tanda-tandanya.

Istilah Kecanduan (adiksi) awalnya hanya digunakan untuk ketergantungan Napza (Narkotik, Alkohol, Psikotropika dan Zat Adiktif lainnya). Namun akhir-akhir ini digunakan untuk masalah ketergantungan lainnya seperti judi, shopping, bermain game, makanan, pekerjaan, dll. Dalam DSM IV-TR (Diagnostic and Statitical Manual of Mental Disorder) Adiksi merupakan kondisi dimana seseorang terikat pada satu aktivitas (misalnya berjudi, shopping, bermain game) yang menyenangkan, namun dilakukan secara terus menerus dan mengganggu kehidupan sehari – hari. Kecanduan ini membuat seseorang melupakan tanggung jawabnya, seperti pelajar tanggung jawabnya adalah belajar, atau orang dewasa adalah bekerja/ mengurus keluarga, dan juga mengganggu kesehatan. Ketika seseorang melakukan kegiatan yang sama, seperti bermain game secara terus menerus sehingga membuat ia terisolasi atau menarik dari lingkungan sekitarnya dan ia melupakan tanggung jawab atau tugas perkembangannya saat itu. Mereka juga akan mengalami perubahan emosi seperti depresi, kesepian, marah, malu, takut untuk keluar, dan memiliki harga diri yang rendah. Hal ini membuat seseorang yang sudah mengalami kecanduan game memisahkan diri dari keluarga, teman, dosen, dan tidak mengerjakan tugas kuliahnya. Mereka akan kesulitan membedakan antara fantasi yang ada dalam game dan realitanya.

Oleh karenanya mewaspadai tanda-tanda bahwa seseorang mengalami kecanduan terhadap game atau belum merupakan salah satu tindakan pencegahan agar kecanduan dapat segera diatasi. Secara spesifik tanda- tanda kecanduan game (game addiction) adalah sebagai berikut :

1. Preokupasi. Terus menerus memikirkan untuk bermain game. Ia akan merasa terganggu atau frustrasi ketika tidak dapat bermain game seperti yang biasa ia lakukukan.

2. Downplaying Computer Use. Berusaha untuk menggunakan komputer atau bermain game. Mencari cara agar ia dapat menggunakan komputer ketika hal tersebut dilarang sehingga ia akan membuat alasan apapun dengan mengatakan ia “butuh” untuk online. Misalnya untuk mengerjakan tugas atau mengirim email ke dosen. Merasa sengsara dan tidak berdaya jika tidak bermain game dalam satu hari itu saja. Ia cenderung menyalahkan orang lain, terutama jika keluarganya yang mempersulit ia untuk bermain game dan meminta ia untuk fokus terhadap tanggung jawabnya.

3. Sulit mengontrol diri. Seseorang yang mengalami game addiction akan kesulitan untuk mengontrol berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk bermain game. Kegiatan tersebut dapat dilakukan selama 15 atau 20 jam per harinya.

4. Lupa Waktu. Seseorang yang mengalami game addiction biasa- nya tidak sadar jika waktu sudah berjalan seberapa lama ketika mereka bermain game. Mereka akan lupa kapan waktu untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti makan, mandi, istirahat hingga melupakan waktu untuk melakukan kegiatan wajib seperti kuliah.

5. Memberikan dampak negatif pada area kehidupan yang lain. Melupakan tanggungjawab, tugas atau aktivitas sehari-hari yang harus ia lakukan. Ditandai dengan tidak mengerjakan tugas sekolah, nilai sekolah turun, tidak menjaga kesehatan, lupa makan, tidak berkumpul bersama keluarga dan teman.

6. Bersembunyi dari perasaan atau situasi yang negatif dan tidak menyenangkan. Kegiatan bermain game dijadikan wadah untuk melakukan penyembuhan terhadap diri sendiri. Seseorang akan menjadikan kegiatan bermain game sebagai cara untuk mengatasi perasaan tidak nyaman atau negatif ketika menghadapi situasi yang tertekan atau rasa sedih (bertengkar dengan keluarga, teman, atau stres terhadap tugas-tugas kuliah). Bermain game tersebut membuat ia merasa bersembunyi secara sementara dari situasi yang negatif tersebut.

7. Menghabiskan banyak uang. Seseorang akan mengeluarkan uang hanya untuk keperluan bermain game. Hal ini dapat membuat ia melupakan kewajibannya untuk membayar tagihan dan membeli keperluan sehari-hari (makanan, pakaian, dll).

8. Perasaan yang tidak menentu. Seseorang akan mengalami perasaan yang tidak menentu ketika ia bermain game secara terus menerus. Mereka akan merasakan perasaan bahagia tetapi diikuti juga dengan munculnya perasaan bersalah juga ketika ia selalu menghabiskan waktunya untuk bermain game.

Waspadai Dampak Negatifnya

Dalam berbagai forum dan penelitian diberbagai belahan dunia terutama negara-negara besar yang mengkaji tentang kecanduan game, baik secara offline ataupun online, menyatakan dampak dari permainan game ini lebih banyak ke arah negatif daripada positifnya. Beberapa  dampak negatif yang ditimbulkan akibat kecanduan game adalah sebagai berikut :

• Kesehatan fisik yang menurun akibat perubahan pola makan, pola tidur, kurang bergerak dan adanya gangguan penglihatan, kurang konsentrasi hingga sakit kepala.

• Perubahan pola hidup, psikologis dan hubungan sosial yang buruk.

• Mengabaikan kewajiban untuk belajar atau kegiatan positif yang lain.

• Menyebabkan perilaku agresif yang diakibatkan permainan game yang bertema kekerasan.

• Mengalami tingkat obsesi yang tinggi dan merasa mengalami tekanan hebat saat tidak bermain game.

• Tidak mampu mengendalikan diri dan lupa waktu.

• Dapat memicu rasa frustasi jika tidak bisa menyelesaikan permainan di dalam games.

• Berkurangnya nafsu makan akibat terlalu asyik bermain game.

• Menghambat proses pendewasaan diri karena hanya larut dalam dunia games.

• Mempengaruhi prestasi karena pikiran terkonsentrasi pada game.

• Memicu tindakan buruk lainnya seperti suka berbohong, dan sampai pada tindakan kriminalitas mencuri demi bisa bermain game.

• Adanya pemborosan dalam segi keuangan karena harus ada budget / dana untuk men-download aplikasi, atau pergi ke warnet hanya demi untuk bisa bermain game.

• Kesulitan menjalin relasi dengan orang lain dan menjauhkan diri dari lingkungan sosialnya.

Lakukan Ini !

Dengan kondisi diatas maka beberapa hal yang dapat dilakukan jika seseorang mengalami game addiction :

1. Berikan batas waktu dan ruangan khusus

Durasi lamanya waktu seseorang bermain game adalah sebanyak 2 jam per hari (berdasarkan waktu aman yang dianjurkan American Academy of Pediatrics). Alangkah baiknya jika adanya ruangan keluarga tersendiri yang terbuka agar seorang anak dapat menggunakan komputer dan bermain game di rumah. Hal ini akan membantu orangtua lebih dapat mengawasi kegiatan anak di rumah.

2. Memberikan dan mengawasi permainan sesuai usia.

Di setiap permainan, sudah diberikan game ratings sehingga permainan tersebut sesuai dengan usia. Seperti, EC (Early Childhood) untuk usia 3 tahun, E (Everyone) untuk usia 6 tahun, Everyone 10+ untuk usia 10 tahun, T (Teen) untuk usia 13 tahun, M (Mature) untuk usia 17 tahun, AO (Adults Only) untuk usia minimal 18 tahun.

3. Memberikan Digital Nutrition.

Orangtua dapat mengajak bicara mengenai apa yang dipikirkan dan dirasakan anak ketika ia bermain game. Keuntungan apa saja yang ia dapatkan sehingga ia dapat kecanduan bermain game hingga melupakan tugas kuliahnya. Salah satunya adalah dapat memberikan digital nutrition dimana anak dapat menyadari alasan dan perasaannya sendiri ketika bermain game. Berikut bentuk contoh model digital nutrition :

Jika hal-hal tersebut diatas sudah dilakukan namun perilaku belum menunjukkan perubahan yang signifikan, dengan ditandai sulit diajak berkomunikasi dan berkompromi, maka ajaklah anak tenaga ahli profesional, baik itu psikolog maupun psikiater agar mendapatkan penaganan yang tepat. Tenaga Ahli akan mengobservasi perilaku anak dan memberikan intervensi yang sesuai dengan derajat ketagihan terhadap game.

Dari paparan diatas dapat disimpulkan perkembangan teknologi perlu dipahami, dimengerti sesuai dengan laju perkembangannya sehingga dapat memberikan pengawasan sesuai dengan usia, agar dampak negatif kemajuan teknologi dapat diminimalisir.

— (dikelola dari berbagai sumber oleh Ni Made Ratna Paramita, M.Psi, Psikolog)—

 

 

Please follow and like us:
RSS
Facebook
Facebook
Instagram
Posted in Artikel, Blog by AdminRSJ

Leave a Comment