Rehabilitasi NAPZA, Membangun Kualitas Hidup Lebih Baik

July 13, 2018

Rehabilitasi adalah proses pemulihan pada ketergantungan penyalahgunaan narkoba (pecandu) secara komprehensif, meliputi aspek biopsikososial dan spiritual sehingga memerlukan waktu lama, kemauan keras, kesabaran, konsistensi, dan pembelajaran terus-menerus. Artinya, mereka diberi kesempatan mengembalikan kesadaran untuk berubah dan dapat membangun kualitas hidup yang lebih baik.

Saat ini di berbagai media yang membahas tentang narkoba menuliskan tentang Indonesia darurat narkoba. Supply narkoba atau napza dari luar negeri melalui pasar gelap seolah-olah sangatlah sulit dibendung. Di sisi lain, penanganan korban penyalahguna napza dihadapkan pada keterbatasan penyediaan fasilitas rehabilitasi penyalahguna napza, baik rawat jalan maupun rawat inap. Padahal aturan pemerintah saat ini menyatakan bahwa penyalahguna zat hendaknya direhabilitasi. Rehabilitasi adalah proses pemulihan pada ketergantungan penyalahgunaan narkoba (pecandu) secara komprehensif, meliputi aspek biopsikososial dan spiritual sehingga memerlukan waktu lama, kemauan keras, kesabaran, konsistensi, dan pembelajaran terus-menerus.

Sebelum masuk ke rehabilitasi maka klien penyalahguna zat melakukan wajib lapor di institusi penerima wajib lapor (IPWL). RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang adalah salah satu institusi penerima wajib lapor (IPWL). Di IPWL klien akan mendapatkan asesmen guna mengetahui tingkat ketergantungan zatnya sekaligus mengetahui kondisi fisik, masalah psikologis dan sosialnya. Tingkat ketergantungan zat dikelompokkan pada tingkat ketergantungan rendah (tahap penggunaan rekreasional dan situasional) maupun pengguna dengan taraf ketergantungan tinggi (ketergantungan dan kecanduan). Rawat jalan diberikan kepada klien dengan taraf ketergantungan rendah, sedangkan untuk penyalahguna ketergantungan tinggi dilakukan rehabilitasi rawat inap dengan persetujuan dari klien/wali dan pertimbangan kondisi klien.

Sejak tahun 2013, Rehabilitasi Medik Rawat Jalan sudah dilayani di RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang. Rehabilitasi rawat jalan dilakukan minimal 10 kali pertemuan. Kegiatan di rehabilitasi rawat jalan antara lain: konseling individu, konseling adiksi, psikoterapi, evaluasi psikologi, psikoedukasi, terapi kelompok (group therapy), konseling keluarga, terapi simptomatik. Melalui sesi-sesi tersebut tersebut diharapkan klien penyalahguna zat mempunyai kesadaran diri untuk berubah dan dapat membangun kualitas hidup yang lebih baik.

Mulai Maret 2018, RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang membuka layanan Rehabilitasi Medik Rawat Inap bagi penyalahguna zat dengan taraf ketergantungan tinggi atau ketergantungan sedang disertai masalah sosial, psikologis atau hukum yang menyertai. Klien yang melakukan rehabilitasi medik rawat inap kita sebut sebagai residen. Melalui rehabilitasi medik rawat inap residen mendapatkan berbagai layanan medik fisik maupun mental.

Tahapan Layanan Rehabilitasi Rawat Inap

1. Skrining dan Asesmen

Skrining adalah proses dimana calon residen dilakukan wawancara untuk diidentifikasi karakteristik penggunaan zatnya.

Asesmen merupakan suatu tindakan penilaian untuk mengetahui kondisi calon residen akibat penyalahgunaan zat yang meliputi aspek medis dan aspek sosial.

2. Detoksifikasi

Adalah rangkaian intervensi untuk mengatasi kondisi akut diikuti dengan pembersihan zat dari tubuh penyalahguna atau ketergantungan zat secara aman. Kondisi putus zat dapat muncul berupa kesulitan tidur, rasa nyeri, gelisah, curiga, cemas, depresi dan ketakutan yang sangat mengganggu bahkan terasa sulit dikendalikan. Beberapa residen ada yang perlu terapi medik untuk membantu mengendalikan gejala putus zat yang muncul.

3. Tahap Entry/Stabilisasi

Adalah tahap pengenalan dan adaptasi terhadap lingkungan baru tempat rehabilitasi serta penjelasan tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan selanjutnya.

4. Program Rehabilitasi Sosial

Diselenggarakan dengan metode semi Therapeutic Community (TC). TC adalah suatu pendekatan pertolongan diri (self help approach) TC didefinisikan sebagai metode dan lingkungan yang terstruktur untuk mengubah perilaku manusia dalam konteks kehidupan komunitas yang bertanggungjawab. Prinsip yang digunakan dalam TC adalah “Self-help, Mutual-help”. Anggota komunitas (resident) bertanggungjawab untuk saling menolong satu sama lain. Dengan menolong orang lain, ia sekaligus juga menolong dirinya sendiri. Kegiatan di komunitas mendorong mereka untuk mengenal diri sendiri baik dari segi emosional, intelektual, spiritual, perilaku, dan ketrampilan.

Untuk memberikan hasil optimal maka layanan Rehabilitasi Rawat Inap Napza di RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang juga memberikan layanan diagnosis dan terapi komprehensif bagi residen sesuai kondisinya. RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang adalah rumah sakit khusus jiwa tetapi mempunyai layanan lengkap baik jiwa maupun non jiwa (fisik) seperti layanan spesialis penyakit dalam, saraf, anestesi yang sangat terkait dengan kondisi kegawatdaruratan akibat penyalahgunaan zat.

Layanan penunjang yang ada antara lain radiologi, laboratorium klinik, rehabilitasi medik dan psikososial, elektromedik. Keberadaan layanan-layanan tersebut sangat menunjang pelayanan rehabilitasi medik napza sehingga residen rehabilitasi napza bisa memperoleh layanan terapi tambahan yang saat ini juga terbukti bisa membantu mengatasi gejala-gejala akibat pemakaian zat jangka panjang. Terapi tersebut adalah terapi menggunakan alat Trans Magnetik Stimulation (TMS) dan neurofeedback.

Pembiayaan rehabilitasi medik baik rawat jalan maupun rawat inap di RSJS Magelang diberikan oleh Kementerian Kesehatan RI dengan peraturan khusus. Bebas biaya bila rehabilitasi dilakukan maksimal 3 bulan dan tidak menggunakan pengobatan atau layanan terapi tambahan di luar ketentuan Kemenkes. Di luar ketentuan tersebut, biaya dibebankan pada residen dan keluarganya.

Mengingat RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang mempunyai unggulan layanan Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja, maka klien dengan penyalahgunaan zat usia anak remaja juga bisa dilakukan rawat inap, tetapi tidak satu bangsal dengan bangsal rehabilitasi rawat inap napza.

Syarat untuk dapat mengikuti rehabilitasi medik rawat inap napza :

  1. Merupakan pengguna narkoba aktif dengan pemakaian terakhir kurang dari 12 bulan.
  2. Pria, berusia 19 – 50 tahun. Bila usia kurang 19 tahun mengikuti program detoksifikasi, entry kemudian ikut program layanan Intalasi Kesehatan Jiwa Anak Remaja RSJS.
  3. Tidak ada riwayat penyakit fisik (diabetes, stroke, jantung) maupun jiwa yang dapat mengganggu pelaksanaan program. Bila dalam asesmen didapatkan kondisi sakit tersebut, maka perawatan akan dipindah ke bangsal lain sesuai kondisi klien.
  4. Diantar oleh keluarga/wali.
  5. Membawa surat permohonan mengikuti rehabilitasi rawat inap.
  6. Membawa surat pengantar (bila klien kiriman dari BNN, Kejaksaan atau Kepolisian).
  7. Membawa salinan surat keputusan (bila dari keputusan pengadilan).
  8. Menyetujui dan sanggup mengikuti tata tertib rehabilitasi medik rawat inap napza.

Syarat administrasi :

  1. Foto copy kartu keluarga.
  2. Foto copy KTP calon residen (pasien) dan orang tua.
  3. Pas foto 4 x 6 sebanyak 2 lembar.
  4. Materai Rp. 6.000,-
— Layanan Rehabilitasi Rawat Inap Penyalahguna Napza RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang —

 

Please follow and like us:
RSS
Facebook
Facebook
Instagram
Posted in Artikel, Blog by AdminRSJ

Leave a Comment