Pentingnya Attachment pada Anak usia 0-5 tahun

December 21, 2018

oleh : Dra. Sri Wahyu Andayani,Psikolog RS Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang

  • Definisi Attachment

Attachment (kelekatan) antara orangtua-anak dapat dideskripsikan sebagai ikatan kasih sayang antara orangtua dan anak, bersifat unik dan abadi. Teori kelekatan  ini didasari oleh ide bahwa terdapat perbedaan individu dalam bagaimana bayi terikat secara emosional terhadap pengasuh utamanya (orangtua) dan bagaimana pengalaman ikatan kasih sayang ini mempengaruhi perkembangan bayi di masa depan dalam aspek sosial, kognitif, dan emosional. Daripada membahas anak lekat dengan orangtuanya atau tidak, penelitian dan teori lebih berfokus pada kualitas hubungan antara orangtua dan anak. Kelekatan (attachment) sedikit berbeda dengan ikatan (bonding). Istilah ikatan (bonding) merujuk kepada ikatan antara anak dan orangtua yang berkembang pada jam-jam pertama di kehidupan anak (Appleyard dan Berlin, 2007; Winston & Chicot, 2016).

Kelekatan biasanya mulai berkembang sejak tahun pertama kehidupan anak, melalui interaksi berulang antara orangtua dan anak. Bayi dapat mengembangkan kelekatan yang banyak kepada orang lain, contoh selain orangtua adalah nenek atau kakek. Namun biasanya mereka memiliki “figur kelekatan utama” yaitu orangtua. Semua bayi akan mengembangkan kelekatan terhadap orangtuanya, bahkan ketika orangtua bersikap kejam atau kasar. Kelekatan ditentukan oleh sikap dan perilaku orangtua terhadap kebutuhan bayi (Appleyard dan Berlin, 2007).

 

  • Kualitas Attachment

Terdapat dua pola dasar dari kelekatan yaitu kelekatan yang aman (secure attachment) dan tidak aman (insecure attachment). Hal ini ditentukan dari perilaku orangtua. Kelekatan yang aman (secure attachment) dapat terjadi ketika pengasuh selalu sensitif dan konsisten dalam merespon kebutuhan anak. Sebaliknya, orangtua yang sering mengabaikan atau menolak kebutuhan anak akan mengakibatkan kelekatan yang tidak aman (insecure attachment) (Appleyard dan Berlin, 2007; Lee & Lok, 2012).

Kelekatan yang aman ditandai dengan kemampuan anak untuk menjadikan orangtua sebagai sumber kenyamanan dan “zona aman” bagi anak. Anak merasa percaya diri karena ketersediaan orangtua sehingga anak dapat mengeksplor dunia dan bermain sendiri. Berikut merupakan perilaku orangtua yang berhubungan dengan kelekatan yang aman:

  • Asuhan yang responsif dan sensitif
  • Supervisi dan harapan orangtua yang jelas, konsisten, dan sesuai perkembangan anak.
  • Interaksi verbal yang hangat, positif, dan responsif.
  • Melihat anak sebagai individu yang unik.
  • Kesadaran dan kemampuan untuk merefleksikan perasaannya sendiri dan merespon kepada anak

Perilaku bayi dan anak yang memiliki kelekatan yang aman adalah:

  • Kenyamanan menjelajah dunia karena adanya figur kelekatan.
  • Ketika terluka, anak menghampiri figur kelekatan untuk mencari kenyamanan (bukan orang asing tidak dikenal).
  • Meminta bantuan ketika dibutuhkan.
  • Kesediaan untuk mematuhi permintaan.
  • Tidak ada pola mengontrol atau mengarahkan perilaku pengasuh (tidak ada role-reversal).

Kelekatan yang tidak aman ditandai dengan ketidakmampuan anak dalam menjadikan orangtua sebagai sumber kenyamanan dan zona amannya. Terdapat tiga jenis dasar pola kelekatan yang tak aman, yaitu:

  • Beberapa anak bergantung pada orangtua secara berlebihan, mengekspresikan kesulitan perpisahan dan tidak dapat bermain sendiri. Pola ini disebut insecure-resistant attachment.
  • Beberapa anak kurang bergantung, tampak terlepas dari orang tua dan nyaris tidak memperhatikan mereka saat berpisah. Hal ini disebut insecure-avoidant attachment. “Kebebasan” pada bayi atau balita ini, meskipun terkadang menuai pujian, tidak tepat secara proses perkembangan.
  • Kelekatan disorientasi (Disorganized/disoriented attachment) merujuk kepada anak yang tampak ketakutan atau tidak teratur di hadapan orangtua mereka.

Tabel berikut merangkum perilaku orangtua dan anak yang mengembangkan kelekatan yang tidak aman.

Perilaku orangtua Perilaku anak
•       Mencampuri percobaan anak dalam eksplorasi (contoh, mengganggu, mengontrol anak secara berlebihan)

•       Supervisi dan harapan yang tidak jelas, tidak konsisten, dan tidak sesuai dengan perkembangan.

•       Mengabaikan kebutuhan anak

•       Respons yang tidak konsisten

•       Perilaku mengancam, menakutkan, dan tidak ramah (hostile)

•       Memprioritaskan kebutuhan orangtua dibanding anak

•       Berperilaku seperti anak-anak atau memperlakukan anak seperti mereka yang bertanggungjawab

•       Sikap ketakutan dan keraguan di hadapan anak

•      Seksualisasi atau perilaku terlalu intim

•       Ketergantungan berlebihan

•       Rasa malu, atau tidak ramah yang bermakna

•       Gagal dalam mencari kenyamanan ketika dibutuhkan

•       Mencari kenyamanan dan keramahan pada semua orang

•       Perilaku bossy

•       Terlalu mengkhawatirkan kesejahteraan orangtua (role reversal)

•       Disorientasi atau takut terhadap kehadiran orangtua seperti tidak mau berkontak mata, atau diam membatu.

•      Penyimpangan seksual

Sumber: (Appleyard dan Berlin, 2007)

  • Manfaat Attachment

Fase yang paling penting dalam perkembangan otak adalah awal kehidupan, dimulai sejak janin dan tahun pertama kehidupan. Pada usia tiga tahun, otak anak telah mencapai 90% dari ukuran otak dewasa. Pengalaman yang bayi miliki dengan pengasuhnya adalah momen krusial dalam pembuatan sirkuit otak dan jutaan koneksi di dalam otak. Interaksi dan komunikasi berulang menyebabkan pathway antara memori dan belajar serta logika dapat berkembang. Dapat disimpulkan bahwa otak bayi sangatlah rumit namun juga rentan (Winston & Chicot, 2016).

Para peneliti telah menunjukkan bahwa jenis ikatan orangtua dan anak akan mempengaruhi perkembangan hubungan interpersonal anak saat anak tumbuh besar. Anak dengan orangtua yang memiliki kelekatan yang aman lebih sehat dan dapat berfungsi dengan baik dalam segala aspek kehidupan saat dewasa nanti. Mereka akan tumbuh dengan self-esteem yang tinggi, percaya diri, memahami diri lebih baik, mengatur diri dengan baik, serta memiliki keterampilan sosial dan pemecahan masalah yang baik. Selain itu, anak juga dapat membangun persahabatan yang berkualitas (Lee & Lok, 2012).

 

  • Akibat bila tidak terbentuk attachment

Meskipun bayi memiliki kecenderungan genetik untuk membangun ikatan terhadap orangtua yang penuh kasih sayang, hal ini dapat terganggu jika orangtua bayi sering mengabaikan bayi dan inkonsisten. Sebuah penelitian longitudinal melaporkan bahwa kemampuan anak dalam membentuk dan menjaga hubungan yang sehat semasa hidupnya dapat terganggu secara signifikan dikarenakan memiliki kelekatan yang tidak aman terhadap pengasuh utamanya (orangtua) (Winston & Chicot, 2016).

Sebuah penelitian juga melaporkan patologi pada anak yang mengalami pengabaian (bentuk ekstrim dari kelekatan yang tidak aman) pada awal kehidupan:

  • Berkurangnya pertumbuhan pada otak kiri yang dapat mengakibatkan peningkatan risiko depresi.
  • Meningkatnya sensitivitas pada sistem limbik yang dapat mengakibatkan gangguan kecemasan.
  • Berkurangnya pertumbuhan pada hipokampus yang dapat berkontribusi menjadi gangguan memori dan gangguan belajar.

Temuan ini juga didukung dengan kasus-kasus pengabaian ekstrim dan outcome anak yang dibesarkan di panti asuhan. Sebuah penelitian meneliti tentang perkembangan anak yang diadopsi oleh keluarga yang penuh kasih sayang dalam usia yang berbeda. Peneliti menemukan bahwa 69% anak yang diadopsi sebelum usia 6 bulan; 43% anak yang diadopsi antara usia 7 bulan – 2 tahun dan hanya 22% anak yang diadopsi antara umur 2 – 3½ tahun dapat berfungsi dalam kehidupannya dengan normal (Winston & Chicot, 2016).

Hal ini menunjukkan pentingnya dukungan orangtua untuk anak pada tahun-tahun awal kehidupan. Meskipun begitu, orangtua kebanyakan mengkhawatirkan hal-hal yang kurang penting bagi perkembangan dan kesejahteraan otak anak seperti membelikan mainan anak-anak dan mengajak anak-anak pergi liburan ke suatu tempat yang mahal. Padahal hadiah yang paling berharga dan anak perlukan itu gratis dan sederhana, yaitu cinta, waktu, dan dukungan dari orangtua. Ilmu pengetahuan sekarang banyak menunjukkan bahwa otak anak membutuhkan kasih sayang lebih dari apapun (Winston & Chicot, 2016).

 

  • Cara membentuk attachment dengan anak

Kelekatan yang aman membuat seseorang dapat membentuk dan menjaga hubungan dengan orang lain lebih mudah. Hal ini disebabkan anak mempercayai figur kelekatan mereka (orangtua, guru, dan anggota keluarga yang lain) ketika mereka membutuhkan dukungan. Anak dengan kelekatan aman akan merasa percaya diri dalam mengeksplor kehidupan karena mereka mengetahui bahwa ketika mereka membutuhkan orangtuanya, orangtua akan ada dan menerima mereka dengan tangan terbuka (Appleyard dan Berlin, 2007).

Berikut merupakan tips atau cara-cara untuk membesarkan anak dengan kelekatan yang aman (Appleyard dan Berlin, 2007; CEECD, 2012):

  • Menggendong anak

Bayi merasakan rasa kasih sayang melalui kulitnya. Sentuhan lembut merupakan kelembutan yang dibutuhkan oleh setiap bayi. Sentuhan sambil bercanda dapat mentransfer kebahagiaan pada anak. Menggendong bayi tidak hanya memberikan kebahagiaan dan ketentraman, namun dapat pula membantu menenangkan perasaan yang buruk.

  • Berkontak mata dengan anak

Tatap mata anak sejak hari pertama hidup mereka, dan perhatikan tatapannya saat anak balas menatap. Dalam 6 minggu, anak dapat fokus pada tatapan mata orangtua. Kontak mata dapat diterjemahkan ke dalam perasaan tentram dan membangun hubungan yang baik dengan anak.

  • Berbicara dengan anak

Meskipun anak belum bisa berbicara, anak tetap perlu diajak bicara, bahkan sejak masih dalam kandungan. Penelitian menunjukkan bahwa bayi baru lahir dapat mengenali suara terutama suara orangtuanya dan bahkan dapat mengingat kata-kata dan musik yang mereka dengar dalam kandungan. Selain itu, anak yang sering diajak bicara dapat belajar berbicara lebih mudah daripada yang tidak.

  • Lakukan aktivitas yang menyenangkan bersama anak

Bangun kelekatan anak dengan bermain bersama. Hal ini dapat dilakukan dalam waktu senggang. Misal bermain rumah-rumahan, mengikuti skenario yang anak inginkan, dan orangtua responsif terhadap permainan yang anak ingin lakukan. Selain bermain, orangtua juga dapat membacakan buku cerita sebelum tidur. Anak akan merasa orangtua selalu ada untuknya, dari bangun tidur bahkan sampai saat tidur.

  • Tidak memanjakan anak

Berbeda dengan perkataan “nanti anak menjadi manja jika orangtua terlalu responsif terhadap kebutuhan anak”, penelitian menunjukkan sebaliknya. Peneliti menemukan bahwa orangtua yang responsif terhadap anak justru memiliki anak yang mandiri dan lebih tidak menuntut ketika mereka tumbuh besar. Awal kehidupan anak juga tidak memungkinkan bagi orangtua untuk langsung menuntut anak menjadi mandiri. Seiring dengan perkembangannya, anak juga perlu diajarkan tanggung jawab dan mandiri mengurus dirinya sendiri ketika usianya memang sudah mampu untuk itu.

  • Ada untuk anak saat mereka mengalami perasaan buruk.

Anak-anak sering merasakan perasaan yang buruk seperti marah, sakit hati, sedih, dan juga takut. Perasaan-perasaan tersebut terlalu sulit untuk dikelola sendiri. Ketika anak memiliki perasaan seperti itu, dampingilah mereka sampai perasaan itu hilang. Anak akan mempelajari kepercayaan dasar, bahwa “ada seseorang disini bersamaku ketika aku dalam kesulitan”.

  • Mengekspresikan perasaan

Sejak hari-hari pertama kehidupan anak, berbicara tentang perasaan (baik anak maupun orangtua) akan membantu anak untuk dapat melabeli perasaan dan menyadari bahwa perasaan tersebut dapat dibagi dengan orang lain. Seiring dengan pertumbuhan anak, anak akan menyadari bahwa perasaan-perasaan yang mendalam mempunyai nama (marah, sedih, senang, takut) dan dapat mendiskusikannya dengan orang lain, serta pada akhirnya mereka dapat melakukan sesuatu untuk menghadapi perasaan tersebut.

  • “Kesalahan dapat terjadi”

Kesempurnaan adalah suatu yang tidak mungkin dalam proses parenting. Faktanya, bahkan “kesempurnaan” tidak direkomendasikan dalam pengasuhan anak. Anak yang mengetahui bahwa setiap anggota keluarganya pasti pernah melakukan kesalahan, akan merasa lebih aman daripada seorang anak yang berpikir semuanya harus benar pada kali pertama.

  • Menjadi orangtua yang kuat, tegar, bijaksana, dan baik hati

Inti dari kelekatan yang aman adalah pengakuan dari seorang anak bahwa dia memiliki orang tua yang dapat diandalkan untuk memberikan kelembutan dengan penuh kasih sayang, kenyamanan, perlindungan, serta bimbingan saat anak mengalami kesulitan dalam hidupnya.

Please follow and like us:
RSS
Facebook
Facebook
Instagram
Posted in Artikel by Administrator RSJS

Leave a Comment