Mendidik Anak di Era 4.0

March 17, 2020

Kemajuan teknologi memberikan dampak perubahan terhadap orang-tua dalam komunikasi dengan anak-anak, berinteraksi serta cara pola asuh atau mendidik anak-anak dalam keseharian.

Teknologi atau perkembangan jaman tidak dapat dibendung pengaruhnya. Menyerahkan anak sepenuhnya pada konten multimedia juga bukan hal yang bijak tanpa pendampingan yang baik dan terstruktur sehingga anak tetap dapat mengembangkan keterampilan mengelola diri sendiri dan merespon tantangan- tantangan di kehidupannya.

Dampak negatif yang akan mungkin dirasakan, sebagai berikut:

  1. Kurangnya daya juang anak, karena terbiasa instan dan cepat
  2. Ketidakmampuan mengambil keputusan
  3. Ketidakmampuan bertanggung jawab
  4. Lemahnya karakter
  5. Ketidakmampuan membangun impian
  6. Ketidakmampuan mengenal diri sendiri
  7. Ketidakpedulian terhadap orang lain
  8. Perilaku yang tidak sesuai dengan norma yang berlaku

Hal tersebut yang menjadi perhatian utama dan menjadi tantangan dalam menerapkan pola asuh dengan mempertahankan nilai-nilai dasar pengasuhan anak.

Terlepas dari beberapa hal diatas yang menjadi perhatian, terdapat beberapa hal pula yang mesti diperhatikan Generasi Z (tahun 1990-2010) yang berbeda dengan generasi sebelumnya, bahwa pada generasi ini sejak lahir sudah mengenal teknologi sehingga dapat mempengaruhi generasi Z, seperti:

  • Mempunyai karakter yang terbiasa mudah, cepat sehingga menjadi kurang sabar dalam proses (kecepatan lebih dikedepankan dibandingkan dengan kualitas)
  • Hilangnya daya juang karena terbiasa dengan kemudahan yang diberikan teknologi
  • Lebih menjadi sosok yang multitasker sehingga tanpa didasari menjadikan generasi Z kurang fokus dalam segala hal
  • Hingga hilangnya kemampuan sosial bahkan terhadap orang-tua, masyarakat dan lingkungan.

Hal ini menjadi perhatian khusus mulai dari generasi Z hingga memasuki masa generasi alpha (>2010).

Lalu, bagaimana kita bersikap sebagai orang-tua di jaman 4.0?

Sebelumnya kita melihat dan memahami peran dan fungsi orang-tua yang sesungguhnya tetap sama sepanjang jaman, yaitu memenuhi kebutuhan anak dan mengembangkan potensi sesuai dengan minat bakat anak (yang perlu mendapat perhatian khusus adalah “sesuai anak, bukan ambisi orang-tua..!”)

Namun, tentunya hal tersebut harus disesuaikan dengan jaman 4.0 ini, dengan:

  1. Dukungan dan bimbingan serta pengawasan terhadap konten multimedia yang diakses anak dengan memilah dan memilih dengan bijaksana agar generasi berikutnya menjadi produktif dan bermanfaat bagi masyarakat.
  2. Menghargai sebuah proses dan memberikan reward atas proses yang dilakukan anak (bukan bertumpu pada hasil). Bimbing dan pahami bahwa kerja keras pada proses akan memberikan hasil yang terbaik.
  3. Menjaga komunikasi anak dan orang-tua tetap dan senantiasa terjalin. Kekuatan bercerita, berbagi pengalaman mengenai keseharian anak, reward terhadap pencapaian dan usaha anak hingga orang-tua juga dapat bercerita tentang hal yang dilakukan orang-tua bahkan sesekali mengajak anak untuk mengikuti proses kerja atau memberikan anak tugas bersama yang dilakukan bersama orang-tua dengan menikati proses hingga memperoleh hasil dan mengevaluasi terhadap apa yang dikerjakannya.
  4. Mengembangkan keterampilan, komunikasi sosial dengan meningkatkan kerja bersama, menghargai orang lain, kemampuan pengendalian diri, kemampuan menyampaikan pikiran dan perasaan tanpa menyakiti hati orang lain serta memahami orang lain.
  5. Bagaimana menerapkan pola asuh demokrasi di jaman ini, menempatkan posisi orang-tua bukan lagi sebagai “instruktur” tetapi sebagai “rekan” atau pembimbing dengan secara konsisten menetapkan aturan dan harapan yang jelas, mendiskusikan dengan anak, menyelaraskan dengan harapan anak sehingga anak tetap dapat tumbuh dengan baik, bahagia, dapat diandalkan, dapat menghadapi situasi stres dengan baik serta nantinya dapat hidup mandiri.
  6. Suatu tindakan lebih “berbicara” dan lebih bermakna dibandingkan dengan kata-kata, terutama bagi orang-tua. Secara konsisten dan konstan memberikan contoh yang baik dari orang tua, seperti perilaku, kata-kata, perbuatan dan sebagainya diimbangi dengan gaya hidup yang seimbang antara kebutuhan fisik, mental, emosional dan spiritual akan menjadi panutan dan contoh bagi anak di masa depan.

Menjadi orang-tua bukanlah perkara menjadi sebuah kompetisi dengan output anak menjadi apa atau gengsi yang seperti yang diharapkan orang-tua. Juga bukan tugas yang mudah, namun dengan usaha yang dilakukan secara konsisten dan konstan, kita semua dapat menjadi orang-tua yang hebat dan panutan serta menjadi role-model terbaik bagi anak. Demi terciptanya generasi berikutnya yang hebat! Salam sehat jiwa.

 

oleh : dr. Bayu SP., SpKJ

RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang

Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment