Mewaspadai dan Mengurangi Kepanikan & Stigma Sosial COVID-19

March 18, 2020

Cara kita berkomunikasi tentang Covid-19 sangat penting dalam mendukung tindakan efektif untuk mengurangi rasa takut dan stigma penyakit baru ini. Saat ini penyebaran informasi yang salah (#HOAX) dan rumor telah menyebar lebih cepat daripada pandemi Coronavirus (Covid-19) itu sendiri. Kondisi ini dapat menyebabkan efek negatif termasuk stigmatisasi dan diskriminasi orang-orang dari daerah yang terdampak, serta tindakan berlebihan untuk mengamankan diri (#menimbun pangan, masker, dan hand sanitizer) yang sesungguhnya lebih didasari kepanikan akan dampak penyakit ini. Padahal kita sangat membutuhkan solidaritas bersama dan informasi yang jelas untuk mendukung penghentian penyakit baru ini. Faktanya pula dengan bersikap tenang, maka kita akan sangat membantu dalam upaya menghentikan penyebaran Coronavirus (Covid-19) dan dapat mencegah dampak negatif lainnya (#chaos massal, paranoid, kerusuhan sosial).

Stigma sosial terbukti tidak dapat meningkatkan kemampuan masyarakat modern untuk bertahan dari penyakit menular, tetapi pada kenyataannya hal tersebut malah menjadi salah satu faktor penyebab kegagalan dalam melindungi kesehatan masyarakat akibat penyakit menular baru (Smith & Hughes, 2014). Bukti yang ada jelas menunjukkan bahwa stigma dan ketakutan terhadap beberapa penyakit menular justru menghambat respon yang efektif dan memperumit penanganan kasus penyakit menular. Pengucilan penderita seperti yang terjadi pada beberapa penyakit menular (HIV-AIDS, TBC dan lainnya) malah menimbulkan dampak perburukan psikologis dan fisik bagi penderita dan keluarga. Hal ini tentunya berlaku pula pada orang yang terdampak Covid-19. Orang-orang kemudian dapat bersifat defensif dengan menyembunyikan kasusnya dan mencegah mereka mencari pengobatan yang tepat, sehingga akan semakin mempersulit pencegahan penyebaran penyakit tersebut (Perry & Donini-Lenhof, 2010).

Upaya yang harus dilakukan untuk menunjang keberhasilan penanganan Covid-19 adalah seharusnya dengan cara membangun kepercayaan pada layanan dan sarana kesehatan yang ada, menunjukkan empati pada mereka yang terdampak, memahami penyakit itu sendiri, dan mengadopsi langkah-langkah praktis dan efektif, sehingga orang dapat membantu menjaga diri dan orang yang dicintai tetap aman (WHO, 2020).

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO) beberapa upaya di bawah ini dapat kita lakukan untuk melawan stigma sosial tentang Covid-19, yaitu:

  1. Bagikan fakta dan informasi akurat berdasarkan data rujukan dari instansi resmi yang berwenang (contoh WHO; Kemenkes RI) tentang penyakit ini.
  2. Hilangkan mitos tentang Covid-19 (lihat https://www.who.int/emergencies/ diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public/myth-busters)
  3. Pilih kata-kata dengan hati-hati, karena cara kita berkomunikasi dapat memengaruhi sikap orang lain. Informasi lebih lanjut lihat https://www.unicef.org/documents/social-stigma-associated-coronavirus-disease-2019

 

Ada beberapa upaya pula yang dianjurkan WHO sebaiknya dilakukan untuk mengurangi kepanikan terhadap Covid-19, yaitu:

  1. Upayakan mengurangi menonton, membaca, atau mendengarkan berita yang menyebabkan Anda merasa cemas atau tertekan.
  2. Mencari informasi hanya dari sumber terpercaya untuk mengambil langkah-langkah praktis dalam mempersiapkan rencana perlindungan diri kita dan orang-orang terkasih dari dampak Covid-19.
  3. Carilah pembaruan informasi hanya pada waktu tertentu di siang hari, cukup sekali atau dua kali saja. Mendengar atau membaca laporan berita yang tiba-tiba dan terus menerus tentang suatu penyakit dapat menyebabkan kita lebih merasa cemas.
  4. Dapatkan faktanya; bukan rumor dan informasi yang salah. Dengan mengetahui fakta yang benar dan lengkap, maka hal ini dapat membantu mengurangi rasa takut yang tidak realistis.
  5. Kumpulkan informasi secara berkala, dari situs website terpercaya seperti WHO dan otoritas kesehatan setempat (Kemenkes RI) untuk membantu Anda membedakan fakta dari rumor.
  6. Dukung upaya memperkuat cerita yang positif dan penuh harapan, serta citra positif dari orang yang telah mengalami Covid-19. Misalnya, kisah orang yang telah sembuh atau perjuangan seseorang yang mendukung orang lain yang terdampak Covid-19. Usahakan tidak menyebutkan nama orang terdampak. Berikut ini contoh cerita positif media yang bisa dibagikan:
  1. Hargai dan dukunglah perjuangan petugas sebagai garda kesehatan terdepan dalam membantu orang yang terdampak Covid-19. Mereka sama seperti semua orang lain, bisa tertekan dan cemas dalam menghadapi kasus ini. Usahakan mengurangi beban mereka dengan menyampaikan pernyataan yang mendukung dan berikan penghargaan yang sesuai.

Akhir-akhir ini pula kita juga sering mendengar istilah social distancing, dimana seseorang dianjurkan untuk membatasi keterlibatan diri dari keramaian secara fisik untuk mencegah penyebaran virus. Hendaknya social distancing tersebut diartikan pula sebagai upaya menjauhkan diri dari keramaian media sosial. Marilah kita bersama mengendalikan kecepatan gerak jari dan pikiran masing-masing. Peduli terhadap isu mencegah penyebaran Covid-19 ini bukan berarti ikut menyebarkan ketakutan. Begitu aktif menyebar berita terbaru tentang Covid-19 tanpa berpikir dan disaring imbasnya terhadap orang lain hanya akan memperkuat dampak negatif stigma sosial dan kepanikan akibat penyakit ini. Tidak semua orang siap dengan apa yang kita sampaikan. Tindakan demikian hanya akan membuat kecemasan publik semakin meningkat. Hal ini sebenarnya bisa jauh lebih dashyat dampaknya daripada virusnya sendiri.

Lalu mengapa beberapa orang tidak mudah mempercayai stigma suatu penyakit menular dan tidak ikut menyebarkan rumor ketika menghadapi suatu penyakit menular baru? Satu penelitian untuk melihat pengaruh faktor sosiodemografik individu terhadap stigma penyakit HIV-AIDS dan SARS menunjukkan bahwa individu dengan latar belakang sumber daya pribadi yang baik dalam aspek pendidikan, dukungan sosial dan status kesehatan mental ternyata memiliki lebih banyak pengetahuan, lebih sedikit kecemasan, dan kurang menstigmatisasi penyakit menular baru. Dari penelitian ini dapat disimpulkan individu dengan sumber daya pribadi dan kesehatan mental yang baik akan lebih rasional dalam menilai ancaman penyakit menular, sehingga tidak mudah mempercayai atau menyebarkan mitos yang ada, serta membantu meminimalisir stigmatisasi penyakit menular baru (Don et al., 2006)

Semoga kita dapat belajar menjadi pribadi yang bijak dalam menyampaikan sesuatu. Saring dulu dengan kebijaksanaan sebelum sharing; apakah yang kita bagikan tersebut hanya akan menambah ketakutan atau memberikan ketenangan bagi yang lain. Beritakan (doakanlah) hal-hal yang baik sebagai upaya kita membantu penanganan dampak penyakit ini. Selamat menjadi warga +62 yang bijak.

Keep positive, calm, & be healthy. Share love, not fear !

 

oleh :  Sak Liung, dr. Sp.KJ*

*Psikiater, RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang

* Pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Indonesia (PDSKJI) cabang Yogyakarta

 

REFERENSI

Don C.D.J., Galea S., Melissa T., Susan T., & David V. Stigmatization of Newly Emerging Infectious Diseases: AIDS and SARS. Am J Public Health. 2006;96:561–567. doi:10.2105/AJPH.2004.054742)

https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public/myth-busters

Perry P., & Donini-Lenhof, F. 2010. Stigmatization Complicates Infectious Disease Management. Virtual Mentor American Medical Association Journal of Ethics Volume 12, Number 3: 225-230.

Smith, Rachel A., & Hughes D. 2014. Infectious Disease Stigmas: Maladaptive in Modern Society. Commun Stud.; 65(2): 132–138. doi:10.1080/10510974.2013.851096

WHO. 2020. Social Stigma associated with COVID-19.  A guide to preventing and addressing social stigma. https://www.unicef.org/documents/social-stigma-associated-coronavirus-disease-2019

WHO. 2020. Mental Health and Psychosocial Considerations During COVID-19 Outbreak. https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/mental-health-considerations.pdf?sfvrsn=6d3578af_10

Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment