Cara Menyampaikan Informasi Tentang Covid-19 Pada Anak

April 27, 2020

Saat ini orang tua dan guru mungkin mendapatkan tantangan bagaimana cara yang tepat untuk menyampaikan informasi tentang wabah virus Corona (COVID-19) kepada anak. Membicarakan hal ini mungkin merupakan sebuah diskusi yang rumit bagi anak-anak, namun membahas topik ini bersama anak-anak sangatlah penting dan wajib dilakukan demi menjaga keselamatan mereka. Sebenarnya tidak ada cara yang dianggap “BENAR” ataupun “SALAH” untuk menyampaikan informasi kondisi darurat kesehatan masyarakat ini kepada anak-anak.

Berikut ini beberapa saran yang mungkin dapat bermanfaat bagi orang tua atau guru untuk menyampaikan informasi tersebut, di antaranya:

  1. Ciptakan lingkungan yang terbuka dan suportif, sehingga anak tahu bahwa mereka bisa bertanya kapanpun mereka butuhkan. Pada saat yang sama, sebaiknya tidak memaksa anak untuk membicarakan hal-hal tersebut sampai mereka sendiri siap untuk membicarakannya.
  2. Jawablah semua pertanyaan anak secara jujur. Anak-anak biasanya akan tahu atau pada akhirnya mereka akan mencari tahu jika Anda “mengada-ada”. Ini dapat memengaruhi kemampuan mereka untuk mempercayai Anda di masa depan.
  3. Gunakan kata-kata dan konsep yang bisa dipahami anak-anak. Persiapkan penjelasan Anda sesuai usia, bahasa, dan tingkat perkembangan anak.
  4. Bantu anak-anak menemukan informasi yang akurat dan terkini. Cetak lembar fakta tentang COVID-19 dari sumber terpercaya, yaitu: Kemenkes RI, CDC atau WHO.
  5. Bersiaplah untuk mengulangi informasi dan penjelasan beberapa kali. Beberapa informasi mungkin sulit diterima atau dimengerti anak. Mengajukan pertanyaan yang sama berulang kali mungkin juga menjadi cara bagi seorang anak untuk meminta jaminan (reassurance).
  6. Mengakui dan memvalidasi pikiran, perasaan, dan reaksi anak. Biarkan anak mengetahui bahwa Anda berpikir pertanyaan yang diajukan dan kepedulian mereka terhadap kondisi ini merupakan sesuatu yang penting dan sesuai.
  7. Ingat bahwa anak-anak cenderung mempersonalisasikan situasi ini menjadi miliknya. Misalnya, mereka mungkin khawatir tentang keselamatan mereka sendiri dan keselamatan anggota keluarga dekat. Mereka mungkin juga khawatir tentang teman atau kerabat yang bepergian atau tinggal jauh.
  8. Berusahalah meyakinkan atau menenangkan anak, tapi jangan membuat janji yang tidak realistis. Tidak masalah membiarkan anak mengetahui bahwa mereka aman di rumah atau sekolah. Tapi jangan berusaha menenangkan anak dengan cara berbohong bahwa tidak ada kasus virus Corona di sekitar lingkungan / negara Anda.
  9. Biarkan anak-anak tahu bahwa ada banyak orang yang bersedia membantu orangorang yang terkena dampak wabah virus. Ini adalah kesempatan yang baik untuk menunjukkan kepada anak bahwa ketika sesuatu yang menakutkan atau buruk terjadi, selalu ada orang yang berbaik hati untuk membantu dan ajarkan anak beberapa contoh tindakan kecil untuk membantu orang lain.
  10. Anak-anak belajar dari memperhatikan orang tua dan guru mereka. Mereka akan sangat tertarik dengan cara Anda merespons berita tentang wabah virus Corona. Mereka juga belajar dari mendengarkan percakapan Anda dengan orang dewasa lainnya.
  11. Jangan biarkan anak-anak menonton televisi yang terlalu banyak menampilkan gambar-gambar yang menakutkan. Pengulangan adegan seperti itu bisa mengganggu dan membingungkan bagi mereka.
  12. Anak-anak yang pernah sakit atau kehilangan yang serius di masa lalu sangat rentan terhadap reaksi yang berkepanjangan atau intens dari berita atau gambar yang menampilkan kesakitan atau kematian. Anak-anak seperti ini mungkin membutuhkan dukungan dan perhatian yang lebih ekstra dibandingkan anak-anak pada umumnya.
  13. Anak-anak yang terus menerus bertanya dan tampak begitu khawatir tentang wabah virus corona harus dirujuk untuk dievaluasi oleh profesional kesehatan mental (PSIKIATER dan atau psikolog). Tanda-tanda lain bahwa seorang anak mungkin memerlukan bantuan tambahan profesional meliputi: adanya gangguan tidur, pikiran atau kekhawatiran yang sangat mengganggu, kekhawatiran berulang tentang penyakit atau kematian, enggan berpisah dengan orang tua atau pergi ke sekolah. Jika perilaku seperti itu tetap ada, mintalah dokter anak, dokter keluarga, atau konselor sekolah anak Anda untuk membantu mengatur rujukan yang tepat ke PSIKIATER dan atau psikolog terdekat.
  14. Meskipun orang tua dan guru dapat mengikuti berita terbaru harian dengan penuh minat dan perhatian, sebagian besar anak hanya ingin menjadi anak-anak. Mereka mungkin tidak fokus berpikir tentang apa yang terjadi di seluruh negeri atau tempat lain di dunia. Mereka lebih memilih untuk tetap bermain bola, naik kereta luncur, memanjat pohon atau naik sepeda seperti biasanya. Dampingi dan beri pengertian bagi mereka jika mungkin sementara ini anak belum bisa bebas melakukannya.
  15. Keadaan darurat kesehatan masyarakat seperti saat ini tidak mudah dipahami atau diterima oleh siapa pun termasuk anak-anak. Oleh karena itu wajar jika banyak anak kecil merasa takut dan bingung. Sebagai orang tua, guru, dan orang dewasa yang peduli, maka kita dapat membantu dengan mendengarkan dan merespons ketakutan mereka dengan cara yang jujur, konsisten, dan mendukung. Untungnya, sebagian besar anak, bahkan mereka yang terpapar kehilangan atau penyakit biasanya cukup tangguh menghadapi ini semua. Namun, dengan menciptakan lingkungan terbuka di mana anak dapat merasa bebas untuk mengajukan pertanyaan, maka kita semua akan membantu anak menghadapi peristiwa dan pengalaman yang menegangkan tersebut dengan tenang, serta mengurangi risiko terjadinya gangguan mental emosional pada anak.

*Disadur dan dikompilasi kembali oleh dr. Sak Liung, Sp.KJ, dari sumber referensi: Fassler, David. 2020. Talking to Children
about Coronavirus (COVID-19). American Academy of Child & Adolescent Psychiatry.www.aacap.org

Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment