Anak Melihat, Anak Melakukan (Children See, Children Do)

May 8, 2020

Menjadi orang tua tentu tidaklah semudah yang dibayangkan. Menjadi orang tua adalah proses belajar seumur hidup bersama anak. Bahkan ketika kita telah menjadi seorang nenek/kakek pun, kita akan terus belajar menjadi orang tua yang baik untuk mendukung pengasuhan yang efektif bagi cucu-cucu kita. Ketika belakangan ini nilai-nilai luhur kemanusiaan kita rasakan mulai luntur dari sendi-sendiri kehidupan, maka sepatutnya kita kembali menilik proses pengajaran nilai-nilai luhur kemanusiaan yang tentu berasal dari guru pertama kita, yaitu orang tua. Di samping faktor lain seperti lingkungan luar, sejatinya perilaku orang tua mereka adalah guru dan model terbaik yang akan selalu menjadi panutan baik atau buruknya perilaku anak.

Suatu hari dalam tugas sebagai seorang psikiater, saya berjumpa seorang Ibu yang mengeluhkan anaknya yang terbiasa memukul dan menendang ketika keinginannya tidak terpenuhi. Ketika hendak diperiksa terlihatlah seorang anak yang begitu polos, ketakutan dan memeluk kuat si ibu dengan manja. Sang Ibu sambil menangis menceritakan kondisi rumah tangganya yang penuh dengan kekerasan yang didapatkan dari suami-suaminya. Ibu tersebut telah menikah 2 kali. Kekerasan tidak hanya dari suami pertama, tapi suami yang sekarang pun tidak jauh berbeda perlakuannya. Istilah anak jaman NOW: 11-12. Tidak kuat mengalami itu semua, si Ibu pun berulang kali timbul keinginan untuk mengakhiri hidupnya, namun syukurnya beliau terus bertahan dan mengurungkan niat ketika mengingat nasib anak-anaknya. Naluri seorang Ibu telah menyelamatkan jiwanya.

Si Ibu pun sambil menangis sempat bertanya: “Apakah ini semua karena anak saya bertumbuh dalam keluarga yang broken dan apa yang harus saya
lakukan dok?” Jujur hati saya trenyuh mendengar pertanyaan tsb, sekaligus bingung apa yang harus saya jawab. Saya paham bahwa berbagai perilaku
anak yang tidak sesuai norma memang berasal dari keluarga yang “sakit”. Namun ketika saya menjawab iya, apakah hal ini tidak akan membuat hati si Ibu semakin terluka?

Anak tersebut ternyata acapkali melihat ibu disakiti. Sang Ibu pun menceritakan bahwa ketika amarahnya memuncak, dia pun akan mencubit
anaknya. Dalam pikiran saya terlintas, tampaknya perilaku memukul anak tersebut didapatkan dari pengalaman traumatik relasi orang tua dan kurang efektifnya pola pengasuhan orang tua. Sayangnya pola maladaptif seperti ini hanya akan terus diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya jika tidak segera diubah dan dilakukan intervensi yang tepat.

Ketika kita sambil berteriak ingin mengajarkan anak untuk tidak berteriak, maka bukankah kita sendiri telah mengajarkannya untuk terus berteriak. Pun ketika kita meminta anak untuk tidak merokok namun seringkali kita merokok di hadapannya, apakah mungkin anak dapat berhenti merokok?

Saya teringat sebuah kutipan: “Children have never been very good at listening to their elders, but they have never failed to imitate them” (James
Baldwin). Anak adalah seorang imitator ulung yang akan selalu meniru apapun pengalaman yang mereka dapatkan selama masa perkembangan
kehidupannya. Video berikut ini akan menggambarkan lebih tepat apa yang ingin disampaikan dalam tulisan ini: https://youtu.be/jOrGsB4qG_w

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk menyalahkan pihak manapun apalagi orang tua. Proses yang dihadapi masing-masing orang tua dalam mendidik anak mereka begitu kompleks. Saya percaya mereka pun telah begitu menderita dan terus berjuang untuk kehidupannya sendiri. Namun tulisan ini adalah sebuah upaya refleksi bagi semua. Saatnya kita refleksikan bersama dari mana anak belajar berperilaku baik atau buruk? Di sanalah kunci jawaban atas pertanyaan sang Ibu. Anak-anak adalah cermin diri kita. Mereka akan terus menjadikan kita orangtua sebagai panutannya, entah itu baik atau buruk. “While we try to teach our children all about life, our children also teach us what life is all about (Angela Schwindt). What it’s like to be a parent: It’s one of the hardest things you’ll ever do but in exchange it teaches you the meaning of unconditional love” (Nicholas Sparks).

Selamat belajar & bertumbuh kembang dalam cinta bersama anak-anak kita. Salam ….

 

oleh : dr.sakliung, Sp.KJ

# Learning, Sharing, Caring

Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment