Membentuk Karakter Anak di 1000 HPK

July 22, 2020

Karakter didefinisikan secara berbeda oleh berbagai pihak. Sebagian menyebut karakter sebagai penilaian subjektif terhadap kualitas moral dan mental. Karakter mengacu pada serangkaian sikap, perilaku dan keterampilan. Begitu besar pengaruh karakter terhadap kehidupan seseorang sehingga pembentukan karakter harus dilakukan sejak usia dini agar anak terbiasa berperilaku positif.

Kenapa di 1000 hari pertama? Karena pada masa ini merupakan masa sebagai pondasi utama di kehidupan manusia yang dapat dipengaruhi oleh pola pengasuhan di 1000 hari pertama. Dimuali sejak awal konsepsi atau selama 270 hari masa kehamilan serta 730 hari setelah lahir (hingga anak berusia 2 tahun).

1000 hari pertama kelahiran ini merupakan periode penting dalam pertumbuhan (penambahan BB, tinggi badan serta lingkar kepala) dan perkembangan anak (motorik kasar, halus, sosial emosional, interaksi sosial, serta kognitif). Pada periode ini perkembangan otak, pertumbuhan secara fisik dan mental terjadi begitu cepat.

Oleh karena hal tersebut, butuh peranan keluarga (lingkungan sekitar anak) dalam memberikan pengasuhan yang tepat sehingga nantinya anak dapat mempunyai karakter yang baik.

Peranan penting keluarga dalam membentuk karakter anak, diantaranya:

  • Fungsi keagamaan
  • Fungsi sosial
  • Fungsi cinta kasih
  • Fungsi perlindungan
  • Fungsi reproduksi
  • Fungsi sosialisasi dan penddidikan
  • Fungsi ekonomi
  • Fungsi pembinaan lingkungan

Keterbatasan apa yang perlu diketahui yang dapat mengakibatnya pengasuhan anak kurang optimal di 1000 hari pertama kehidupan, sebagai berikut:

  1. Pernikahan yang tidak disiapkan dengan matang (meningkatnya pernikahan di usia dini)
  2. Keterbatasan kondisi ekonomi
  3. Pendidikan masyarakat yang rendah terkait mengenai pola pengasuhan yang baik (pengetahuan, sikap dan keterampilan)

Dengan pemberian stimulasi yang tepat di awal kehidupan, perkembangan dan pertumbuhan anak menjadi optimal. Beberapa stimulasi yang dapat diberikan kepada anak di masa kehidupannya diantaranya:

  • Stimulasi paling awal yang dapat diberikan adalah sentuhan.
  • Stimulasi taktil sederhana seperti sentuhan (untuk mendukung kerja sel saraf anak)
  • Stimulasi visual (untuk perkembangan sistem penglihatan anak)
  • Kemudian diberikan stimulasi yang lebih komplek seperti permainan edukatif
  • Dimana, untuk mendapatkan hasil yang optimal, stimulasi perlu diberikan secara rutin dan konsisten.

Selain pemberian stimulasi pada awal kehidupan, pembentukan karakter juga harus dilakukan sejak usia dini. Dalam pendidikan karakter, setiap anak memiliki potensi untuk berperilaku positif atau negatif. Jiwa ibu-ayah membentuk karakter positif sejak anak usia dini, maka yang berkembang adalah perilkau positif tersebut. Begitu juga, sebaliknya.

Cara membangun karakter anak:

  1. Pembentukan karakter dipengaruhi faktor bawaan dan lingkungan
  • Bawaan dari dalam diri anak
  • Pandangan anak terhadap dunia yang dimiliki (pengetahuan, pengalaman, prinsip moral yang diterima, bimbingan, pengarahan, interaksi (hubungan) orangtua-anak.
  • Lingkungan yang positif akan membentuk karakter yang positif pula untuk anak.
  1. Orang tua yang berkarakter menumbuhkan anak yang berkarakter
    • Dimulai dari kedua orang tua. Orang tua/ keluarga dituntut untuk menerapkan nilai-nilai moral dalam keseharian, serta memperlakukan dan memberikan contoh dari orangtua/ keluarga bagaimana menerapkan nilai-nilai moral tersebut. Mulai dari perilaku, cara bicara dan di segala aspek kehidupan.
  2. Pembentukan karakter dimulai sejak dini.
    • Kenapa sejak usia dini? Karena di usia dini inilah, masa keemasan yang merupakan masa terbaik dalam proses belajar anak. Pertumbuhan dan perkembangan anak di masa ini sangat cepat dan sangat menentukan bagaimana nantinya sifat/ karakter anak di masa remaja/ dewasa.
    • Di masa ini kita sebagai orang tua harus memaksimalkan peran sebagai orang tua sebagai role model dengan menjadi contoh terbaik bagi anak.
    • Lingkungan rumah dalam hal ini juga berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak. Dapat dilihat dari cara berpakaian, bersikap, berperilaku dalam keseharian, berbicara/ berkata-kata, serta sikap lain seperti jujur, bisa dipercaya, penuh perhatian, peduli, toleransi, luwes dan sifat baik lainnya. Seperti kata pepatah “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”
  3. Proses pembentukan karakter berlangsung seumur hidup
    • Dan berikutnya kita akan selalu belajar memperbaiki diri dengan proses pembentukan karakter yang kita lewati. Anak akan umbuh dengan baik bila orangtua menganut prinsip 3A Asih (kasih), Asah (memahirkan), dan Asuh (bimbingan)
  4. Mencintai anak tanpa syarat
    • Terakhir dengan mencintai anak tanpa syarat. Anak akan mengembangkan pergaulan sosialnya secara sehat jika:
      1. Adanya perasaan berharga
      2. Perasaan mampu
  • Pantas dicintai
  • Setiap anak membutuhkan perhatian, sapaan, penghargaan positif dan cinta tanpa syarat sehingga anak dapat mengembangkan seluruh kemampuan yang ada dalam dirinya dengan baik.
  • Bukan berarti mencintai tanpa syarat, tidak boleh menegur bila anak melakukan perbuatan negatif. Maka, orangtua berhak untuk menunjukkan kesalahan sikap/ perbuatan yang negatif tersebut sekaligus tetap menghargai pendapat anak.

Pengembangan karakter anak tidak muncul dalam sekejap, perlu dibentuk dan dikembangan sejak usia dini. Menurut Goleman bahwa kegagalan penanaman karakter pada masa usia dini akan membentuk pribadi yang bermasalah di masa dewasa. Jika karakter anak dibentuk dengan baik, kelak anak akan memiliki kepribadian yang baik di masa depan nya (Siswanta, 2017).

Pembentukan karakter anak mencakup : (megawangi, 2010)

  1. Cinta tuhan dan ciptaannya
  2. Kemandirian dan tanggung jawab
  3. Kejujuran dan kebijakan
  4. Dermawan, suka menolong dan gotong royong
  5. Percaya diri, kreatif dan pekerja keras
  6. Kepemimpinan dan keadilan
  7. Baik dan rendah hari
  8. Toleransi, kedamaian dan kesatuan

Dimulai dari orang tua, seperti bagaimana orang tua dapat memberikan teladan dengan memberi contoh (baik secara perilaku, maupun cara bicara, perkataan hingga keteladanan lain; berkata jujur, gemar membaca, bertutur kata baik dan suka menolong). Kemudian lakukan pembiasaan bersama orang tua dengan kebiasaan-kebiasaan baik yang sudah terbentuk. Dan terakhir memberikan penghargaan dengan memberikan pujian bila anak sudah berlaku baik, dan tidak lupa memberikan nasehat serta bimbingan bila ada perilaku yang kurang tepat dari anak.

Beberapa pakar teori perkembangan menyebutkan bahwa perkembangan karakter kepribadian penting sekali dilakukan ketika anak di masa usia dini.

  • Erik ericson dengan teori perkembangan psikososialnya juga menyatakan bahwa lingkungan sangat penting untuk memberikan pertumbuhan, penyesuaian serta identitas anak yang akan terus berkembang dari lahir hingga meninggal dunia.
  • Sigmund freud menyebutkan bahwa kepribadian sebagian besar dibentuk pada usia 5 tahun. Awal perkembangan kepribadian anak akan terus mempengaruhi pembentukan karakter dan perilaku anak di kemudian hari

Tahapan perkembangan dari Erik Ericson yang mencakup 1000 HPK diantaranya adalah:

  1. Percaya versus tidak percaya di usia 0-1 tahun. Usia ini anak sedang belajar mengembangkan rasa sikap percaya atau tidak percaya. Dimana bayi sudah mulai terbentuk rasa percaya baik kepada ibu atau pengasuhnya. Hal ini terlihat dari kualitas hubungan anak dengan ibu/ pengasuh. Bila ibu/ pengasuh dapat memberikan kasih sayang dan rasa aman yang baik, sehingga anak dapat mengembangkan sikap rasa percaya nya dan akan tumbuh denga sikap percaya akan menjadi anak yang pemberani dan penuh harapan. Sebaliknya, kegagalan pada tahap ini terjadi akibat kesalahan dalam mengasuh atau merawat maka akan timbul rasa tidak percaya terhadap lingkungan di kemudian hari dan kecenderungan berkepribadian skizoid,, introvert dan akan mudah rapuh bila mendapatkan suatu stresor.
  2. Tahap otonomi versus rasa malu dan ragu di usia 1-3 tahun merupakan tahap perkembangan kedua dari Erik Ericson. Di tahap ini, anak belajar mengenai konsep kemandirian. Anak mulai mencoba dan mandiri dalam berbagai hal seperti motorik (berjinjit, memanjat, berbicara dll). Dan di tahap ini ibu/ pengasuh dapat mengajarkan hal-hal kemandirian sederhana seperti belajar makan sendiri, cuci tangan serta tidur sendiri. Jika anak tidak diberikan kepercayaan dari ibu/ pengasuh karena terlalu mengontrol secara berlebihan/ tidak percaya/ menuntut harapan yang terlalu tinggi pada anak, anak tidak akan menjadi sosok yang mandiri dan berani, dan berpotensi mempunyai kepribadian obsesi kompulsif di kemudian hari. Begitupun sebaliknya, bila di fase ini berhasil dilewati dengan baik, maka anak akan mempunya rasa percaya diri dan mandiri.

Sedangkan tahap perkembangan dari Sigmund Freud

  1. Tahap pertama di usia lahir-1.5 tahun merupakan tahap oral dengan fokus perasaan senang dan karakteritik perilakunya mencari stimulasi oral, menghisap apapun yang ada disekitar anak ke dalam mulut meskipun tidak dalam kondisi lapar. Apabila terjadi fiksasi (kegagalan) di fase ini, di kemudian hari anak akan mengalami hal yang berkaitan dengan oral seperti merokok, berkata kotor, alkoholisme, hingga mempunyai kepribadian tidak matang dan menuntut.
  2. Tahap kedua di usia 1.5-3 tahun merupakan tahap anal dengan fokus menikmati saat mengeluarkan dan menahan feses. Di usia ini, proses toilet traninig di KM saat BAB merupakan salah satu media belajar untuk anak bagaimana menjadi peristiwa pertama dalam kehidupannya dapat memutuskan sesuatu, seperti akan menahan feses atau dikeluarkan. Apabila proses tersebut terlalu cepat dipotong oleh ibu/ pengasuh sehingga tidak tuntas, anak akan terhambat (fiksasi) di fase ini. Di kemudian hari anak berpotensi mempunyai kepribadian menantang, mudah bosan dan takut dimarahi.

Dengan mengetahui tahapan perkembangan sesuai dengan usia anak, kita sebagai orang tua dapat memenuhi kebutuhan anak mulai dari apa yang dibutuhkan hingga bagaimana penerapannya. Karakter tidak hanya dipengaruhi oleh faktor bawaan, tetapi lingkungan (terutama keluarga) memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menentukan masa depan anak serta masa depan indonesia secara umum. Selamat hari anak nasional 2020.

 

Referensi

Yani, 2018. Pengasuhan anak di 1000 hari pertama kehidupan. Bkkbn.go.id

Britto et al. 2017. Nurturing care: promoting early childhood development. The Lancet.

Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini. 2011. Membangun Karakter Anak Usia Dini. Kementerian Pendidikan Nasional

Musfiroh, 2008. Pengembangan karakter anak melalui pendidikan karakter. Yogyakarta: Penerbit Tiara Wacana

Megawangi, 2010. Pengembangan progrram pendidikan karakter di sekolah. Makalah. IHF JKT

Nurhidayah, 2011. Kelekatan dan Pembentukan Karakter. Aturats, Vol 7, No.2, Agustus 2011

Siswanta, 2017. Pengembangan karakter kepribadian anak usia dini. Institut Agama Islam Negeri: Salatiga

 

— dr. Bayu S.P, SpKJ —

 

Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment