Terapi Sensori Modulasi Bagi Klien Lansia

August 6, 2020

“Saya teringat pada seorang wanita sepuh di lorong koridor, duduk bersama beberapa kucing. Dia sangat sedikit bicara. Dia nampak asyik berbagi sisa makanan dengan kucing – kucingnya.
Memandangi mereka. Mendengarkan riuh suaranya. Membelainya. Ketika dirasa cukup, dia beranjak lalu memulai mengepel lantai. Ini berlangsung hampir setiap hari, sepanjang yang pernah saya lihat.”

Kesan yang didapat dari cerita di atas, dinamakan pengalaman sensori. Pengalaman sensori adalah peristiwa sehari – hari yang dialami oleh setiap individu berkaitan dengan penggunaan fungsi
sensori, atau fungsi indera. Dari pengalaman sensori tersebut, seseorang kemudian membentuk persepsi atau kesan. Dalam hal ini, persepsi adalah peristiwa individual yang sangat mungkin akan berbeda antara individu satu dengan yang lain. Begitupun pada lansia, contoh di atas melibatkan aktivitas sensori (taktil, audio, visual) yang mungkin cukup bermakna secara psikologis. Lansia dapat merasakan kenyamanan atau ketenangan, atau mungkin me-recall ingatan lama yang membahagiakan, dengan stimulus dari aktivitas sensori.

Sensory modulation atau sensori modulasi adalah bagian dari kondisi manusia dan merupakan proses berkelanjutan yang sering kita perhatikan. Miller, Reisman, McIntosh & Simon (2001) mengacu pada sensori modulasi sebagai kemampuan untuk mengatur derajat, intensitas dan sifat tanggapan terhadap input sensoris dengan cara yang bertingkat dan adaptif. Ini memungkinkan individu untuk mencapai dan mempertahankan tingkat kinerja optimalnya dan beradaptasi terhadap tantangan sehari – hari. Tanggapan sensoris biasanya dapat dieksplorasi dari kedua sisi yaitu
tanggapan neuro-fisiologis dan perilaku.

Seseorang dengan gangguan mental dapat mengalami gangguan dalam mempersepsikan input sensori, menjadi hipo atau hiperaktif maupun menyimpang, sehingga memunculkan persepsi dan
respon perilaku yang tidak sesuai. Tujuan sensori modulasi dalam lingkup kesehatan mental adalah mendukung seseorang dalam pengaturan dirinya sendiri dengan memberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang melibatkan indera.

Dalam perawatan lansia, aktivitas sensori modulasi mendayagunakan fungsi indera sebagai sarana terapeutik. Selain panca indera yang telah umum diketahui, sensori modulasi menambahkan
kategori sensori : proprioception dan vestibular. Proprioception yaitu mengacu pada sensasi yang berasal dari otot, tendon, dan sendi, misalnya gerakan senam, melompat dll. Sedangkan
Vestibular mengacu pada sensasi yang berasal dari rangsangan pada mekanisme vestibular dari telinga bagian dalam, terjadi melalui perubahan posisi dan gerakan, misalnya memakai kursi goyang, berayun dll.

Secara terstruktur (Occupational Therapy Annual Meeting, NorthWestern Mental Health Australia, 2017), sensori modulasi dilakukan dengan beberapa tahapan:
1. Kuisioner Sensory Profile. Yaitu pengkajian profil sensori klien. Dengan pengisian form ini, terapis akan menilai kategori profil sensori klien, apakah kelompok low registratin, sensation seeking, sensory sensitivity atau sensational avoiding.
2. Pengisian sensory safety tool. Berisi catatan pengkajian riwayat trauma atau hal – hal sensoris yang membuat stress yang lebih baik dihindari.
3. Pengkajian self rating tool. Dilakukan uji coba tingkat kepekaan klien terhadap stimulus. Misal volume suara pada level berapa yang membuat klien terganggu, tenang dan mengantuk.
4. Pengisian individual sensory diet. Berisi kesimpulan dan rencana program terapi sensori modulasi.

Sensory modulation therapy idealnya memiliki ruang khusus yang disebut dengan sensory room. Yaitu ruangan khusus untuk melaksanakan terapi yang diatur sedemikian rupa agar mendukung proses terapi, misal : warna dinding, suhu, pencahayaan, ketersediaan alat, akses dan keamanan. Namun tidak menjadi hambatan apabila tidak ada sensory room. Terapi dapat dilakukan di ruangan maupun di luar ruangan. Kegiatan sensori modulasi dapat melalui berbagai aktivitas yang melibatkan satu indera atau beberapa indera sekaligus. Misalnya mendengarkan musik, melihat gambar, mengidentifikasi warna, meraba bentuk atau tekstur, masase, senam, yoga, latihan keseimbangan, atau kegiatan – kegiatan seperti berkebun, melukis, memasak, berinteraksi dengan hewan peliharaan dan sebagainya.

Sangat perlu bagi terapis untuk menilai kondisi umum klien seperti fungsi kognitif, termasuk kemampuan memecahkan masalah, kemampuan untuk menggeneralisasi dan terlibat dalam  pemikiran abstrak. Informasi ini akan memiliki signifikansi pada tingkat dukungan yang diperlukan untuk peralatan sensorik tertentu serta tingkat kesesuaian sensori modulasi.

Hal lain yang perlu diperhatikan :

  1. Riwayat peristiwa traumatik. Misal klien yang trauma terhadap laut tidak bisa menggunakan audio atau visual tentang laut, klien ansietas mungkin mengalami peningkatan ansietas bila
    terapi menggunakan ayunan atau kursi goyang.
  2. Diagnosa: pelajari pedoman yang memberikan rekomendasi untuk jenis peralatan sensori modulasi dan teknik yang bermanfaat/kontra indikasi dengan diagnosis medis tertentu.
  3. Masalah medis: gangguan indera tertentu.
  4. Kebudayaan klien.
  5. Tingkat kemampuan klien.
  6. Keamanan alat dan tempat.
  7. Perubahan status mental klien.
  8. Intensitas, frekuensi, durasi. Perlu diperhatikan kemampuan toleransi klien lansia. Durasi yang singkat dengan frekuensi sering dan intensitas bertahap mungkin lebih efektif bagi lansia.

Pelaksanaan sederhana dari terapi sensori modulasi adalah dengan mengetahui jenis stimulasi sensori yang mampu dan mau dilakukan oleh lansia. Dampingi klien lansia selama proses penggunaan stimulasi sensori untuk mengevaluasi respon. Jadi, bukanlah suatu terapi ketika misalnya, lansia dibiarkan mendapatkan stimulasi, misal audio visual melalui televisi, namun tanpa pengawasan dan tanpa tujuan yang terencana, evaluasi dan rencana tindak lanjut.

Lansia dalam semua kondisi kognitif dapat dilibatkan dalam sensori modulasi asalkan sesuai dengan tingkat profil sensorinya. Mari ajak lansia kita untuk mengoptimalkan kapasitasnya, melalui
kegiatan sensori modulasi sederhana. Ingat, hal –hal sederhana dapat berdampak luar biasa bagi kesehatan mental dan fisik lansia.

***

(Ermawati, AMK – perawat RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang)

Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment