Belajar Daring dari Sudut Pandang Orangtua

September 10, 2020

Beberapa bulan belakangan, kesibukan Ika bertambah. Ia harus mendampingi Sisil, anak semata wayangnya, belajar daring. Bahkan tak jarang, ia juga diminta membantu tetangga, atau orangtua murid yang lain untuk mengaplikasikan pembelajaran daring. Meskipun aplikasi yang digunakan untuk pembelajaran juga tergolong umum, seperti Whatsapp, word, dan pdf, namun masih ada orangtua siswa yang tak paham cara mengoperasikannya.

Sisil bersekolah di sekolah negeri dekat rumah. Di lingkungan sekitarnya, masih ada beberapa orangtua siswa (juga siswa) yang tidak memiliki handphone untuk menunjang kegiatan pembelajaran daring ini sehingga merasa kebingungan. Setelah berkoordinasi dengan pihak sekolah, beberapa siswa yang tidak memiliki handphone melakukan pembelajaran secara berkelompok, sehingga mereka melakukan aktivitas pembelajaran bersama, melalui videocall yang dihubungkan dengan guru yang bersangkutan, diberi pertanyaan satu persatu, hingga mengabsen melalui VoiceNote di WhatsApp. Materimaterinya pun diberikan dalam bentuk video yang berdurasi kurang dari 2 menit. Meski begitu, metode ini masih banyak dikeluhkan karena siswa merasa materinya kurang jelas, dan orangtua juga tidak paham.

Bisa dibayangkan bukan, kebingungan seorang ibu rumah tangga yang biasanya menakar bumbu-bumbu di dapur, tiba-tiba harus menjelaskan kepada anaknya bagaimana cara menghitung volume jajaran genjang?

Bagi kebanyakan orangtua yang dua-duanya bekerja, pembelajaran sistem daring ini juga cukup membuat kewalahan. Seperti yang diungkapkan
Rian, ayah dari Putri dan Ratu, yang masih duduk di bangku kelas 4 dan 2 SD. “Cukup repot mengatur waktunya sih. Apalagi saya dan istri sama-sama bekerja. Harus bagi waktu sama istri. Susahnya, kalau pas kebagian shift malam nemenin anakanak mengerjakan tugas, mereka sudah ngantuk. Kami juga capek pulang kerja. Tapi yaa…mau bagaimana lagi,” katanya.

“Pokoknya meski capek, harus sabar. Komunikasi juga sama gurunya, biar lebih jelas sekalian bisa menanyakan perkembangan anak kita,” tambahnya.

Begitulah. Banyak ‘kerepotan’ yang muncul karena pembelajaran jarak jauh yang diberlakukan akibat pandemi Covid-19. Tahun ajaran baru 2020/2021 memang agak berbeda daripada tahun ajaran sebelumnya. Tahun ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan Surat Edaran Nomor 15 Tahun 2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar Dari Rumah Dalam Masa Darurat Penyebaran covid-19.

Metode dan media pelaksanaan belajar dari rumah dilaksanakan dengan pembelajaran jarak jauh yang dibagi dalam 2 pendekatan yaitu pembelajaran jarak jauh dalam jaringan atau daring, dan luar jaringan atau luring. Media pembelajaran jarak jauh secara luring dilakukan melalui program siaran televisi nasional, radio, modul belajar mandiri dan lembar kerja, bahan ajar cetak, alat peraga dari benda, dan lingkungan sekitar. Sedangkan media pembelajaran jarak jauh daring terdapat 23 laman yang dianjurkan oleh Kemendikbud untuk diakses oleh peserta didik sebagai sumber belajar.

Tapi memang, banyak pihak yang menilai kegiatan belajar secara daring sebetulnya belum efektif karena dilakukan secara mendadak, tanpa persiapan matang, sehingga banyak kendala yang dihadapi, terutama bagi orangtua. Diantaranya:

  1. Teknologi, lebih spesifiknya internet, ponsel pintar, dan laptop sekarang digunakan secara luas untuk mendukung pembelajaran jarak jauh.
    Masalahnya, tidak semua siswa datang dari keluarga yang memiliki latar belakang finansial cukup untuk mendukung sistem pembelajaran
    daring tersebut.
  2. Adanya tambahan biaya untuk membeli kuota internet. Yang artinya tambahan biaya hidup setiap keluarga.
  3. Kadang anak-anak kurang fokus saat belajar di rumah, apalagi kalau melihat teman-temannya bermain.
  4. Kadang anak-anak bosan jika harus berlamalama menghadap laptop.
  5. Kompetensi orang tua sebagai pendamping yang membantu tugas guru memerlukan kecakapan dalam pemahaman teori

Perpanjangan masa belajar di rumah ini juga dikeluhkan oleh para orang tua, pasalnya banyak PR yang bukan hanya menjadi tanggung jawab
anak tetapi juga orang tua. Karena pelaksanaan pembelajaran di rumah ataupun online harus dibawah bimbingan orang tua, diawasi dan dievaluasi oleh orang tua.

Efek lainnya, perpanjangan masa belajar di rumah, secara otomatis mengakibatkan tambahan PR sehingga membuat anak lebih stress. Kalau ini
berkepanjangan, dikhawatirkan akan berimbas pada mutu pendidikan. Anak-anak ada yang kehilangan mood/gairah belajar, atau malah terbiasa asyik bermain gadget, jiwa sosialnya hilang. Di sisi lain, mengukur kemampuan siswa, bisa jadi tidak obyektif /sama rata akibat tidak adanya tatap muka, karena proses belajar atau ujian di rumah tentu bisa dibantu oleh orangtua/ keluarga.

Hanya saja saat ini memang kondisi tersebut tak bisa dihindarkan. Dengan semua tahap persiapan dan proses yang benar, kita hanya bisa berharap anak-anak lama kelamaan akan memahami bagaimana metode belajar daring dengan benar. Tapi jika memang metode belajar tatap muka/daring ke depannya terus digunakan, segala faktor pendukungnya juga harus dipikirkan.

Agar Si Kecil dapat belajar secara efektif

Agar Si Kecil dapat belajar secara efektif walau di rumah saja, orang tua perlu melakukan hal-hal berikut ini:
• Membuat rencana target belajar anak Situasi belajar di rumah memang kurang ideal seperti saat belajar di sekolah. Orang tua perlu membuat adaptasi dan target belajar yang realistis sesuai dengan kondisi rumah. Misalnya faktor gangguan seperti adanya saudara yang dapat mengganggu kegiatan belajar, sarana dan prasarana belajar daring, serta menyesuaikan dengan jadwal WFH orang tua.
• Menjalankan kebiasaan yang sama dan ajarkan tanggung jawab Walaupun hanya di rumah, upayakan Si Kecil tetap menjalankan rutinitas harian yang sama ketika belajar di sekolah. Seperti bangun pagi, melakukan kegiatan belajar mengajar daring atau luring, baru setelahnya anak dapat bermain. Hal ini perlu dilakukan agar anak lebih aman, nyaman, dan tidak cemas terhadap perubahan situasi belajar yang ada. Orang tua juga perlu mengajarkan tanggung jawab kepada Si Kecil terhadap tugas sekolahnya selama di rumah. Hal ini agar Si Kecil tidak melewatkan waktu belajar untuk melakukan hal yang disukainya terutama bermain. Dengan begitu Si Kecil tetap mendapatkan materi pembelajaran secara teratur dan bermain secara seimbang layaknya pada masa sekolah biasa.
• Sabar
Selama belajar dari rumah, orang tua akan menjadi tutor anak menggantikan guru. Untuk itu perlu kesabaran dalam membimbing anak belajar. Selain itu, berikanlah pengajaran dengan kasih sayang. Tujuannya agar anak merasa nyaman dan aman dengan situasi belajar di rumah terutama pada masa pandemi.
• Manfaatkan aplikasi
Perkembangan teknologi masa kini dapat membuat Anda menggunakan berbagai aplikasi untuk membantu metode belajar anak. Apalagi anak-anak kini lebih menyukai pembelajaran yang memiliki animasi visual dan auditori yang menyenangkan. Sehingga orang tua tidak melulu memberikan materi pembelajaran secara konvensional.
• Mempelajari kekuatan dan kelemahan anak
Mengetahui kekuatan dan kelemahan anak untuk belajar sangat penting agar materi pembelajaran mudah diserap olehnya. Orang tua perlu kreatif dalam menggunakan media apapun untuk proses belajar di rumah. Misalnya memanfaatkan video tutorial online atau modul berbasis tulisan dan gambar.
• Ada baiknya membuat grup orangtua murid untuk memudahkan orangtua saling membantu jika menemukan kesulitan dalam pembelajaran daring.
• Melakukan komunikasi dengan guru untuk membantu proses pemahaman materi dan mengetahui perkembangan si kecil.

Situasi ini memang harus kita hadapi. Semoga saja pandemi segera berganti. Agar anak – anak kita kembali memperoleh pendidikan yang efektif dan bisa berkembang secara ideal.

***

(dari berbagai sumber)

Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment