6 Strategi Melindungi Kesehatan Mental Remaja Selama Pandemi Coronavirus

October 10, 2020

Menjadi remaja merupakan situasi yang sulit bagi beberapa orang, dan penyakit virus corona (COVID-19) yang mewabah saat ini telah membuatnya menjadi semakin sulit. Dengan adanya penutupan sekolah (school from home) dan berbagai acara yang dibatalkan, banyak remaja akhirnya harus kehilangan beberapa momen penting dalam kehidupan mudanya, di antaranya mengobrol dengan teman dan belajar bersama di kelas. Banyak remaja yang tidak siap menghadapi perubahan hidup demikian yang mungkin merasa cemas, sedih, marah, terisolasi dan kecewa. Berikut ini strategi perlindungan yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental remaja:

   1. Ketahuilah bahwa kecemasan di masa pandemi ini merupakan hal yang wajar

Jika penutupan sekolah dan berita utama tentang COVID-19 membuat remaja merasa cemas, maka hal itu memang sewajarnya harus mereka rasakan. Para ahli kesehatan jiwa telah lama menyadari bahwa kecemasan adalah fungsi normal dan sehat yang bertugas mengingatkan seseorang akan ancaman dan membantu kita mengambil tindakan untuk melindungi diri sendiri. Kecemasan akan membantu remaja mampu membuat keputusan yang memang seharusnya dibuat dalam masa saat ini seperti tidak menghabiskan waktu bersama orang lain atau dalam kelompok besar, mencuci tangan dan tidak menyentuh wajah. Perasaan cemas itu akan membantu menjaga bukan hanya keamanan diri sendiri, tetapi orang lain juga. Ini adalah “juga bagaimana kami merawat anggota komunitas kami. Kami juga memikirkan orang-orang di sekitar kami. ”

Untuk lebih memahami dengan jelas tentang COVID-19, remaja harus mendapatkan informasi tersebut dari sumber yang dapat diandalkan seperti situs UNICEF, Organisasi Kesehatan Dunia dan tidak mengandalkan dari sumber informasi yang tidak jelas (HOAX).

Jika remaja merasa tidak enak badan dan khawatir mengalami gejala COVID-19, maka sangat penting bagi mereka untuk membicarakannya dengan orang tua atau orang dewasa yang terpercaya, sehingga mereka dapat membantu. Orang tua perlu mengingatkan kepada mereka bahwa penyakit akibat infeksi COVID-19 umumnya ringan untuk anak-anak dan dewasa muda, sehingga banyak gejala COVID-19 dapat diobati. Selain itu orang tua juga harus mengingatkan anak-anak mereka bahwa ada banyak hal efektif yang dapat kita lakukan untuk menjaga diri kita dan orang lain agar tetap aman dan mencegah penularan virus, yaitu: sering mencuci tangan, menggunakan masker, jangan menyentuh wajah dan menjaga jarak fisik (psyhical distancing).

   2. Melakukan upaya pengalihan kecemasan

Ketika kita berada dalam kondisi yang sangat sulit, sangat membantu untuk membagi masalah tersebut menjadi dua kategori berikut: 1) ada hal-hal yang dapat kita lakukan untuk mengatasi masalah tersebut, atau 2) tidak ada yang bisa saya lakukan saat ini untuk mengatasinya.

Ada banyak hal yang termasuk dalam kategori kedua tersebut di masa pandemi ini, misalnya kapan virus ini akan hilang dan pandemi bisa berakhir, dan ada hal yang membantu kita di dalam menghadapi hal tersebut yaitu dengan menciptakan pengalihan bagi kecemasan diri kita. Beberapa upaya pengalihan yang disarankan untuk dilakukan remaja meliputi: mengerjakan pekerjaan rumah, menonton film favorit, atau membaca novel/buku favorit.

   3. Temukan cara-cara baru untuk tetap terhubung dengan teman atau sahabat

Jika remaja ingin menghabiskan waktu bersama teman di kala harus menjaga jarak sosial, maka menggunakan media sosial adalah cara terbaik untuk bisa tetap terhubung. Jadilah remaja yang kreatif seperti dengan mengikuti tantangan Tik-Tok. Remaja adalah pribadi yang penuh dengan kreatifitas dan akan selalu menemukan cara untuk bisa berkomunikasi satu sama lain secara online. Namun dianjurkan agar remaja juga dapat membatasi lama waktu penggunaan media sosial karena jika terlalu lama dan tanpa batas, maka perilaku tersebut justru dapat meningkatkan kecemasan mereka. Orang tua perlu membuat batasan waktu tertentu untuk anak-anak mereka.

   4. Fokus pada diri sendiri

Jika anak-anak Anda ingin belajar bagaimana melakukan sesuatu yang baru, membaca buku baru atau menghabiskan waktu berlatih musik, maka sekarang merupakan saat yang tepat untuk melakukan semua hal tersebut. Fokus pada diri sendiri dan menemukan cara untuk menggunakan waktu luang adalah cara untuk menjaga kesehatan mental seseorang.

   5. Menyadari perasaan yang muncul

Kehilangan acara dengan teman, hobi, atau pertandingan olahraga bisa sangat mengecewakan remaja. Cara terbaik untuk mengatasi kekecewaan ini adalah dengan membiarkan mereka menyadari dan merasakannya. Ketika seseorang memiliki perasaan yang menyakitkan, maka satu-satunya jalan keluar adalah dengan menghadapinya. Jika remaja bisa menerima kondisi bahwa saat ini mereka sedang bersedih hati dan tidak menolak perasaan tersebut, maka mereka akan pulih lebih cepat.

Setiap remaja memiliki cara berbeda untuk mengatasi perasaan negatifnya. Beberapa anak mengatasinya dengan membuat karya seni, beberapa anak lain dengan cara menceritakan kesedihan mereka kepada teman-temannya, dan beberapa anak menyenangkan hati mereka dengan banyak makan. Yang penting adalah orang tua bisa mendukung cara-cara yang dirasakan anak mereka dapat membantu mengatasi perasaan negatifnya.

   6. Berbaik hati kepada diri sendiri dan orang lain

Beberapa remaja mungkin mendapatkan intimidasi dan pelecehan (bullying) di sekolah karena virus corona. Orang tua harus mengamati pelecehan dan intimidasi yang mungkin dialami anak-anak mereka. Anak-anak dan remaja yang menjadi target seharusnya tidak diminta untuk sendirian menghadapi pelaku; alih-alih mereka harus didorong untuk bisa meminta bantuan dan dukungan kepada teman atau orang dewasa. Jika kita menyaksikan seorang teman dilecehkan, maka cobalah untuk membantu mereka. Ketika kita tidak melakukan apa pun untuk membantu mereka, maka hal ini dapat membuat orang itu merasa bahwa semua orang menentang mereka atau tidak ada yang peduli. Kata-kata yang kita ucapkan untuk membantu mereka yang sedang dilecehkan akan membuat perbedaan nyata. Dan hal terpenting yang juga harus diingat: kita juga perlu memikirkan apakah hal yang kita lakukan atau katakan bisa menyakiti orang lain.

 

 

 

Referensi

Mandy Rich, 2020. How teenagers can protect their mental healthy during COVID19. UNICEF

 

– Sak Liung, dr., Sp.KJ –

Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment