Problem Psikiatrik Pada Anak Dengan Cerebral Palsy

January 10, 2021

Cerebral palsy adalah suatu sindrom gangguan motorik kronik yang menyebabkan gerakan dan  postur tubuh abnormal karena terjadi kerusakan area otak terkait fungsi motorik di masa perkembangan. Angka kejadian cerebral palsy berkisar 2-3 per 1000 kelahiran anak (Colver, 2014). Cerebral palsy merupakan gangguan otak yang tidak bisa disembuhkan, namun berbagai gejala yang terkait sesungguhnya bisa diterapi. Terapi pada cerebral palsy bertujuan untuk mengurangi kesakitan, menstimulasi keterlambatan perkembangan dan meningkatkan kualitas hidup anak.

Cerebral palsy yang berlangsung seumur hidup dapat menyebabkan permasalahan psikiatrik baik pada anak, maupun pengasuh. Anak dengan gangguan kronik seperti cerebral palsy yang mengganggu kemandirian dan kemampuan motorik sangatlah rentan mengalami gangguan kesehatan mental. Kejadian gangguan depresi 2-3 kali lebih sering terjadi pada anak dengan cerebral palsy dibandingkan anak tanpa disabilitas. Oleh karena itu orang tua atau pengasuh anak  diharapkan dapat segera mengenali tanda-tanda problem psikiatrik yang dapat muncul pada anak agar dapat dilakukan pertolongan, di antaranya:

  1. Perubahan suasana perasaan anak yang tampak murung, mudah marah atau tersinggung
  2. Aktifitas yang berlebihan (hiperaktifitas) dan atau sulit memusatkan perhatian (inatensi)
  3. Perilaku menyakiti diri sendiri atau orang lain seperti memukul kepala, menggigit lengan dan lainnya
  4. Gangguan makan dan atau tidur

Selain itu anak dengan cerebral palsy sangat rentan dan bisa pula mengalami gangguan lain seperti disabilitas intelektual, kesulitan bernapas, gangguan kontrol kemih, kesulitan berjalan, gangguan penglihatan, hipersalivasi atau gangguan kontrol air liur, gangguan komunikasi, serta epilepsi (Colver, 2014). Adanya berbagai gangguan terkait ini pada anak dengan cerebral palsy dapat meningkatkan angka kesakitan dan mempersulit proses terapi anak. Perubahan emosi & perilaku pada anak bisa dipicu nyeri, ketidaknyamanan fisik & gangguan terkait (NICE, 2017). Oleh karena itu berbagai gangguan penyerta tersebut juga harus ditangani secara holistik dan komprehensif.

Sebuah penelitian di Norwegia oleh Bjorgaas et al. (2013) menyatakan sekitar 57% anak dengan cerebral palsy mengalami gangguan psikiatrik dimana kejadian yang terbanyak adalah gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktifitas. Selain itu juga didapatkan bahwa 40-50% anak di usia sekolah dapat mengalami gangguan emosi & perilaku. Anak dengan disabilitas / penyakit kronis seperti cerebral palsy 2-3 kali berisiko lebih tinggi mengalami gangguan depresi – cemas dibandingkan anak normal (Van Der et al.,2013; Sienko, 2017). Depresi & gangguan kecemasan pada anak dengan cerebral palsy di usia sekolah ternyata juga lebih disebabkan masalah relasi sosial (bullying) teman daripada masalah akademik mereka.  Hal ini terutama lebih sering terjadi ketika anak menempuh jenjang sekolah menengah (Bjorgaas et al., 2013). Disabilitas yang dimiliki anak-anak dengan cerebral palsy dapat menjadi bahan ejekan dari teman sebaya mereka. Gejala yang ditampilkan oleh anak yang mengalami depresi biasanya bervariasi dari perasaan murung/sedih sehingga sering mengisolasi diri atau sering mudah tersinggung, marah dan kesulitan belajar (Lindsay, 2016).

Faktor lain penyebab anak mengalami problem psikiatrik juga berkaitan dengan kondisi kesehatan mental orang tua mereka sendiri. Terdapat hubungan bermakna antara tingkat kesehatan mental anak dengan kesehatan mental orang tua. Beberapa hal terkait seperti tingkat stres orang tua, masalah orang tua seperti depresi, level kritik yang tinggi pada anak, kurangnya kehangatan terhadap anak, kemampuan orang tua mengatasi permasalahan yang timbul seperti kelelahan, serta adanya dukungan anggota keluarga lain dan sosial merupakan berbagai faktor yang diketahui dapat berpengaruh terhadap tingkat kesehatan mental anak (Goodman, 2006; Parkes et al., 2008).  Dukungan sosial yang didapatkan pelaku rawat (caregiver) bisa menjadi faktor protektif pencegah dan mengatasi problem psikiatrik anak dengan cerebral palsy.

Namun di sisi lain tingkat intelegensi (IQ) anak & ortu yang rendah juga diketahui menjadi prediktor terjadinya problem psikiatrik anak. Hal ini berkaitan dengan tingkat kemampuan orang tua yang rendah dalam mengatasi masalah (problem solving) yang timbul selama pengasuhan dan kondisi. Rendahnya tingkat IQ anak juga akan menyebabkan dampak buruk lain terkait perkembangan anak dengan cerebral palsy. Telah diketahui pula bahwa masalah psikologis & stres pengasuhan ortu pada masa kanak-kanak cerebral palsy berpengaruh pada berkurangnya kualitas hidup ketika mereka di masa remaja (Colver et al., 2014). Oleh karena itu skrining kesehatan mental anak & pelaku rawat perlu dilakukan berkala sebagai bentuk  intervensi dini (pencegahan).

Intervensi yang bisa dilakukan untuk mengatasi problem psikiatrik pada anak dengan cerebral palsy harus menggunakan pendekatan holistik (menyeluruh) yang melibatkan keterlibatan aktif keluarga & anak. Tata laksana juga harus dilakukan sedini mungkin, sehingga dapat mengurangi gangguan kelekatan anak-ortu serta meningkatkan koping adaptif & kepercayaan diri keluarga. Untuk mengatasi gangguan emosi dan perilaku anak bisa dilakukan terapi perilaku. Pemberian medikasi berupa obat-obatan juga dapat dipertimbangkan untuk mengatasi gangguan emosi dan perilaku pada anak (Beale, 2006). Selain itu dokter juga harus melakukan penilaian penyesuaian & kondisi psikologis anak dan pelaku rawat secara berkala.

Pemberian psikoedukasi juga dapat dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan pelaku rawat dan keluarga tentang kondisi anak dengan cerebral palsy. Harapannya dengan pemahaman yang baik maka penerimaan keluarga terhadap kondisi anak akan lebih baik. Selain itu perlu dilakukan pelatihan keterampilan berupa relaksasi untuk mengurangi tingkat stres orang tua dan kemampuan komunikasi efektif serta ekspresi emosi positif bagi orang tua. Dari sisi komunitas, orang tua juga sebaiknya dilibatkan dalam sebuah grup dukungan ortu atau pelaku rawat. Dengan terlibat aktif dalam grup tersebut akan bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan, penerimaan, kemampuan penyelesaian masalah dan mengurangi tingkat stres orang tua.

Dukungan orang tua atau keluarga sebagai pelaku rawat utama sangat dibutuhkan anak dengan cerebral palsy. Setiap anak dengan cerebral palsy adalah pribadi yang unik dan istimewa dengan segala potensi dan hambatan yang mereka miliki. Oleh karena itu orang tua harus terus belajar untuk menggali kekuatan dan potensi yang dimiliki anak.

Bagi orang tua yang membutuhkan informasi lebih lanjut dan layanan anak dengan cerebral palsy dapat menghubungi Instalasi Kesehatan Jiwa Anak & Remaja, RSJ Prof Dr. Soerojo, Magelang; Telp. (0293) 363601, 363602

 

 

 

Referensi

Beale IL. Scholarly literature review: efficacy of psychological interventions for pediatric chronic illnesses. J Pediatr Psychol; 31: 437–451.

Colver A, Fairhurst C, Pharoah PO. 2014. Cerebral palsy. Lancet; 383: 1240–09.

Van Der, S. L., Wilma, M. A., Nieuwenhuijsen, C., Van Den Berg‐Emons, R. J., Bergen, M. P., Hilberink, S. R., & Roebroeck, M. E. 2012. Chronic pain, fatigue, and depressive symptoms in adults with spastic bilateral cerebral palsy. Developmental Medicine & Child Neurology, 54(9), 836-842.

Sienko, S. E. 2017. An exploratory study investigating the multidimensional factors impacting the health and well-being of young adults with cerebral palsy. Disability and rehabilitation, 1-10.

Lindsay, S. 2016. Child and youth experiences and perspectives of cerebral palsy: a qualitative systematic review. Child: care, health and development, 42(2), 153-175.

Parkes J, White-Koning M, Dickinson H, et al. 2008. Psychological problems in children with cerebral palsy: a cross-sectional European study. J Child Psychol Psychiatry; 49: 405–413.

Goodman R., Graham P. Psychiatric problems in children hemiplegia: cross sectional epidemiological study. Br Med Journal; 312: 1065–1069.

Manuel J, Naughton MJ, Balkrishman R, et al. 2003. Stress and adaptation in mothers of children with cerebral palsy. J Pediatr Psychol; 28: 197–201.

National Institute for Health & Care Excellence. 2017. Cerebral palsy in under 25s: assessment and management full guideline. NICE Guideline NG62 Methods, evidence and recommendations

 

 

– Sak Liung, dr., Sp.KJ –

Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment