Dampak Kekerasan Verbal Pada Anak

April 20, 2021

Julukan seperti “Si bodoh”, “Pendek”, “Hitam”, “Centil”, dan kalimat pembanding seperti “Si A aja bisa, kok kamu enggak?”, “Kamu harus lebih baik daripada si B”—adalah contoh-contoh kalimat yang bukan baru pertama kali didengar, bahkan justru sering diucapkan. Dalam konteks kehidupan keluarga, apakah kalimat-kalimat ini sering terdengar di rumah? sebagai orang tua pernahkah Anda mengucapkannya? Tahukah Anda bahwa hal tersebut termasuk dalam kategori kekerasan?

Kekerasan menurut UU No. 35 Tahun 2014 tentang perlindungan terhadap anak Pasal 1 Ayat 15a, adalah setiap perbuatan terhadap Anak yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, psikis, seksual, dan/atau penelantaran, termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum. Surbakti (2012) membedakan kekerasan menjadi dua yakni kekerasan fisik dan kekerasan verbal. Kekerasan verbal merupakan bentuk kekerasan yang dilakukan dengan tidak menyentuk fisik, melainkan menggunakan kata-kata kasar. Misalnya, memfitnah, mengancam, menakutkan, menghina, atau membesar-besarkan kesalahan orang lain (Sukitno, 2010). Hasil survey terbaru oleh Wahana Visi Indonesia tahun 2020, menunjukkan bahwa 61,5% anak merasa mengalami kekerasan verbal. Jika dikalkulasikan dalam bentuk jiwa berdasarkan sensus penduduk di tanah air, maka sebanyak 49,2 juta jiwa anak mengalami kekerasan verbal.

Mengenal Kekerasan Verbal

Kekerasan verbal dapat terjadi di mana saja, tidak terkecuali di rumah. Saat rumah seharusnya menjadi tempat teraman dan berlindung bagi anak. Ada 10 tipe kekerasan verbal yang dapat kita kenali (Schaefer, 1997):

  1. Rejection or Withdrawal of love atau penolakan akan cinta, seperti “Tidak ada yang menyayangimu”
  2. Verbal put-down atau merendahkan, seperti “Kamu bodoh”
  3. Perfectionism atau perfeksionis, kalimat untuk selalu menuntut anak untuk selalu sempurna, seperti “Kenapa kamu tidak menjadi yang pertama?”
  4. Negative prediction atau prediksi negatif, seperti “Kamu tidak akan pernah berarti apa-apa”
  5. Negative comparison atau perbandingan negatif, seperti “Kenapa kamu tidak bisa seperti kakakmu?”
  6. Spacegoathing atau pengkambing-hitaman, seperti “Kamu adalah alasan kenapa aku dan ibumu berpisah”
  7. Shaming atau mempermalukan, yakni mengajak semua orang untuk memperhatikan anak pada situasi yang membuat anak malu.
  8. Cursing or swearing atau mengutuk dan mengumpat, misalnya “Pergilah ke neraka
  9. Threats atau mengancam, seperti “Aku akan membunuhmu!”, “Aku akan meninggalkanmu!” dan sebagainya.
  10. Guilt trip atau sindirian yang menimbulkan peraaan bersalah, misalnya “Bisa-bisanya kamu melakukan hal itu, setelah apa yang kuberikan kepadamu selama ini”

Terkadang orang tua tidak menyadari telah melakukan tindakan kekerasan verbal. Faktor penyebab utama dan paling banyak ditemui, orang tua melakukan kekerasan verbal adalah untuk mendidik.  Banyak orang tua yang mendidik anak degan tegas dan keras, tanpa disadari kekerasan verbal dapat memberikan dampak buruk terhadap anak, bahkan lebih besar dari dampak akibat kekerasan fisik. Misalnya masalah psikologis, seperti kurang percaya diri, tidak percaya pada orang lain, tertutup, depresi dan enggan untuk pergi ke sekolah (Maulida, 2017). Anak bukan hanya sebagai korban, tetapi dapat pula menjadi pelaku. Anak dengan riwayat kekerasan verbal kemudian memiliki kemungkinan untuk melanjutkan rantai kekerasan di kehidupannya.

Tindakan Pencegahan

Setelah mengenali apa itu kekerasan verbal dan dampaknya, maka bijaklah kita untuk mengetahui pencegahan yang tepat. Agar dapat memberikan perlakuan yang tepat maka orang tua sebaiknya memahami tumbuh kembang anak. Hal tersebut hanya mampu terjadi ketika ada formulasi hubungan yang baik antara orang tua terhadap anak. Memberikan perhatian terhadap anak, menanamkan pendidikan agama; moral untuk berbuat baik, berbicara dengan tutur kata yang lembut dan ramah, bersikap arif, bijaksana dan sabar terhadap anak dapat menjadi referensi untuk dilakukan di rumah (Gordon, 1996).

 

Referensi:

 

  1. Fitriana, Y., Pratiwi, K., & Sutanto, A. V. (2015). Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku orang tua dalam melakukan kekerasan verbal terhadap anak usia pra-sekolah. Jurnal Psikologi, 14(1), 81–93.
  2. Gordon, T. (1996). Mengajar Anak Berdisiplin Diri di Rumah dan di Sekolah. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  3. Maulida, R. A. (2017). Jenis Kekerasan Verbal yang Diterima oleh Siswa di Lingkungan Sekolah Dasar, Respon Balik yang Diberikan, serta Program untuk Mengatasinya. 293–297.
  4. Schaefer, C. (1997). Defining Verbal Abuse of Children: A Survey. Psychological Reports, 80(2), 626. Diakses dari https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.2466/pr0.1997.80.2.626.
  5. Surbakti. (2012). Parenting Anak-anak. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo.
  6. Sutikno, B. R. (2010). The Power of 4Q. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  7. Wahana Visi Indonesia. (2020). Pandemi COVID-19 dan Pengaruhnya Terhadap Anak Indonesia: Sebuah Penilaian Cepat Untuk Inisiasi Pemulihan Awal. Diakses dari https://wahanavisi.org/userfiles/post/2007095F06D0B654073.pdf .

 

Penulis:

Monica Geaby Rivana Kojongian

 

Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment