Mengenal Keistimewaan Anak Autis

April 23, 2021

Dalam membentuk keluarga yang bahagia pasangan suami istri pada umumnya mengharapkan kehadiran seorang anak. Orangtua mengharapkan anak lahir dalam keadaan sehat, selamat dan tidak mengalami ganggaun. Pada kenyataannya apa yang diharapkan orangtua tidak sesuai dengan harapan. Orangtua biasanya selalu berharap Allah memberikan mereka anak yang sempurna baik secara fisik maupun psikis serta dapat tumbuh dan berkembang dengan sempurna. Ketidaksempurnaan fisik dapat terlihat secara langsung, sedangkan ketidaksempurnaan psikis masih sulit dideteksi. Saat ini masih banyak orangtua yang belum paham ketika anaknya memperlihatkan gejala masalah perkembangan sejak usia dini seperti autis.

Pada umumnya secara fisik anak autis tampak baik-baik saja,bahkan wajahnya tetap terlihat menggemaskan sama seperti anak lainnya, karena hal ini pula anak dengan autism seringkali disalah mengertikan oleh orang sekitar, bahkan orang tua sendiri terkadang kurang sadar dengan keistimewaan anak mereka, baru menyadari  pada  saat ketika mengalami kesulitan  menangkap informasi terkait kegiatan belajar di sekolah. Ada yang menganggap sebagai anak nakal, bodoh , aneh karena tidak terbiasa ketemu orang asing, sangat lengket dengan mainan kesayangan dan betah bermain dengan mainan kesayangan berjam-jam dengan cara yang sama berulangkali, hingga tidak berespon terhadap senyuman dan panggilan orang disekitarnya. Situasi ini membuat mereka rentan mendapatkan perilaku diskriminatif dari lingkungannya. Padahal mereka adalah anak-anak istimewa yang mebutuhkan penanganan yang sesuai dan tepat agar dapat berfungsi dan sama produktifnya dengan anak-anak normal pada umumnya. Oleh karena itu Yuks, kita dalami lebih jauh mengenai anak autis ini.

Autis dijelaskan Triantoro (2005) merupakan ketidakmampuan perkembangan untuk berinteraksi dengan orang lain, dalam berbagai aspek  berikut :

  1. Gangguan berbahasa yang ditunjukkan dengan penguasaan yang tertunda, meniru kata yang sama berulang kali (ecocalia), jarang bicara atau bahkan tidak berbicara sama sekali (mutism), pembalikan kalimat.
  2. Gangguan perilaku adanya aktivitas bermain yang diulang-ulang (repetitive) dan sama (stereotipik), rute ingatan yang kuat, dan keinginan obsesif untuk mempertahankan keteraturan di dalam lingkungannya.
  3. Gangguan sosial kesulitan berinteraksi dan berteman dengan orang lain dan berteman dengan orang lain, kesulitan dalam memahami ekspresi wajah orang dan kesulitan dalam melakukan kontak mata.

 

Perlu menjadi perhatian orang tua bahwa ada anak yang menunjukan gejala-gejala autis diatas tidak serta merta akan terdiagnosa autism. Ada serangkaian tes yang harus dilalui untuk menegakkan diagnosa bahwa seorang anak mengalami autism.

Sesungguhnya hingga saat ini penyebab dasar autisme belum bisa dijelaskan dengan pasti, namun ada beberapa faktor diperkirakan yang menjadi penyebab terjadinya autism, (Handojo, 2004), yaitu :

  1. Materi Genetik yang dimiliki orang tua dapat menjadi factor resiko yang diturunkan terjadinya autisme pada anak.
  2. Terjadi pada saat kehamilan, pada tri semester pertama, faktor pemicu biasanya terdiri dari; infeksi (toksoplasmosis, rubella, candida, dsb), keracunan logam berat, zat aditif (MSG, pengawet, pewarna), maupun obat-obatan lainnnya.
  3. Selain itu, tumbuhnya jamur berlebihan di usus anak sebagai akibat pemakaian antibotika yang berlebihan, dapat menyebabkan kebocoran usus (leaky-gut syndrome) dan tidak sempurnanya pencernaan kasein dan gluten.

 

Apakah gejala-gejala autisme pada anak-anak tidak bisa dideteksi sejak dini? Tentu saja sangat bisa. Umumnya gejala anak autis akan terlihat diawal lima tahun kehidupan pertamanya dan akan terus berlanjut hingga dewasa. Menurut, Sidqi (2018) mengungkapkan jika pada usia 12 bulan bayi menunjukan gejala seperti :  (a) Tidak ada kontak mata, (b) Tidak bisa menunjuk objek tertentu, (c) Tidak bisa memberikan barang kepada orang, (d) Tidak mengerti bila Namanya dipanggil, dan (e) Tidak bisa berkomunikasi babbling (mengatakan “pa pa”, “ma ma”, “da da”),  maka orangtua perlu waspada adanya gejala autis dan sebaiknya segera konsultasi ke dokter spesialis anak.

Pada saat kita mengetahui anak menderita autism tentunya dibutuhkan pengasuhan yang sangat istimewa agar kualitas kehidupan mereka  menjadi lebih baik dan dapat menalani kehidupannya secara mandiri di masa depan. Yang dapat dilakukan oleh orang tua :

  1. Memastikan anak mendapatkan diagnosa yang tepat dari ahlinya sesuai dengan tugas perkembangannya, seperti : psikolog klinis, psikiater atau dokter spesialis anak. Oleh karenanya adakala autisme muncul bersamaan dengan kondisi lain seperti epilepsy, depresi, kecemasan, gangguan perhatian dan hiperaktivitas. Situasi ini membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dalam penegakan diagnose autism itu sendiri.
  2. Menjalani proses terapi secara konsiten dan teratur sesuai anjuran profesional. Biasanya terapi yang harus dilakukan berupa terapi perilaku, terapi wicara, terapi okupasi hingga terapi psikososial lainnya sesuai dengan kebutuhan anak.
  3. Pelajarilah pengetahuan terbaru bagaimana mendidik dan mengasuh anak dengan kondisi autisme.
  4. Berikan perhatian dan bimbingan penuh sebagai orang tua agar peningkatan kemajuan perkembangan diri anak autis terlihat. Ini dapat dilakukan dengan mengulang kembali proses terapi yang telah dijalani di klinik atau sekolah selama di rumah, membuat rumah menjadi tempat yang nyaman dan aman, memimta anggota keluarga lain terlibat dalam proses pembelajaran, dan lain-lain.
  5. Dibutuhkan kesabaran orangtua dalam mendisiplinkan anak agar patuh dan taat, karena anak dengan autism biasanya memiliki permasalahan dalam pendengaran, komunikasi serta kurangnya kontak mata.
  6. Bergabunglah dalam komunitas autism agar tidak merasa sendiri dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang dialami selama pengasuhan. Perlu dipahami bahwa permasalahan, pertumbuhan dan perkembangan anak autis sangat unik. Ada yang memiliki gejala ringan hingga berat. Pada gejala ringan seolah-olah tidak ada yang menyadari anak menderita gangguan autism, ada yang memiliki tingkat intelegensi diatas rata-rata atau memiliki bakat khusus di bidang seni, matematika, sains, dan sebagainya. Ada pula anak autism yang seumur hidup membutuhkan kegiatan sehari-hari.

 

Referensi:

  1. Handojo. 2004. Autisme: Petunjuk Praktis & Pedoman Materi untuk Mengajar Anak Normal, Autis dan Perilaku Lain. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.
  2. Sidqi, K. Z. T. (2018). Program Bimbingan Baca Tulis Al Qur’an Bagi Anak Berkebutuhan Khusus (Autis) Di SD Al Azzam Ketileng Semarang. Sosio Dialektika3(1). DOI: http://dx.doi.org/10.31942/sd.v3i1.2197
  3. Triantoro, Safaria. 2005. Autisme: Pemahaman Baru Untuk Hidup Bermakna Bagi Orang Tua. Yogyakarta: Graha Ilmu.

 

Penulis:

Lita Fandika

Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment