Benarkah Depresi Sudah Umum Terjadi Di Masyarakat Kita?

April 25, 2021

 

Pandemi Covid-19 memberikan multiple stres pada kehidupan masyarakat, mulai dari takut tertular COVID-19, kehilangan keluarga akibat  Covid-19, kehilangan pekerjaan, dan lain-lain yang menyebabkan semakin meningkatnya kasus depresi di Indonesia. Gangguan mental depresi dapat menyerang siapa saja tanpa terkecuali.  Meskipun merupakan gangguan mental  depresi ini umum terjadi di masyarakat, namun gangguan mental ini tidak bisa serta merta diabaikan karena akan berdampak jangka panjang untuk kesejahteraan kejiwaan seseorang di masa yang akan datang.

Berdasarkan data yang dilakukan Survey METER hingga akhir Mei 2020 diperoleh  sebanyak 3.533 orang mengisi survey online yang berasal dari 34 provinsi di Indonesia. Diperoleh hasil sebanyak 58% responden melaporkan depresi. Adapun rincian data memperlihatkan sebagai berikut :

  1. Berdasarkan pola kelamin menunjukan perempuan lebih banyak yang mengalami depresi dibandingkan dengan laki-laki. Perempuan yang mengalami depresi sebanyak 61%, sedangkan laki-laki sebanyak 55%.
  2. Dari kelompok usia kelompok usia 20-30 tahun yang melaporkan banyak laporan yang melaporkan depresi sebesar 65%, kelompok berikutnya yang berumur 31-40 tahun sebanyak 56%, dan kelompok usia 41-55 tahun sebanyak 52%.
  3. Berdasarkan pendidikan, reponden yang berpendidikan SMA yang mengalami depresi paling tinggi yaitu 61%, setelah responden yang berpendidikan kurang dari SMA sedikit lebih rendah, tingkat depresi mereka 60%, reponden yang berpendidikan universitas yang paling sedikit yang mengalami depresi, yaitu sebesar 56%.
  4. Status pekerjaan dan pendapatan, responden yang mengalami perubahan PHK / dirumahkan / menganggur tingkat depresinya 1,5 kali dari yang masih bekerja / bekerja dari rumah , tingkat depresi yang terkena PHK / dirumahkan / menganggur 74% sedangkan yang bekerja / bekerja dari rumah 50%. Diantara penyebab adalah mereka yang mengurus rumah tangga / mahasiswa yang memiliki tingkat depresi 62%.
  5. Dari segi pendapatan, responden yang mengalami penurunan pengalaman mengalami depresi 64% sedangkan yang memiki pendapatan tetap 48%.
  6. Jika dilihat secara geografis, responden yang berdomisili di provinsi dengan jumlah kasus COVID-19 tertinggi sebelum survei yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan yang melaporkan mengalami depresi 7% lebih tinggi dibandingkan dengan provinsi lainnya. Depresi di provinsi dengan jumlah kasus lima terbesar sebelum COVID-19 sebesar 61% di provinsi lainnya 54%.

 

Sebenarnya apa sih depresi itu? Depresi adalah salah satu bentuk gangguan mental psikologis yang paling umum terjadi pada manusia. Depresi dapat memiliki dampak negatif langsung pada hubungan interpersonal, kesehatan fisik dan fungsi harian (Spath C et al, 2017). Salah satu ciri utama dari depresi adalah adanya ide bunuh diri sehingga peristiwa bunuh diri selalu disebabkan oleh individu yang mengalami depresi. Gejala depresi yang muncul oleh individu antara lain akan membuat mereka memiliki perasaan yang besar, kehilangan energi dan minat, perubahan perilaku yang signifikan, muncul pikiran untuk bunuh diri dan sulit kontrol. Selain itu individu akan mengalami perubahan aktivitas, masalah pola tidur, serta timbulnya masalah persepsi dan kognitif (Ismail & Siste, 2013).

Penyebab depresi sendiri sampai saat ini diketahui bahwa tidak ada penyebab tunggal, biasanya dipicu karena beberapa faktor, di antaranya:

  1. Peristiwa stres dalam kehidupan seseorang seperti kematian orang yang dicintai, stres berkepanjangan di tempat kerja, dan rusaknya sebuah hubungan.
  2. Penyakit dan kondisi fisik yang tidak terdiagnosis seperti cedera kepala, di bawah hipofisis, aktif atau penglihatan tiroid, penyakit jantung koroner, kanker, dan ancaman jiwa lainnya yang dapat mennimbulkan gejala dan menyebabkan depresi.
  3. Faktor keturunan dan riwayat keluarga.
  4. Faktor kepribadian, biasanya orang dengan rasa percaya diri yang rendah dan terlalu menyalahkan diri sendiri, cenderung mudah merasa khawatir dan dapat menyebabkan depresi.

 

Apa yang bisa kita lakukan jika kita mengalami depresi atau orang terdekat kita mengalaminya? Hal terbaik yang perlu dilakukan adalah dilakukan dengan psikolog dan psikiater agar penanganan yang menyeluruh. PADA masa pandemi Covid-19 Konsultasi DAPAT dilakukan Beroperasi secara online maupun secara offline tergantung Dari telah dipakai Yang dimiliki rumah sakit ataupun klinik Dimana akan melakukan Konsultasi akan Gangguan depresi Yang dialaminya.

Proses pengobatan yang akan dilalui biasanya dilakukan secara medis dan non-medis. Pengobatan medis dilakukan jika mengalami gejala dalam tingkat sedang hingga berat dalam arti kesulitan mengontrol simptom depresinya maka psikiater akan memberikan obat. Pengobatan berjalan lebih optimal maka sangat perlu dilakukan pengobatan non-medis melalui psikoterapi. Psikoterapi ini biasanya dilakukan oleh psikolog secara rutin agar akar masalah penyakit dapat mencakup lebih menyeluruh.

Salah satu proses psikoterapi yang dapat dilakukan untuk gangguan depresi adalah terapi perilaku -kognitif ( Cognitive Behavior Therapy-CBT ). Asumsi dari terapi ini adalah pola pikir seseorang merupakan senjata utama untuk melakukan perilaku individu. Pola pikir negatif individu bahwa perasaan tersebut adalah perasaan dan menyalahkan diri sendiri akan membuat individu aja, jika pola pikir seperti itu dibiarkan dan tidak ada penanganan yang lebih lanjut maka akan berakibat individu dalam pola perilaku, emosi dan pemikiran yang negatif.

Adanya perasaan menyesal yang mendalam tersebut jika tidak mampu menemukan cara untuk menyelesaikan masalah yang sedang menurut individu tersebut dapat menyebabkan depresi. Dalam situasi ini individu akan mengalami krisis pemikiran positif. Oleh terapi ini oleh terapis akan mengubah pola pikir individu tersebut kearah yang lebih positif. Jadi terapi CBT diarahkan kepada modifikasi fungsi pikir, bertindak, bertindak, dan menekankan peran otak manusia dalam analisis, memutuskan, bertanya, bertanya, dan memutuskan sesuatu. Individu diharapkan mengubah perilaku negatifnya menjadi positif dengan mengubah status pikiran dan perasaan.

Cara sederhana yang dapat kita lakukan selama masa pandemi Covid-19 agar gangguan mental dapat dicegah, yaitu:

  1. Batasi penggunaan gadget, informasi informasi hanya pada sumber-sumber yang berdasarkan informasi seputar Covid-19.
  2. Mulailah melakukan olah raga ringan secara rutin di rumah.
  3. Buatlah tangan tetap sibuk dengan melakukan kegiatan-kegiatan baru seperti bermain gitar, bercocok tanam, dll.
  4. Ingat kembali permainan masa kanak-kanak yang seru seperti ular tangga, monopoli, dan lain-lain.
  5. Belajarlah tehnik meditasi mindfulness untuk perasaan tidak nyaman. Intinya adalah lakukan kegiatan yang membangkitkan rasa bahagia tanpa merasa tertekan selama melakukan kegiatan tersebut.

 

Referensi:

  1. Ismail, Irawati. R & Kristiana Siste. 2013. Gangguan Depresi . Dalam Sylvia D. Elvira dan Gitayanti Hadikusumo (para editor).  Buku Ajar Psikiatri Edisi Kedua. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
  2. Schröder J, Berger T, Meyer B, Lutz W, Hautzinger M, Späth C, dkk. 2017. Sikap Terhadap Intervensi Internet Diantara Psikoterapis dan Individu dengan Gejala Depresi Ringan hingga Sedang. Penelitian Terapi Kognitif: (h. 745-756). https://link.springer.com/article/10.1007/s10608-017-9850-0 .
  3. Suriastini, Wayan; Sikoki, Bondan; & Listiono. 2020. Gangguan Kesehatan Mental Meningkat Tajam: Sebuah Panggilan Meluaskan Layanan Kesehatan Jiwa . SurveyMETER: Ringkasan Penelitian. (Juli 2020). https://surveymeter.org/id/node/576 .

 

Penulis:

Ignatia Wahyu Kriswantari

 

Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment