FoMo Sindrom Penyakit Anak Zaman Now Yang Perlu Di Waspadai

May 10, 2021

Teknologi komunikasi kini memberi kemudahan kepada individu untuk mengaksesnya lewat gadget. Gadget adalah elektronik kecil yang memiliki fungsi khusus seperti berbagi informasi, berita terviral, berkomunikasi, berjualan, dan lainnya. Kini gadget menjadi alat komunikasi yang mudah, cepat, efisien, dan praktis dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan bahkan semakin aktivitas penggunaan gadget menjadi semakin menarik karena dilengkapi berbagai  fitur-fitur yang menarik dan memudahkan terhubung dengan orang lain di setiap waktu dan tempat seperti fitur yang ada pada Instagram, Twitter, Facebook, Whatsapp, LINE, Telegram, TikTok, hingga game online.

Laporan Statista (2020) mencatat, pengguna media sosial di Indonesia pada 2020 paling banyak yakni berusia 25-34 tahun. Rinciannya, pengguna laki-laki dan perempuan masing-masing sebanyak 20,6% dan 14,8%. Posisi selanjutnya yakni pengguna berusia 18-24 tahun.  Rinciannya, pengguna laki-laki dan perempuan masing-masing sebanyak 16,1% dan 14,2%. Jumlah pengguna media sosial di Indonesia paling sedikit yakni berusia 55-64 tahun. Kemudian usia 65 tahun ke atas. Bahkan penggunaan ini semakin meningkat dikala wabah Pandemi Covid-19 ini.

Kondisi selama pandemic Covid-19 yang mengharuskan anak sekarang khususnya dari pelajar hingga mahasiswa mengakses pembelajaran di rumah dan menggunakan media sosial sebagai sarana hiburan untuk mengusir kejenuhan mau tidak mau terpapar penggunaan gadget ini. Oleh karenanya  keterikatan dengan gadget mereka rentan mengalami ganguan yang dinamakan sindrom FoMO (Fear of Missing Out) hingga adiksi gadget yang lebih kronis.

Sebenarnya apa sih sindrom FoMo itu? Sindrom FoMO  (Fear of Missing Out) adalah sebuah pemahaman, atau persepsi akan perasaan bahwa orang lain memiliki pengalaman berharga atau lebih baik dibanding diri sendiri  Fear of missing out ditandai dengan adanya keinginan untuk terus berhubungan secara terus menerus dengan apa yang dilakukan oleh orang lain di dunia maya. Bahkan, pada kasus-kasus tertentu, seseorang bisa sangat takut dan cemas bila tidak terhubung dengan akunnya walau hanya beberapa menit, dan dianggap tidak keren jika tidak mengikuti perkembangan influencer terviral atau terkini.  (Przybylski, Murayama, DeHaan, & Gladwell,  2013).

Menurut Przybylski, Murayama, DeHaan, & Gladwell, (2013)  FoMO terbentuk karena rendahnya kebutuhan dasar psikologis dalam penggunaan media seperti media sosial. Kebutuhan dasar psikologis yang tidak terpenuhi ini, dapat mereka penuhi melalui penggunaan media sosial.  Kebutuhan dasar psikologis yang dapat dipenuhi selama penggunaan gadget yang menyebabkan terjadinya  fear of missing out adalah :

  1. Kebutuhan untuk berkompetensi (need for competence) Kompetensi merupakan hasil dari interaksi individu dengan lingkungan dan adaptasi. Kebutuhan kompetensi mengacu pada kebutuhan untuk berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial, mampu menunjukan kapasitas diri, dan mencari tantangan yang optimal Kebutuhan ini berkaitan dengan keyakinan individu untuk melakukan tindakan atau perilaku tertentu secara efisien dan efektif. Rendahnya kepuasan terhadap kompetensi ini akan memungkinkan individu merasa frustasi dan putus asa.
  2. Kebutuhan untuk otonomi (need for autonomy/ self). Self merupakan kesadaran individu akan keberadaan dan fungsi dirinya, yang diperoleh melalui pengalaman diri dimana individu tersebut terlibat di dalamnya baik sebagai subjek maupun objek. Przybylski, Murayama, DeHaan, & Gladwell (2013) menemukan bahwa kebutuhan psikologis akan self penting untuk kompetensi, keterkaitan, dan otonomi, serta penurunan tingkat suasana hati yang positif dan kepuasan hidup secara signifikan terkait dengan tingkat FoMO yang lebih tinggi. Apabila kebutuhan psikologis akan self tidak terpenuhi, maka individu akan menyalurkannya melalui media sosial untuk memperoleh berbagai macam informasi dan berhubungan dengan orang lain. Hal tersebut akan menyebabkan individu terus berusaha untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi pada orang lain melalui media sosial (Przybylski, Murayama, DeHaan, & Gladwell, 2013).
  3. Kebutuhan untuk merasa dekat dengan orang lain (Need for Relatedness). Relatedness adalah kedekatan atau keinginan untuk berhubungan dengan orang lain, kebutuhan seseorang untuk merasakan perasaan tergabung di dalam kelompok, terhubung, dan kebersamaan dengan orang lain. Kondisi seperti pertalian yang kuat, hangat dan peduli dapat memuaskan kebutuhan untuk pertalian, sehingga individu merasa ingin memiliki kesempatan lebih dalam berinteraksi dengan orang-orang yang dianggap penting dan terus mengembangkan kompetensi sosialnya. Apabila kebutuhan psikologis akan relatedness tidak terpenuhi dapat menyebabkan individu merasa cemas dan mencoba mencari tahu pengalaman dan apa yang dilakukan oleh orang lain, salah satunya melalui media sosial (Przybylski, Murayama, DeHaan, & Gladwell, 2013).

 

Dampak sindrom FoMO dapat berbahaya karena : (1) dapat menganggu keterampilan sosial individu dimana pengguna lebih suka berelasi di dunia maya, sehingga menyebabkan kecanggungan sosial saat harus berinteraksi di dunia nyata, (2) dapat menyebabkan gangguan emosi merasa harus menggunakan media sosial terus menerus, jika terhenti penggunaan media sosil akan merasa cemas atau marah, (3) meningkatkan rasa tidak bahagia dan ketidakpuasan dalam hidup., (4) konsetrasi dan minat untuk belajar menurun, (5) hingga mengembangkan persepsi bullying di media sosial.

Menilik dampaknya yang tidak ringan ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi sindrom FoMO ini khususnya selama masa pandemi Covid-19, yaitu :

  1. Membangun komunikasi kembali dengan anggota keluarga. Pada masa pandemi Covid-19 sangat memungkinkan keluarga untuk berkumpul dan mengelola kembali kegiatan apa yang disukai atau tidak sukai, bahkan menemukan kegiatan bersama yang saling mempererat hubungan antar anggota keluarga dari pada bergadget ria, misalnya menjadwalkan kembali tugas rumah harian masing-masing anggota keluarga, memodifikasi permainan ular tangga menjadi permainan bercerita tentang hal yang positif yang telah dilakukan seminggu ini dalam keluarga, dan lain-lain.
  2. Orang tua menetapkan batasan waktu dan konsisten dengan aturan penggunaan gadget selama di rumah.
  3. Selalu pantau dan damping anak terkait akses gadget yang digunakan.

 

 

Referensi:

  1. Przybylski, A. K., Murayama, K., DeHaan, C. R., & Gladwell, V. 2013. Motivational, emotional, and behavioral correlates of fear of missing out. Computers in Human Behavior, 1841-1848.https://doi.org/10.1016/j.chb.2013.02.014
  2. Statista. 19 Februari  2020. Berapa Usia Mayoritas Pengguna Media Sosial di Indonesia?. Pengguna Media Sosial di Indonesia Berdasarkan Umur & Gender. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2020/11/23/berapa-usia-mayoritas-pengguna-media-sosial-di-Indonesia. Diakses 25 April 2021.

 

Penulis:

Elisabet Istharini

Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment