Meningkatkan Konsentrasi Anak ADHD Melalui Cognitive Behavioral Play Therapy

May 25, 2021

 

Dalam keseharian anak usia sekolah sampai usia remaja jika kita memperhatikan ada beberapa anak yang memperlihatkan gangguan Attention   Deficit   Hyperactive   Disorder (ADHD). Gangguan ini jika tidak ditangani dengan segera akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak di masa yang akan datang. Prevalensi untuk anak dengan gangguan ADHD di Indonesia sendiri belum ada data yang jelas dan menyatakan berapa persentase anak dengan gangguan ADHD karena masih minimnya penelitian yang dilakukan. Namun berdasarkan acuan DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder) – IV, menyebutkan bahwa prevalensi gangguan ADHD ini justru ditemukan pada anak usia sekolah dengan jumlah 3-5%.

Attention   Deficit   Hyperactive   Disorder (ADHD) atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif merupakan gangguan yang umum terjadi pada anak-anak, biasanya muncul dan dapat diamati sebelum usia tujuh (7) tahun. Karakteristik utama yang dapat diamati pada anak ADHD adalah kurangnya kemampuan untuk menangkap atau memfokuskan perhatian, hiperaktif dan perilaku impulsif, sehingga anak dengan gangguan tersebut perlu diberikan perlakuan khusus dengan memberikan perhatian lebih agar fokus anak tidak terpecah, lalu perilaku impulsif dan hiperaktif anak juga dapat diminimalisir.

Berdasarkan DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder )-IV-TR ada tiga (3) karakteristik untuk menandai gangguan ADHD, seperti berikut:

  1. Kesulitan dalam memusatkan perhatian (inattention) biasanya disebut juga dengan gangguan akademik karena ketika anak melakukan tugas dalam setting lingkungan sosial anak akan lebih mudah untuk beralih dari suatu aktivitas ke aktivitas yang lain, kurang fokus pada hal kecil, cenderung bersikap ceroboh dan tidak mengerjakan tugas sekolah, dan melakukan kekeliruan.
  2. Kesulitan menahan keinginan (impulsivitas) anak menunjukkan ketidakmampuan untuk menunggu atau tidak sabaran, kesulitan menunda respon, bahkan memotong atau menginterupsi pembicaraan orang lain.
  3. Terakhir ada kesulitan menghentikan gerakan (hiperaktivitas) seperti anak merasa gelisah, sulit untuk diajak duduk tenang, dan anak suka berlari-lari ketika mengerjakan sesuatu. Pada masyarakat awam ADHD sering dianggap anak nakal dan tidak kooperatif karena perilakunya yang menonjol.

 

Dunia anak adalah dunia bermain, oleh sebab itu cara sederhana memperlakukan anak ADHD juga perlu disesuaikan dengan dunia mereka.  Banyak penelitian melaporkan bahwa terapi bermain efektif untuk membantu meningkatkan konsentrasi anak dengan ADHD. Terapi bermain (play therapy) merupakan salah satu metode terapi yang menyenangkan sebagai cara mengekspresikan keinginan anak yang diharapkan dapat meningkatkan konsentrasi dan menurunkan hiperaktivitas dan impulsivitas pada anak ADHD. Melalui bermain bermain anak  dibantu untuk menyalurkan ide, gagasan dan perasaan yang masih terpendam dan tidak mampu diungkapkan oleh anak sehingga anak akan banyak mengeksplorasi dirinya.

Terapi bermain juga merupakan media yang dapat dimodifikasi melalui komunikasi yang menarik yang dikhususkan untuk anak bermasalah sehingga anak mampu mengungkapkan permasalahan dengan cara yang lebih rileks, terbuka dan tentunya menyenangkan (Schaefer & Reid,1986). Anak dengan gangguan ADHD umumnya memiliki kurang mampu memusatkan perhatian dan konsentrasi yang rendah dalam suatu kegiatan, sehingga ketika anak sudah dalam keadaan yang relaks, maka anak akan lebih mudah untuk mengungkapkan atau berbicara tentang perasaan yang terpendam.

Dalam proses terapi yang dilakukan oleh terapis terampil dan berlisensi biasanya bentuk terapi bermain untuk meningkatkan konsentrasi anak ADHD salah satunya adalah dengan model terapi bermain kognitif-perilaku (Cognitive Behavior Play Therapy/ CBPT). Terapi ini lebih memfokuskan pada teori kognitif, gangguan emosional dan prinsip terapi kognitif yang bersifat fleksibel dan tetap menyenangkan. Proses Terapi Bermain Kognitif-Perilaku (CBPT) mengusung model kognitif gangguan emosional dan bersifat singkat, terbatas waktu, terstruktur, direktif, berorientasi, dan psikoedukasional.  Hubungan terapeutik yang aman adalah kondisi yang diperlukan untuk CBPT yang efektif pada anak.

Pada model terapi ini anak diharapkan dapat meningkatkan konsentrasinya dengan memperlihatkan perubahan perilaku dimana anak dapat:

  1. Dapat memperhatikan baik-baik terhadap sesuatu yang detail atau tidak membuat kesalahan yang sembrono dalam kegiatan sekolah dan kegiatan lainnya.
  2. Tidak mengalami kesulitan dalam memusatkan tugas-tugas kegiatan bermain.
  3. Mengikuti baik-baik instruksi dan bisa menyelesaikan suatu pekerjaan, (d) mendengarkan jika diajak bicara secara langsung.
  4. Tidak terganggu oleh rangsangan dari luar.
  5. Bisa menyelesaikan kegitan dengan baik. Biasanya pemberian model terapi ini dalam tiap sesinya berlangsung selama 30 menit. Dalam proses terapi ini metode yang digunakan meliputi beberapa bentuk peragaan yang merupakan komponen penting dalam proses terapi.

 

Peragaan adalah cara yang efisien dan efektif untuk belajar, dan juga memperoleh, memperkuat, atau memperlemah perilaku. Peragaan yang didesain untuk meningkatkan keterampilan (skill) seringkali melibatkan model adaptasi. Selain itu role-play menjadi proses penting dalam terapi ini, dimana anak mempraktekkan keterampilan-keterampilan dengan ahli terapi dan menerima umpan balik terus-menerus. Role-play biasanya lebih efektif untuk anak-anak usia sekolah, meskipun bisa saja menghadirkan role-play melalui teknik peragaan. Dalam cara ini, peraga benar-benar bermain role-play, dan si anak mengamati dan belajar dari melihat peraga untuk  mempraktekkan skill tertentu.

Jenis Permainan dalam CBTP yang dilakukan, misalnya : Permainan “Simons Says”  Permainan itu mengharuskan anak untuk mengikuti aturan yang diberikan oleh pemimpin permainan sehingga anak belajar untuk mengontrol impuls dengan menunggu instruksi yang diberikan, mematuhinya, dan akan ada saatnya mereka yang menjadi pemimpin dalam permainan. Tujuan dari permainan ini adalah agar anak dapat mengontrol perilaku impuls dan fokus untuk jangka waktu tertentu; “The Feeling Word Game”, adalah permainan kata perasaan dirancang dengan gambar-gambar dengan emosi-emosi yang berbeda-beda.

Permainan ini dirancang untuk meningkatkan kontrol diri anak-anak, memahami emosi dan prilaku implusif dan anak mampu menahan gangguan serta fokus untuk jangka waktu tertentu; dan lain-lain.  Agar proses bermain ini menjadi efektif pada anak diberikan token ekonomi dan strategi perubahan kognitif agar tujuan perilaku yang diinginkan dapat tercapai, misalnya tingkah laku yang layak atau di harapkan jika dapat di lakukan oleh anak akan diberikan stiker yang kemudian dapat ditukar dengan hadiah yang diinginkan, jika mampu mengumpulkan 5 stiker akan mendapat susu milo.

Proses terapi CBPT ini akan sangat efektif jika dilakukan secara konsisten dan terus menerus untuk mengoreksi perilaku yang diinginkan sehingga konsentrasi anak menjadi lebih baik. Hasil perilaku dari terapi akan menjadi semakin optimal jika proses belajar di sekolah dan orang tua juga terlibat mendampingi secara aktif dalam proses pengulangan dan memberi rasa aman secara emosional pada anak.

 

Referensi:

  1. American Psychiatric Association. (2005). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder(4thed).Washington, DC: American Psychiatric Association.
  2. Mulyanti,  S.  (2008). Play  Therapy  pada  Anak  ADHD.  Skripsi,  Fakultas  Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang
  3. Ray, C.  D.  (2008).  Impact  of Play  Therapy On  Parent-Child Relationship Stress  a Mental Health Training  Setting.  British  Journal  of  Guidance  &  Conselling,  4.Accessed  on Oktober  10, 2012  from http://ncyu3w.ncyu.edu.tw/files/list  gcweb/  es/volume 36.pdf.
  4. Ray,  C.  D.,  Bratton,  S.,  Rhine,  T.,  &  Jones,  L.  (2001).  The Effectiveness  of Play Therapy:Responding to The Critics. International Journal of Play therapy, 10, (1), 85-108.
  5. Reid,  S.  E,  &  Schaefer,  C.  E.  (1986). Game Play Therapeutic Use  of Chillhood  Games.Kanada: Penerbit John Wiley & Sons, Inc.

 

Penulis:

Chatarina Nila Astuti

Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment