Berani Demi Kesehatan Diri

July 16, 2021

Beragam kasus kesehatan mental menjadi suatu sorotan di beberapa tahun ke belakang. Kesehatan mental sekarang ini sering dikampanyekan dan disebarluaskan agar masyarakat lebih peduli terhadap kesehatan mental pribadi dan orang-orang disekeliling mereka. Seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental di abad ke-21 sudah lebih terbuka untuk berbagi keluh kesah dan perjuangan mereka untuk keluar dari keadaan tersebut agar menjadi suatu motivasi bagi pihak lainnya yang mengalami hal serupa. Namun, hal tersebut tidak membuat keseluruhan masyarakat menjadi lebih berpikiran terbuka terhadap gangguan kesehatan mental. Masih banyak masyarakat yang merasa malu untuk mengemukakan atau menyetujui bahwa kesehatan mental merupakan hal penting dalam kehidupan seseorang. Apalagi dengan budaya masyarakat yang kental dengan keharusan pembawaan sikap yang sempurna dihadapan orang lain. Adanya gangguan kesehatan mental menjadi suatu aib bagi keluarga karena kurangnya pengetahuan mereka terhadap apa saja yang dapat dikategorikan menjadi gangguan kesehatan mental.

Masyarakat masih memiliki gambaran bahwa gangguan kesehatan mental hanya memiliki satu definisi, yaitu gila. Gangguan mental yang ada di benak masyarakat selalu diidentikan dengan keadaan Rumah Sakit Jiwa yang ada pada film-film layar kaca yang menggambarkan keadaan kumuh, kotor, hina, dan tidak terurus. Padahal seharusnya di zaman yang terus berkembang, pengetahuan masyarakat terhadap kesehatan mental harus lebih baik dan tidak boleh ada lagi masyarakat yang menganggap gangguan mental atau gangguan jiwa sebagai suatu aib dan penghambat bagi kehidupan mereka.

Mengapa gangguan kesehatan mental begitu penting untuk diketahui?

Menurut WHO, definisi dari sehat adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental maupun sosial, tidak hanya terbebas dari penyakit atau kelemahan/cacat. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dengan jelas kita ketahui bahwa mental yang sehat merupakan syarat seseorang dikatakan sebagai orang yang sehat. Sering sekali kita tidak menyadari bahwa keadaan rohani atau mental yang sehat memiliki banyak pengaruh pada kelangsungan kehidupan kita sehari-hari.

Contoh kasus sederhananya:

“Terdapat dua orang yang bekerja pada suatu perusahaan dengan jenis jabatan yang sama dan di departemen yang sama. Sebut saja karyawan A dan karyawan B. Karyawan A merupakan orang yang peduli terhadap kesehatannya, baik secara jasmani maupun rohani. Lain halnya dengan karyawan B, Ia merupakan sosok yang paham betul dengan kesehatan fisik. Setiap harinya Ia selalu menyempatkan diri untuk pergi ke gym. Suatu ketika perusahaan mereka mendapatkan kerja sama dari seorang klien yang mengharuskan pekerjaan tersebut selesai dalam waktu dekat. Hal tersebut menyebabkan perusahan mengerahkan karyawannya untuk fokus mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk agar sesuai dengan deadline yang diberikan. Karyawan A mengerjakan pekerjaannya dengan teratur dan selalu diimbangi dengan istirahat beberapa menit dengan tidak lupa untuk tetap beribadah dan makan. Karyawan B terus menerus bekerja tanpa istirahat, dengan hanya makan jenis makanan dengan kadar kalori yang rendah karena ingin tetap mempertahankan bentuk fisiknya. Hal ini Ia lakukan karena ia tidak memiliki waktu lagi untuk pergi ke gym disebabkan pekerjaan menumpuk. Keadaan tersebut terus berlanjut sampai tiga minggu lebih. Karyawan B yang sebelumnya segar bugar menjadi sangat lesu dan pucat. Ia tidak memiliki hasrat untuk melakukan kegiatan yang sebelumnya Ia sukai, seperti pergi ke gym dan Ia kehilangan konsentrasi sehingga Ia sering melakukan kesalahan pada pekerjaannya. Karyawan A menyarankan si B untuk beristirahat sebentar, tetapi ia menolak karena ada rasa khawatir yang begitu besar apabila pekerjaannya belum selesai. Tidak berapa lama setelah itu, karyawan B tiba-tiba pingsan dan segera di bawa ke rumah sakit terdekat. Setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, dokter mengatakan bahwa si B mengalami kelelahan yang berlebih dan kekurangan gizi yang baik beberapa minggu ke belakang. Si B juga didiagnosis mengalami gangguan makan dan stress berlebih sehingga berpengaruh terhadap mood, kinerja, dan fisik dari si B.”

Dari gambaran kasus di atas, kita dapat melihat satu dari sekian banyak contoh keadaan gangguan mental atau jiwa seseorang. Walaupun kelihatannya secara fisik dia bugar, tetapi dalam dirinya sedang berkecamuk pemikiran-pemikiran dan skenario-skenario yang apabila terus menerus berlanjut maka akan berdampak pada kesehatan individu tersebut secara keseluruhan, baik fisik maupun rohani. Maka dari itu, penting sekali bagi setiap individu untuk mengenali kesehatan mental dan gangguannya.

Perlu kita tekankan bahwa kesehatan jasmani dan mental yang baik di setiap individu di Indonesia dapat berpengaruh pada perkembangan berbagai aspek di Indonesia. Seperti yang dilansir oleh CNN Indonesia menyatakan bahwa gangguan kesehatan jiwa dapat menimbulkan sederet kerugian, termasuk kerugian ekonomi yang diperkirakan mampu menguras perekonomian global hingga 16 triliun dolar Amerika antara tahun 2010 hingga 2030. Kondisi tersebut disebabkan adanya penurunan produktivitas, kesejahteraan sosial, pendidikan, dan hukum.  Oleh karena itu, dapat diartikan bahwa memang benar adanya kesehatan mental yang baik berpengaruh besar terhadap masa depan bangsa Indonesia.

Namun, masih banyak rintangan yang perlu diatasi sebagai suatu langkah untuk menekan prevalensi gangguan jiwa di Indonesia. Diantaranya:

1. Mengembalikan pengertian sebenarnya dari gangguan jiwa agar stigma negatif masyarakat terhadap gangguan jiwa dapat dihapuskan

Gangguan mental menurut ahli adalah keadaan dimana seseorang mengalami kesulitan mengenai persepsinya tentang kehidupan, hubungan dengan orang lain, dan sikapnya terhadap diri sendiri. Ada beragam jenis dari gangguan jiwa, diantaranya skizofrenia, depresi, bipolar disorder, anti sosial, anorexia, anxiety disorder, dimensia, dan masih banyak lagi. Tiap-tiap gangguan tersebut memiliki gejala spesifik, onsetnya dapat terjadi secara awal ataupun bertahun-tahun lamanya. Berdasarkan pengertian, gangguan jiwa itu beragam serta timbulnya di masing-masing orang berbeda, sesuai dengan individu dan lingkungan sekitarnya. Stress yang dianggap sepele apabila berkepanjangan akan menyebabkan depresi yang tergolong gangguan jiwa. Gangguan makan karena adanya tuntutan penampilan oleh masyarakat dapat menimbulkan stress berlebih yang nantinya mengarah pada gangguan kesehatan jiwa. Segala hal yang menganggu pikiran secara berlebih dapat mengarah pada gangguan kesehatan mental sehingga sebenarnya setiap orang pernah merasakan adanya gangguan pada kesehatan mental mereka dengan intensitas yang berbeda-beda. Maka dari itu, tidak ada tuntutan untuk harus menutupi permasalahan kesehatan mental karena mental dan jiwa juga jarus selalu dijaga serta dirawat kesehatannya. Jangan malu untuk memeriksakan diri ke psikiater karena ini demi kepentingan diri sendiri dan orang di sekitar kita. Cintailah dirimu dan prioritaskan kesehatan jasmani dan rohani.

2. Pemerintah perlu memberikan jaminan terbaik bagi kesehatan jiwa sebagai bentuk investasi yang cukup dalam mengatasi permasalahan gangguan kesehatan jiwa

Melihat negara maju, seperti Jerman yang digadang-gadang menjadi salah satu negara dengan sistem kesehatan terbaik di dunia, kesehatan mental menjadi suatu prioritas. Sarana dan prasarana yang ada berkaitan dengan pemeriksaan terhadap pasien dengan gangguan mental sangatlah lengkap. Pasien juga diberikan kemudahan dalam mendapatkan fasilitas tersebut dengan adanya jaminan kesehatan yang meng-cover mengenai kesehatan mental. Diperkirakan ada sekitar 86% penduduk di Jerman memilih public health insurance dimana kesehatan mental termasuk didalamnya. Bentuk pengobatan rawat inap dan rawat jalan berlaku dalam asuransi kesehatan tersebut. Secara umum, praktisi memiliki peran penting dalam menangani gangguan mental setiap harinya. Mereka mengidentifikasi, mendiagnosis, dan merawat pasien. Apabila pasien rawat inap membutuhkan pengobatan psikologi maka akan diberikan dua pilihan, perawatan di rumah sakit jiwa atau partial inpatient treatment, dimana pasien akan dipermudah dengan bentuk pengobatan transisi di rumah sakit dan di rumah. Cara yang dilakukan adalah, di siang hari pasien akan mendapatkan perawatan di RS, kemudian di malam harinya pasien akan diperbolehkan pulang ke rumah. Menciptakan pelayanan kesehatan, khususnya kesehatan mental butuh kerja sama dari berbagai pihak baik dari tenaga kesehatan, pasien, dan keluarga. Kita perlu mengedukasi keluarga untuk sabar dan memberikan perhatian kepada salah satu anggota keluarganya yang mengalami gangguan kesehatan mental. Integrasi dari ketiganya akan menciptakan sistem pelayanan kesehatan mental yang baik. Pemerintah memiliki peran untuk memberikan fasilitas kesehatan mental yang merata di setiap daerah di Indonesia. Kita perlu membangun pelayanan kesehatan yang dapat dijangkau oleh berbagai lapisan masayarakat.

3. Menyediakan fasilitas pelayanan terhadap permasalahan kejiwaan yang baik sehingga terhindar dari tata cara perawatan terdahulu yang memilih untuk menyiksa, memasung, dan memenjarakan orang dengan gangguan jiwa

Di Indonesia sudah banyak dibuka layanan konseling gratis, tetapi hal ini masih kurang untuk disebarluaskan. Masih banyak masyarakat yang menganggap layanan tersebut mengeluarkan tarif yang mahal. Selain itu, lebih banyak lagi masyarakat yang beranggapan bahwa konseling tidak berdampak bagi kesembuhan penderita gangguan mental. Masyarakat selalu mengambil cara mudah untuk terhindar dari beban dan tanggungan dalam merawat pasien dengan gangguan jiwa. Padahal, kesembuhan dari penyakit mental itu bukanlah kekerasan, melainkan pendekatan manusiawi untuk mampu mengetahu isi pikiran. Hal ini juga tidak dapat dilakukan secara instan, butuh waktu yang panjang untuk menormalkan ketidakstabilan dalam emosi dan jiwa. Menurut Riskesdas tahun 2013 dan 2018, terdapat 14,3% dan 14% individu yang pernah dipasung seumur hidup. Pemasungan merupakan suatu pelanggaran hak asasi manusia, yaitu mendapatkan kebebasan dan pelayanan kesehatan. Teknik pasung ini cenderung memperparah kondisi dari setiap individu yang mengalami gangguan mental. Maka dari itu, kita perlu menyebarluaskan kepada setiap lapisan masyarakat di Indonesia bahwa cara terbaik dalam pemberian perawatan pada pasien dengan gangguan jiwa adalah konsultasi ke dokter ahli sehingga penanganan akan lebih tepat.

Itulah beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi pemerintah dan masyarakat. Lakukanlah deteksi dini Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dengan cara mengetahui terlebih dahulu gejala dan kelompokkan individu berdasarkan faktor risiko (riwayat keluarga yang mengalami gangguan jiwa, adanya pencetus trauma, seperti keluarga tidak harmonis dan korban kekerasan, penderita disabilitas, dll). Sebagai masyarakat yang pintar, kita perlu memberikan aksi dengan cara:

  • Mengadvokasi dan memberikan sosialisasi kepada pemerintah dan setiap lapisan masyarakat, keluarkan suara dan ide Anda untuk mempercepat dan mempermudah aplikasi dari kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan jiwa masyarakat.
  • Mengoptimalkan peran Dinas Kesehatan dalam upaya kesehatan jiwa
  • Meningkatkan cakupan dan pelayanan kesehatan jiwa di pelayanan kesehatan
  • Membangun kemitraan, seperti organisasi profesi dan LSM yang berupaya untuk melakukan pengawasan terhadap kesehatan jiwa masyarakat
  • Edukasi kepada keluarga berkaitan upaya kesehatan jiwa
  • Menggunakan kemajuan teknologi, seperti media sosial dan media informasi lainnya untuk menyebarluaskan info terpercaya mengenai pentingnya menjaga kesehatan jiwa

Keenam hal di atas tidak bisa dicapai oleh satu pihak saja, perlu kerja sama dengan berbagai pihak. Pasien dengan gangguan mental serta keluarganya harus lebih peduli terhadap kesehatan mental mereka dengan tidak malu untuk datang ke Rumah Sakit. Cegah sebelum Menderita, Obati sebelum Memperparah. “Berani demi Kesehatan Diri”.

 

 

Oleh:

dr. Vera Otifa MPH

Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment