Siapkan Mental Kita Saat Pandemi

July 23, 2021

Pandemi COVID-19 telah menjadi suatu penyebab baru munculnya kecemasan yang sangat tinggi sampai stres berkepanjangan. Ketidakpastian akan berakhirnya masa pandemi, social distancing, isolasi mandiri, stigma masyarakat terkena Covid-19 dan diskriminasi terhadap penderita, hingga kesulitan ekonomi memiliki dampak terhadap kesehatan mental masyarakat luas. Adaptasi terhadap perubahan-perubahan kebiasaan ini menjadi suatu tantangan baru. Tidak sedikit orang-orang yang mengalami kesulitan untuk beradaptasi terhadap kondisi ini.

Bagaimana tidak, penyakit yang telah menyebabkan 1.404.542 korban jiwa di seluruh dunia hingga 26 November 2020 ini telah menimbulkan banyak kekhawatiran di kalangan masyarakat. Setiap menit, masyarakat selalu dihujani oleh berita dan informasi seputar COVID-19, baik melalui TV, media sosial, serta internet. Tidak heran jika banyak masyarakat mengalami gangguan mental seperti rasa kekhawatiran yang berlebihan di tengah pandemi COVID-19 ini. Beberapa gangguan mental yang kerap timbul, misalnya : mudah terbawa emosi, stres, cemas berlebihan, depresi, dan sebagainya. Kecemasan dan gangguan mental ini kemudian akan menimbulkan ketidakseimbangan di otak, yang pada akhirnya timbul menjadi gangguan psikis, atau disebut juga psikosomatik. Ketika seseorang mengalami gejala psikosomatik, maka ia bisa merasakan gejala seperti penyakit COVID-19, yakni merasa demam, pusing, atau sakit tenggorokan, padahal suhu tubuhnya normal.

Total kasus kematian positif Covid-19 di Indonesia menjadi 1.748.230 pasien. Jumlah pasien yang sembuh pada hari ini menjadi 1.612.239 di seluruh Indonesia. Pada hari sebelumnya, total pasien yang sembuh yakni 1.606.611 orang. Ada penambahan pasien sembuh sebanyak 5.628 orang. Kemudian, total ada 48.477 orang yang dinyatakan meninggal dunia hingga hari ini. Sementara, data kemarin sebanyak 48.305 orang meninggal dunia. Dengan demikian, jumlah pasien Covid-19 yang meninggal dunia dalam 24 jam sebanyak 172 orang. UPDATE Kasus Corona Indonesia https://covid19.go.id 18 Mei 2021: Tambah 4.185 Positif, 5.628 Sembuh, dan 172 Meninggal.

Contoh beberapa kegiatan sederhana yang bisa kita lakukan di sela-sela kegiatan setiap hari baik di rumah saat bersama keluarga atau pada saat dipekerjaan, agar kegiatan tersebut diharapkan mengurangi bahkan menghilangkan kecemasan atau stres.

  • Hidup sehat, Dalam hal ini seseorang harus bisa mengatur kedisiplinan dalam menjaga makanan gizi seimbang, istirahat cukup, olah raga teratur, selalu berpikir positif sehingga dapat meningkatkan imunitas.
  • Menyeleksi berita Covid-19, Tips pertama yang dapat dilakukan untuk memelihara kesehatan mental adalah mengurangi paparan informasi yang berlebihan soal Covid-19 yang belum diketahui kebenarannya. Sebab, informasi tersebut bisa memicu kecemasan. Apalagi banyak hoaks beredar. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika seperti dikutip  menyebut 2.927 hoaks soal Covid-19 hingga 12 Mei 2021.
  • Menjaga interaksi sosial dengan teman dan keluarga, Menjaga interaksi sosial dengan keluarga maupun teman bisa menjaga kegembiraan. Berbagi cerita dengan keluarga maupun teman bisa mengurangi ketegangan yang menghinggap saat pandemi. Anda bisa memanfaatkan teknologi seperti Zoom, Google Hangout, atau video WhatsApp call untuk berinteraksi dengan kerabat tanpa meningkatkan resiko terpapar Covid-19.
  • Menyibukkan diri untuk kegiatan positif, Kegiatan-kegiatan tersebut bisa membuat Anda rileks dan lepas dari tekanan. Kegiatan fisik bisa mengurangi kecemasan dan memicu suasana hati yang menyenangkan dengan melepaskan hormon endorphin. Misal bermain musik, olah raga, berkebun, bersepeda, bagi umat muslim membaca al qur’an.
  • Jangan takut mencari pertolongan, Bagaimana respon seseorang terhadap stres selama pandemi dipengaruhi oleh latar belakang, dukungan sosial dari keluarga dan kerabat, komunitas, dan banyak faktor lainnya. Apabila stres dan kecemasan yang terasa selama masa pandemi dirasakan terlalu berat, hubungi profesional (psikolog atau psikiater) untuk konsultasi lebih lanjut mengenai cara mengatasinya.

Selain menjaga kesehatan mental diri sendiri, kita juga perlu turut berperan dalam menjaga kesehatan mental orang-orang di sekitar kita. Pada masa pandemi, empati dan kepedulian terhadap sesama perlu kita tingkatkan. Rasa takut dan cemas memang wajar dirasakan, namun jangan membuat rasa takut kita menjadi alasan munculnya masalah kesehatan mental pada orang lain. Hentikan stigma pada pasien, penyintas, maupun petugas kesehatan yang menangani COVID-19 karena diperlukan partisipasi semua orang untuk saling menjaga kesehatan fisik maupun mental agar pandemi COVID-19 ini dapat berlalu.

 

 

Oleh:

Dr. Budi Riyanto, MM

Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment