Tetap Tangguh Dikala Didiagnosa Menderita Penyakit Terminal

September 10, 2021

Tidak ada seorangpun yang siap dalam kondisi mendapat kabar terdiagnosa  penyakit yang dianggap terminal. Penyakit terminal adalah penyakit yang membuat  kehidupan kita menjadi terbatas. Penyakit yang tingkat kesembuhannya tidak dapat ditentukan dan dalam jangka waktu dekat akan berujung pada kematian, walaupun sudah dilakukan upaya pengobatan. Tidak ada batasan jelas mengenai batas harapan hidup pasien dengan penyakit terminal. Terdapat beberapa literatur yang menyampaikan batasan waktu penyakit terminal yakni “24 bulan atau kurang”, “12 bulan atau kurang”, “9 bulan atau kurang”, “6 bulan atau kurang”, “hari hingga minggu”, “segera”, “dalam waktu dekat” hingga “prognosis yang tidak menguntungkan.” Adapun penyakit yang dapat menjadi penyakit terminal, yaitu : kanker, dementia, alzheimer, penyakit motor neuron, penyakit syaraf, penyakit paru, dan penyakit jantung serius.  Pada saat dokter menyampaikan kabar buruk terkait dengan hasil pemeriksaan kesehatan kita yang berdampak serius mengubah pandangan masa depan kita terhadap pikiran, perasaan, sosial spiritual, dll, Diagnosa yang diberikan dokter akan kita anggap sebagai vonis yang menghantap kondisi mental psikologis kita, serasa ada sisi kehidupan kita yang hilang yantg tidak dapat kita hindari. Proses  mengelola kondisi psikologis kehilangan diri kita saat menghadapi penyakit terminal ini secara sederhana dapat digambarkan sama dengan proses berduka dari Kubler dan Ross.

Menurut Kubler dan Ross (2009) terdapat 5 tahap proses yang kita lalui saat mendapatkan kabar buruk terhadap hasil pemeriksaan fisik kita. Lima tahap tersebut adalah denial, anger, bargaining, depression, dan acceptance. Tahap pertama denial diartikan sebagai penyangkalan/penolakan terhadap diagnosa yang telah diampaikan dokter kepada kita. Pada tahap ini, terdapat rasa tidak percaya pada realita bahwa seseorang/suatu hal yang sangat berarti yaitu kehidupan normal keseharian kita tidak akan bisa kita lakukan  seperti biasanya dalam jangka waktu yang lama karena penurunan-penurunan fisik akibat proses pengobatan yang menyakitkan, banyak dan lama. Pada tahap ini respon kita biasanya kita menolak realita tersebut tidak mungkin terjadi pada kita, menangis tersedu-sedu, bahkan merasa hampa sehingga tidak bisa menangis adalah beberapa bentuk respon wajar atas rasa tidak percaya terhadap diagnose penyakit terminal yang kita alami. Berbagai respon tersebut adalah usaha kita untuk mengurangi rasa sakit/perasaan negatif yang kita alami setelah kehilangan.

Selanjutnya, perasaan marah akan hadir setelah kita memahami bahwa memang saat ini diagnosa yang diberikan dokter memang benar-benar terjadi pada kita. Adanya perasaan marah tersebut menandakan bahwa proses berduka akan rasa sakit yang kita miliki telah memasuki tahap kedua yaitu anger. Pada tahap ini, kita bisa saja mengekspresikan marah atau menyalahkan orang/hal lain di luar diri kita, seperti anggota keluarga lain, teman/sahabat, pemberi layanan kesehatan, bahkan Tuhan. Hal tersebut terjadi karena kita merasa bahwa realita perisitwa kehilangan tidak sesuai dengan apa yang seharusnya terjadi yang sesuai dengan harapan kita.

Tahap ketiga, bargaining yang diartikan sebagai fase tawar-menawar dimana kita akan menawar realita untuk mendapatkan lebih banyak waktu sehingga dapat menghindari peristiwa berduka karena penyakit terminal kita. Berandai-andai adalah bentuk respon dari penawaran realita tersebut. Selanjutnya, kita akan menyadari bahwa tawar-menawar tidak akan merubah realita sehingga perasaan sedih yang mendalam pun tidak dapat terhindarkan. Perasaan sedih yang mendalam tersebut seperti terasa akan berlangsung untuk selamanya. Saat inilah, mungkin kita perlahan-lahan menarik diri dari lingkungan sosial, tidak bersemangat menjalani kehidupan, merasa bingung dan cemas bagaimana akan melanjutkan hidup. Proses ini sudah memasuki tahap keempat, yaitu tahap depression.

Kemudian tahap terakhir adalah tahap acceptance yang diartikan sebagai tahap dimana kita sudah menerima bahwa penyakit tersebut memang bagian dari kehidupan yang harus kita jalani dan lalui,sehingga, kita tersadar bahwa kita perlu menjalani proses pengobatan dan membutuhkan dukungan dari   banyak aspek untuk proses kesembuhan. Mengambil pelajaran.makna, mencari jalan keluar/solusi, bahkan belajar untuk menata hidup kita kembali akan kita lakukan secara perlahan pada tahap terakhir ini.

Kelima tahapan proses penyesuaian psikologis ini akan dilalui secara berbeda antara individu satu dengan individu lain dan tidak harus dilalui secara berurutan.  Hal ini dikarenakan setiap individu pasti memiliki cerita dan kondisi psikologis yang berbeda, sehingga perbedaan tersebut akan mempengaruhi jangka waktu, cara hingga proses berduka akibat dari penerimaan terhadap penyakit terminal yang dirasakannya,  Field dan Filanosky (2009) lebih lanjut menjelaskan bahwa proses berduka akibat penyakit terminal ini dipengaruhi oleh faktor yang meliputi budaya, keyakinan sebuah keluarga mengenai kehilangan dan cara mengekspresikannya, sumber dukungan sosial yang tersedia, pengalaman sebelumnya mengenai kematian, dan peristiwa saat mengalami kematian orang terdekat. Oleh karena itu, tidak ada cara yang benar maupun salah dan timeline tertentu untuk berduka.

Apa saja yang dapat kita lakukan untuk dapat bertahan dalam situasi yang dianggap tidak mudah ini ?

  • Ketika mendapat vonis penyakit terminal, carilah informasi seakurat mungkin dari dokter tentang proses pengobatan yang akan dijalani dan bagaimana penanganan terbaik dari penyakit yang dirasakan
  • Pelajari prosedur admistrasi proses pengobatan rumah sakit yang akan menjadi tenpat pengobatan tetap
  • Patuhlah pada pengobatan medis yang sudah direncanakan bersama dokter Anda. dan diskusikanlah dengan dokter And jika Anda juga menginginkan pengobatan alternatif
  • Mintalah bantuan psikolog agar kesehatan mental Anda tetap terjaga. Penting bagi Anda untuk melewati proses tidak menyalahkan diri akibat penyakit terminal yang dijalani, proses memaafkan, terbuka tentang kecemasan akan menghadapi kematian, mengali potensi yang masih dapat dilakukan hingga membuat prioritas kegiatan yang akan anda lakukan
  • Mintalah bantuan pada anggota keluarga atau orang yang Anda anggap dekat untuk membantu Anda terhadap kesulitan harian yang Anda hadapi
  • Terhubunglah dengan komunitas yang sama dengan penyakit yang Anda alami sehingga Anda merasa tidak sendiri dalam menghadapi penyakit Anda
  • Tetaplah selalu mempertahankan pemikiran positif dengan pasrah dan bersyukur kepada Tuhan terhadap kehidupan yang telah Anda jalani saat ini dan disini

Dalam proses menjalani penyakit terminal Anda mungkin Anda pernah mendengar pepatah ini “setiap detik dalam hidup adalah perjalanan, setiap perjalanan adalah pelajaran”. Ya pepatah ini mengatakan sesulit apapun kehidupan yang Anda rasakan nikmatilah sebagi pelajaran berharga, rasa syukur dan pelajaran baru yang harus Anda hadapi dengan semangat dalam keterbatasan yang sedang Anda hadapi.

 

 

Oleh:

Dra. Sri Wahyu Andayani, Psikolog

Posted in Artikel by AdminRSJ

Leave a Comment